Selektif Memilih Grup WhatsApp


Grup Whatsap kok musti diseleksi sich? Buat saya, itu hal wajib sebelum memutuskan minta gabung atau mengiyakan ketika diajak gabung. Merespon tulisannya Mak Adelina yang membahas lengkap soal grup Whatsap ini, jadi makin menguatkan saya untuk selektif bergabung di sebuah grup. Alasannya selain menjaga stabilitas handphone saya yang gampang nge-hang, kebanyakan grup membuat saya larut hingga lupa dunia nyata. 

Lantas, grup seperti apa yang membuat saya bertahan untuk tetap berada di dalamnya? Pertama, grup wali murid sekolah anak, ini penting karena banyak sekali informasi yang bisa kita dapat. Ditambah, kita bisa saling kenal antar sesama orang tua murid, tahu kabar satu sama lain dan bisa sharing mengenai perkembangan anak di kelas. Grup kedua adalah grup keluarga, entah itu keluarga besar dari bapak, maupun keluarga besar ibu. Tak lupa, keluarga besar saya yang di dalamnya ada bapak, ibu dan saudara-saudara kandung, padahal rumah kami berdekatan tapi terasa sangat besar manfaatnya ketika kami suatu saat saling berjauhan, atau satu dari kami sedang melakukan perjalanan. Ketiga adalah grup komunitas, misalnya komunitas menulis yang sifatnya sementara atau seperti yang digagas Emak-emak Blogger dengan Collaborative Bloggingnya, atau grup Khataman Al-Qur'an, keywordnya adalah ada ilmu yang bisa saya peroleh dari grup komunitas ini. Keempat adalah grup yang bersifat sementara semisal grup kepanitian seminar parenting, kepanitiaan kenaikan kelas sekolah, pokoknya yang sifatnya temporal dan akan dihapus jika acaranya sudah selesai. 

Sedangkan grup yang membuat saya tidak betah, ternyata banyak juga. Diantaranya adalah grup yang bikin handphone saya sering hang dan cepat panas, penyebabnya karena banyaknya notif hingga ribuan dalam hitungan menit. Kalau sudah begini, saya pamit dan mundur teratur. Grup lainnya adalah grup alumni yang isi bahasannya gak penting, bahkan cenderung membangkitkan masa lalu semisal CLBK. Bukan apa-apa, bagi mereka yang sudah menikah ini akan menjadi sumber petaka jika kita tak pandai untuk menempatkan diri, coba saja kita tanyakan pada diri sendiri jika tetiba sang 'mantan' atau jaman SMA orang yang kita kagumi tiba-tiba menyapa di personal roomchat, kalopun gak sampe deg-degan, minimal keringetan kan? 

Grup lain yang sudah pasti saya tinggalkan adalah grup jualan, maaf-maaf niy yaa. Bukan apa-apa, saya termasuk yang gampang tergoda dengan barang- barang semisal kerudung, gamis, panci dan lainnya. Daripada tak kuat menanggung beban syahwat, lebih baik tutup mata lalu pamit sambil mengusap air mata tanda tak rela. 

Nah, itu sekelumit kisah mengenai dunia per-WhatsApp an yang saya alami beberapa tahun terakhir ini. Yup, teknologi yang semakin canggih bagai pisau bermata dua, kalau kita tak pandai-pandai menjaga, tentu akan binasa. Semoga kita semakin bijaksana, karena kita sudah emak-emak yang tak lagi muda.






Share this :

Previous
Next Post »
8 Komentar
avatar

Join di grup wa yang mendatangkan manfaatnya ya mak

Balas
avatar

Bener banget Mak, musti dan kudu itu..hehe

Balas
avatar

Xixixi..ngga suka dg grup jualan ya Mak? Saya juga kurang suka yg suka nyepam dengan dagangan..padahal itu ada di grup sekolah misalnya..

Balas
avatar

harusnya dibuat peraturan sih di setiap grup, jadi membuat semua anggotanya betah dan nyaman :)

Balas
avatar

iyaa, bikin hati perih karena cuma bisa memandangi dagangan2 kecehnya Mak, hehe

Balas
avatar

iyaaa, kadang main add aje, udahannya arah obrolannya nggak jelas,hiks

Balas
avatar

Tidak semua grup antara wali murid dan guru bisa bermanfaat,namanya wali murid kadang ada yg diem ada juga yg kritis,jika sok kritis,seakan tidak mau tahu posisi guru itu bagaimana,alhasil guru akan terlihat selalu salah & malah menjatuhkan tugas guru,padahal terkadang guru sudah berjuang mati"an demi anak didiknya.. kasian tu guru..

Balas
avatar

hehehe, bu gurunya musti sabar ya mbak. Kepala tiap ornag beda2, tapi dinamika grup memang demikian adanya, terima kasih sudah berkunjung ya..

Balas

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔