Menghapus Jejak Digital, Perlukah?

Add Comment

Tulisan kali ini, masih dalam rangkaian Collaborative Blogging yang mengangkat topik seputar dunia digital, dan dishare di web Emak2 Blogger dengan judul Menghapus Jejak Digital, Seberapa Pentingkah?. Kebetulan tema ini sangat pas dengan apa yang baru-baru ini saya alami. Ceritanya begini...

Sabtu adalah jadwal anak-anak, khususnya si sulung Olil bermain laptop, well, tepatnya main game online. Game yang biasa dia mainkan selalu update di YouTube, jadilah tiap mo main game dia selalu nonton YouTube dulu. Buka YouTube berarti buka home dulu dong ya, fatalnya saya lupa delete hasil searchingan semalam, gak neko-neko siy, cuma tayangan ulang perdebatan tentang bahaya pornografi, namun saya lupa menyeting restricted mode untuk dinyalakan.

Yasudah, akhirnya munculah gambar-gambar yang linked dengan tema seputar pornografi. Tidak ada yang seram siy, cuma tetap saja meski judulnya berita namun thumbnailnya ya ada unsur pornonya juga. 

Sejak itu, tiap kali selesai browsing berita kekinian, bahkan update Facebook sekalipun, selalu saya delete history di laptop maupun di HP. Segitunya ya? Biarin dech, yang penting anak tidak terpapar konten negatif yang belum waktunya dia tahu, atau kepo dengan beranda Facebook kita yang isinya kadang perlu penjelasan ketika yang lihat adalah anak yang masuk usia tamyiz, alias usia kritis saat anak sudah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

jadi, kalau ditanya perlukah kita menghapus jejak digital? Perluuu...kalau kita bicara soal konten dan dampaknya ke anak-anak. Lantas, untuk history di akun-akun medsos semisal Facebook dan instagram, gimana? Kalo saya, ndak perlu, dengan syarat anak-anak tidak ada izin untuk mengakses akun-akun medsos kita. 

Plus, rajin-rajin logout setelah login di PC maupun via HP kalau saya, kenapa? Ngeri aja kalau-kalau tiba2 laptop dan HP saya dicuri, tapi semoga nggak, Naudzubillah Min dzalika kalo sampai beneran kecurian. He he..Parno banget ya kesannya. Yawdah, biar tidak parno beberapa tips berikut bisa dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

1. Sebelum mengizinkan anak mengakses gadget, cek dulu histornya. Kalau sudah aman baru kita persilakan.

2. Tetap dampingi anak, minimal cek sambil lalu namun tetap diawasi. Tapi jangan terus-terusan juga ngawasinya, nanti anak jadi merasa tidak dihargai, terutama dari sisi kepercayaan kita terhadapnya.

3. Rajin ganti password,meski jangan keseringan juga nanti malah lupa pasword sendiri.

4. Luruskan niat, bahwa jejak digital yang kita hapus memang untuk kebaikan, bukan cheating dari suami, sehabis stalking akun orang, terutama lawan jenis yang kita tak punya kepentingan. Jaman sekarang, dunia digital seperti pisau bermata dua, semoga kita semakin bijak menggunakannya.



Selektif Memilih Grup WhatsApp

8 Comments

Grup Whatsap kok musti diseleksi sich? Buat saya, itu hal wajib sebelum memutuskan minta gabung atau mengiyakan ketika diajak gabung. Merespon tulisannya Mak Adelina yang membahas lengkap soal grup Whatsap ini, jadi makin menguatkan saya untuk selektif bergabung di sebuah grup. Alasannya selain menjaga stabilitas handphone saya yang gampang nge-hang, kebanyakan grup membuat saya larut hingga lupa dunia nyata. 

Lantas, grup seperti apa yang membuat saya bertahan untuk tetap berada di dalamnya? Pertama, grup wali murid sekolah anak, ini penting karena banyak sekali informasi yang bisa kita dapat. Ditambah, kita bisa saling kenal antar sesama orang tua murid, tahu kabar satu sama lain dan bisa sharing mengenai perkembangan anak di kelas. Grup kedua adalah grup keluarga, entah itu keluarga besar dari bapak, maupun keluarga besar ibu. Tak lupa, keluarga besar saya yang di dalamnya ada bapak, ibu dan saudara-saudara kandung, padahal rumah kami berdekatan tapi terasa sangat besar manfaatnya ketika kami suatu saat saling berjauhan, atau satu dari kami sedang melakukan perjalanan. Ketiga adalah grup komunitas, misalnya komunitas menulis yang sifatnya sementara atau seperti yang digagas Emak-emak Blogger dengan Collaborative Bloggingnya, atau grup Khataman Al-Qur'an, keywordnya adalah ada ilmu yang bisa saya peroleh dari grup komunitas ini. Keempat adalah grup yang bersifat sementara semisal grup kepanitian seminar parenting, kepanitiaan kenaikan kelas sekolah, pokoknya yang sifatnya temporal dan akan dihapus jika acaranya sudah selesai. 

Sedangkan grup yang membuat saya tidak betah, ternyata banyak juga. Diantaranya adalah grup yang bikin handphone saya sering hang dan cepat panas, penyebabnya karena banyaknya notif hingga ribuan dalam hitungan menit. Kalau sudah begini, saya pamit dan mundur teratur. Grup lainnya adalah grup alumni yang isi bahasannya gak penting, bahkan cenderung membangkitkan masa lalu semisal CLBK. Bukan apa-apa, bagi mereka yang sudah menikah ini akan menjadi sumber petaka jika kita tak pandai untuk menempatkan diri, coba saja kita tanyakan pada diri sendiri jika tetiba sang 'mantan' atau jaman SMA orang yang kita kagumi tiba-tiba menyapa di personal roomchat, kalopun gak sampe deg-degan, minimal keringetan kan? 

Grup lain yang sudah pasti saya tinggalkan adalah grup jualan, maaf-maaf niy yaa. Bukan apa-apa, saya termasuk yang gampang tergoda dengan barang- barang semisal kerudung, gamis, panci dan lainnya. Daripada tak kuat menanggung beban syahwat, lebih baik tutup mata lalu pamit sambil mengusap air mata tanda tak rela. 

Nah, itu sekelumit kisah mengenai dunia per-WhatsApp an yang saya alami beberapa tahun terakhir ini. Yup, teknologi yang semakin canggih bagai pisau bermata dua, kalau kita tak pandai-pandai menjaga, tentu akan binasa. Semoga kita semakin bijaksana, karena kita sudah emak-emak yang tak lagi muda.