Arisan, Judi Bukan Ya?

Add Comment

Masih dalam rangka Collaborative Bloging dan kali ini temanya seputar arisan. Tulisan Mak Irawati Hamid ini cukup menarik untuk kita kupas, sampai pada pertanyaan penting nggak sich ikut arisan? Kalau dibilang penting, buat saya penting bangeeet. Arisan jadi salah satu sarana untuk silaturami keluarga, juga jalan untuk menjalin komunikasi dengan sahabat, dan yang tak kalah penting bisa menambah uang belanja kalau nama kita keluar saat dikocok!

Saat ini, arisan seolah menjadi tradisi di masyarakat, dan sudah lama dilakukan, mungkin sebelum saya lahir sudah ada kali ya? yang jelas, sekarang arisan mengalami perkembangan, mulai dari arisan uang, barang, panci, buku, ah lieur kata orang sunda mah. Biasanya, arisan uang yang paling diminati karena simple alias gak ribet. Kita tinggal dateng, kumpul-kumpul sambil cemal cemil diiringi tausiyah, kocok lalu bubar. Itu yang standarnya, di luar kebiasaan ada yang arisannya minta duluan, atau nominalnya lebih besar dari peserta arisan lainnya, wis pokokne arisan sekarang makin variatif seolah mengikuti perkembangan zaman.

Bolehkah Ikut Arisan?

Lantas, bagaimanakah hukumnya ikut arisan? boleh ndak ya? atau sama dengan berjudi karena ada kocokannya? mari kita kupas bersama. Menurut pendapat Syeikh Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin yang nota bene seorang ulama besar dan direfer banyak kalangan, arisan dihukumi sebagai hukum Qardh atau pinjaman. Beliau menyatakan bahwa hakikat arisan adalah masing-masing anggota memberikan pinjaman dan juga mendapat pinjaman. Adapun menurut Imam Hanafi, Qardh suatu perjanjian yang khusus untuk menyerahkan harta (mal mitsil) kepada orang lain untuk kemudian dikembalikan persis seperti yang diterimanya. Landasan hukumnya, atau biasa disebut dalilnya adalah seperti yang dinyatakan dalam hadits dari Ibnu Mas'ud  bahwa Nabi SAW, bersabda, “tidak ada seorang muslim yang menukarkan kepada seorang muslim qarad dua kali, maka seperti sedekah sekali.” (HR. Ibn Majah dan Ibn Hibban). 

Tips Ikut Arisan

Pertama, lihat dulu berapa nominal uang arisannya sesuai nggak dengan kocek kita. Kalau sebulan sampai puluhan juta rupiah, saya mah nyerah.

Kedua, pastikan bahwa peserta dan pengelola arisan adalah orang yang benar-benar sudah kita kenal. Jangan yang masih asing alias baru saja kita kenal, alih-alih dapat arisan yang ada uang kita malah melayang kalau ternyata pengelolanya berniat buruk.

Ketiga, arisan bisa dijadikan cara untuk mempererat tali silaturami antar keluarga. Jadi, musti semangat kalau diajak ikut arisan oleh keluarga dekat kita. Selain berpahala, jadi jalan tambahan rejeki juga bukan?

Keempat, arisan berbentuk uang karena arisan disamakan dengan akad pinjaman, maka seperti orang yang meminja uang ya harus dikembalikan dengan uang pula. Jika sudah terlanjur ikut arisan barang semisal buku, ambil uangnya dulu lalu beli barangnya, InsyaAllah aman.

Kelima, niatkan arisan ini untuk ibadah. Kalau diadakan oleh keluarga maka akan menambah pahala silaturahmi, dan jika dilakukan oleh teman-teman semisal ibu-ibu walimurid sekolah anak kita, atau girls gank di sekolah kita dulu, akan mempererat persaudaraan diantara kita bukan?...yuuk ah, ikut arisan.




Pemilu dan Silaturahmi

Add Comment

Merespon tulisannya mak Adriana dan masih dalam rangka collaborative blogging,  tentang hal-hal apa saja yang harus dihindari dalam pemilihan umum, maka versi saya adalah a big NO alias satu hal yang tidak boleh terjadi dalam sebuah pemilihan umum, apakah itu? retaknya persaudaraan! terutama putusnya tali silaturahmi keluarga. 

Seperti yang sudah kita rasakan beberapa bulan belakangan, dunia maya khususnya menjadi begitu panas dan tak mengasyikan. Saling nyinyir, sikut bahkan adu status kerap menghiasi beranda facebook kita. Saya juga termasuk siy yang suka share tulisan-tulisan terkait pemilu, terutama pilkada Jakarta. Tapi masih dalam tataran informasi yang bisa dipertanggungjawabkan, dan tetap fair jika ada teman facebook yang berbeda pemahaman dengan yang saya adopsi. Paling banter, unfollow.


Bijak Menyikapi

Berbedanya setiap isi kepala sebenarnya hal biasa, namun  jika kita kembalikan lagi pada landasan agama, niscaya akan menuju pada muara yang sama. Untuk saat ini, sikap yang paling bijak adalah saling menghargai, mengedepankan diskusi untuk mencari kebenaran, bukan pembenaran apalagi debat kusir. Bagus jika saling menghargai tiap keputusan, dan celaka jika saling bermusuhan. Apalagi sampai terjadi pemutusan hubungan pertemanan, parahnya lagi tali silaturahmi. Maka di sinilah kita harus bijak menyikapi terhadap perbedaan yang ada. Namun bukan berarti apatis alias elu elu gue gue, tetap upayakan diskusi yang sehat dalam rangka mengingatkan pada kebaikan dan takwa, jika tak jua sama pasrahkan pada Sang Pembolak Balik Hati untuk hasil akhirnya, yang penting tetap mengedepankan silaturahmi terutama jika urusan pemilu sudah masuk dalam ranah keluarga.

Miris rasanya jika dalam satu keluarga tak saling tegur sapa, karena punya pilihan yang berbeda, atau blok-blokan saat arisan karena beda jagoan. Ayolah, bentar lagi puasa dan kita masih sibuk mengotori hati untuk perkara yang belum pasti. Keputusan apapun yang dipilih, semuanya akan dipertanggungjawabkan, makanya dalam bersikap hindari hanya sekadar ikut-ikutan, pun ketika memilih untuk tidak memilih.

Jangan Korbankan Silaturahmi

Pemilu sering dihubung-hubungkan dengan silaturahmi, dalam satu keluarga kadang saling diam dan berujung pada putusnya tali silaturahmi. Padahal, silaturahmi yang merupakan hubungan yang terjadi antar orang yang memiliki ikatan kekerabatan, diwajibkan oleh agama untuk dijaga ikatannya. Bahkan, ada ancaman keras bagi siapa saja yang memutus tali silaturahmi ini . Sebagaimana dinyatakan dalam hadits Nabi SAW: "Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi" (HR al-Bukhari dan Muslim)Hadis ini bermakna larangan. Qarinah tidak masuk surga menunjukkan larangan itu bersifat tegas. Dengan demikian memutus silaturahmi hukumnya haram. Maka, cobalah untuk mendudukan perkara pada tempatnya, perbedaan sikap dalam pemilu ini sejatinya membuat kita semakin bijak, mengajak dalam rangka taat dan tak menyerah dalam mengajak debat yang sehat.



Masih Tentang Rohingya

Add Comment

“Anak-anak dibakar di depan ibunya” demikian judul berita di sebuah mediaonline yang saya baca pagi ini. Baiklah, mungkin datanya kurang valid, tapi bagaimana jika berita itu ditulis oleh beberapa media masa yang terverifikasi semisal Republika, atau media lokal di sana yang melihat faktanya secara langsung mengenai apa yang sesungguhnya terjadi? Bahwa saat ini muslim Rohingya tengah ditindas, bahwa ini dilakukan oleh teroris karena melakukan teror terutama kepada wanita dan anak-anak. Ups, saya lupa bahwa teroris hanya lekat dengan Islam, meski seringkali tak terbukti bahwa umat Islam pelakunya, pokoknya yowis Islam teroris yang lain bukan!
Rohingya…adalah kelompok muslim minoritas yang kurang seksi untuk dipublikasikan media internasional, saat ini mereka kembali mengalami intimidasi dan banyak yang meregang nyawa. Setidaknya 60 warga yang kebanyakan perempuan dan anak-anak tewas dengan kondisi yang menenaskan, mereka terbakar (baca:dibakar) oleh militer Myanmar dengan dalih memerangi muslim radikal yang nyatanya tak terbukti hingga saat ini. Bagaimana bisa disebut radikal, kalau untuk melindungi diri saja mereka sudah tidak sanggup. Benar-benar tuduhan yang mengada-ada. Saya jadi teringat empat tahun lalu, dimana Allah mempertemukan langsung dengan muslim Rohingya yang berhasil mendapatkan suaka ke Amerika. Tidak mudah, karena perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan. Begini kurang lebih ceritanya.
Berawal dari rekan saya yang kebetulan tinggal satu komplek, dan suaminya pengurus Masjid di Logan, ia mendapat kabar bahwa ada sekitar tiga puluh keluarga asal Myanmar (kami menyebutnya sister dan brother dari Birma) yang ternyata sudah dua tahun mendiami perumahan di kota Logan. Logan merupakan kota kecil yang masuk dalam wilayah negara bagian Utah, dengan Salt Lake City sebagai ibu kotanya.
Siang itu sebelum berangkat ke perumahan, beberapa pengurus Masjid berkumpul untuk mensortir makanan dan perlengkapan rumah yang layak pakai. Semua barang yang terkumpul merupakan sumbangan dari brother dan sister yang tinggal di Logan. Saya bersyukur, kepedulian sesama muslim cukup tinggi di kota ini, yang terpenting jangan bosan untuk saling menyapa, mengingatkan dan berbagi pengumuman jika salah satu keluarga ada yang membutuhkan bantuan.
Tibalah kami di perumahan yang dituju, Masya Allah!, saya seperti sedang berada di Asia Tenggara. Wajah-wajah Asia yang tidak asing bagi saya, dengan ramah namun menyiratkan tanda tanya, menyambut kami saat berada di depan komplek. Sayangnya, kebanyakan dari orang tua dan dewasanya tidak bisa berbahasa Inggris, namun Alhamdulillah ada anak-anak asal Birma ini yang sudah mahir berbahasa Inggris. Mereka pun menjadi guide kami selama kunjungan, dari satu rumah ke rumah yang lain.
Rumah yang saya kunjungi pertama kali memiliki tiga atau empat orang anak, dari semua anggota keluarga, hanya satu yang bisa bahasa Inggris. Seorang gadis manis, berperawakan kurus dengan lancar menjadi mediator antara kami dengan keluarganya. “Sudah lama di sini?, tanya salah satu pengurus Masjid, “Dua tahun”. Lalu dengan lancar, gadis manis ini bercerita bagaimana pengalamannya sampai ke sini. Konflik antar etnis yang berakibat pada pengusiran ribuan muslim Rohingya, telah terjadi berpuluh-puluh tahun lalu. Rumah yang di bakar, banyaknya keluarga yang mengungsi merupakan hal ‘biasa’ yang di alami keluarga gadis ini, dan akhirnya mereka pergi mengusngsi ke Thailand dan dari Thailand-lah mereka sampai ke Amerika.
Sungguh, mendapati kisah demikian dibarengi dengan kenyataan, bahwa hingga saat ini muslim Rohingya mengalami penderitaan yang tak ada habisnya, membuat hati saya bergetar, dan ingin rasanya memberikan dekapan erat pada gadis manis itu. Ditambah, hadirnya beberapa perempuan yang berusia lanjut, membawa saya pada konflik yang terjadi di Myanmar(Birma), yang masih terjadi hingga hari ini.
Siapa Muslim Rohingya sebenarnya?
Presentase muslim Rohingya sebesar dua pulu persen dari lima puluh lima juta penduduk Birma. Mereka merupakan penduduk asli di provinsi Arakan dan menjadi warga mayoritas di sana. Provinsi Arakan merupakan bagian dari negeri Islam pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid, pada abad ke-7 Masehi, dari provinsi Arakan inilah, Islam menyebar ke seluruh penjuru Birma.Raja Birma yang beragama Budha lalu menduduki Arakan, dan dari sinilah petaka terjadi. Muslim Rohingya banyak yang di kirim ke penjara, dibunuh, harta bendanya dihancurkan, yang berakibat pada banyaknya korban jiwa yang berjatuhan dan tidak sedikit dari mereka yang mengungsi.
Pada tahun 1937 Inggris menduduki provinsi Arakan dengan kekerasan dan menggabungkannya ke Birma, Inggris mempersenjatai Raja dan umat Budha, dan terjadilah pertikaian hingga kini. Penguasa militer semakin memperparah keadaan, harusnya menjadi penengah, malah mendiamkan ketika terjadi pertikaian antara muslim Rohingya dengan penduduk yang beragama Budha. Bahkan belakangan,pernyataan terbaru Presiden Myanmar Thein Sein bahwa Rohingya harus tinggal di negara ketiga semakin mebuat posisi muslim Rohingya terpojokkan dan semakin menambah kesedihan. Berharap pada Bagladesh juga mustahil mengingat pemerintah Bangladesh berencana memulangkan para pengungsi, apalagi berharap pada tokoh demokrasi, Suu Kyi. Bukannya membela dan mengambil sikap, malah terkesan dingin dan berlepas tangan.
Saya jadi ingat firman Allah dalam Qur’an Surat Al-Anfal yang mengatakan:” (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan“, dari sini saya mengajak kepada pembaca sekalian, mari kita bantu saudara-saudara kita, muslim Rohingya yang saat ini tengah menderita ketakutan, kekurangan dan kelaparan. Perhatian, materi, atau apapun yang bisa meringankan beban derita mereka, InsyaAllah akan menjadi penyejuk dipadang yang tandus. Namun saya tak lupa menyampaikan, bahwa bantuan dan perhatian tadi sejatinya bersifat sementara. Hanya pemimpin seperti Khalifah Harun Al-Rasyid lah yang mampu menyelamatkan muslim rohingya, dan muslim di negeri-negeri Islam yang saat ini tengah dilanda peperangan, penderitaan dan kelaparan. Doa, perhatian, berapapun rupiah yang kita punya, dan tetap berjuang mengembalikan kejayaan Islam, adalah langkah real yang bisa dilakukan, mari kita mulai sekarang!