Menyusui Ketika Suami Jauh

sumber gambar:https://www.retailpharmacymagazine.com.au/event/world-breastfeeding-week/


World Breastfeeding Week memang sudah berlalu, namun gaungnya masih dirasakan para ibu, termasuk saya. Pengalaman paling berkesan saya rasakan ketika menyusui anak kedua, perjuangannya benar-benar menguras emosi, tenaga, pikiran dan air mata. Oya, ini adalah colaborative blogging bertema ASI merespon tulisan keren Mak Istiana Sutanti, salah satu admin Komunitas Emak-Emak Blogger, berjudul ASI dan Perkembangan Media Sosial.

Jadi ceritanya, dulu saat hamil anak kedua  saya dan suami memutuskan untuk LDR sementara. Suami stay di perantauan sementara saya memilih pulang padahal saat itu usia kandungan memasuki enam bulan. Alasan utamanya karena saya ingin lahiran di Indonesia, dekat dengan keluarga dan baby inside tidak perlu dipusingkan dengan masalah kewarganegaraan.

Keputusan yang kami ambil saat itu memang gak mudah. Banyak yang menyayangkan, bahkan dokter kandungan di sana menahan saya untuk pulang. Bahkan tetangga asal Timur Tengah menganggap keputusan kami tak masuk akal, disaat justru banyak yang ingin lahiran di Amrik, bahkan sepupunya sendiri sengaja terbang ke negeri paman Sam ketika hamil 7 bulan, dan baru kembali ke negaranya setelah dua bulan melahirkan, demi apa coba? Kewarganegaraan!

Tapi entah kenapa, saya tidak berminat. Semakin ditahan justru kerinduan akan kampung halaman semakin membuncah, akhirnya bela belain terbang selama 17 jam di udara, berdua saja dengan si sulung dan rela kaki menjadi bengkak hingga lahiran.


Saat akhirnya baby Issam lahir ke dunia, tanpa suami di sisi ternyata menjadi sangat berat. Sebulan disepanjang malam, saya harus bisa meyakinkan diri bahwa ASI saya cukup dan berkualitas. Sebulan pertama, semuanya baik-baik saja, berat Issam sama seperti bayi pada umumnya. Tapi di bulan kedua, ketiga, dan puncaknya di bulan kelima, berat Issam seperti stuck! Dia kecil...

Pernah disandingkan dengan bayi seusianya, apa yang terjadi selanjutnya? Sudah bisa ditebak, anak yang dibanding-bandingkan. "Baby A lucu dan montok yah", "kok Issam kecil?", "kasih formula aja, Ki".. Ungkapan-ungkapan 'menyakitkan' itu saya anggap biasa, tapi yang paling tidak saya duga adalah ungkapan, bahwa ASI saya jelek karena tidak ada suami di sisi.

Sedih?iya, tapi life must go on. Karena ASI adalah hak anak, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surat AlBaqoroh ayat 233, yang artinya:" Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi rezki (makanan) dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya. Dan orang yang mendapatkan warisan pun berkewajiban demikian…” (QS Al-Baqarah: 233).

Inilah yang mendorong saya untuk terus memberikan ASI, meski saat itu suami jauh, meski ada suara-suara sumbang tentang kualitas ASI saya, dan dorongan dari kanan kiri untuk memberikan susu tambahan padahal saya merasa ASI saya cukup. Alhamdulillah, semua bisa teratasi, caranya? Pertama, ketika masih LDR an dengan suami, maka komunikasi intens terus dilakukan. Biasanya video call menjadi pilihan kami, dan setelahnya saya serasa mendapat suntikan energi, menyusui pun jadi lancar tanpa kendala. Kedua, saya tak ingin memasang target untuk bayi saya, entah itu terkait berat badan ataukah motoriknya, kenapa? Bikin tambah stress, dan kita jadi sibuk membandingkannya dengan another baby, right?. Ketiga, mengubah opini negatif menjadi positif, apapun komentar negatif tentang ASI kita atau bayi kita, anggap saja sebagai kritik yang sifatnya membangun dari semua fihak(serasa kata pengantar skripsi). Keempat, kalo saya mencoba belajar ikhlas, dengan mendekatkan diri pada-Nya dan implementasinya dengan zikir, meningkatkan kualitas ibadah dan weekly circle guna menuntut ilmu agama di majelis-majelis Ilmu. Yap, meski hingga sekarang berat badan Issam tidak se-amazing anak-anak seusianya, tapi dengan perkembangan kognitif dan dia cukup komunikatif, semakin meyakinkan diri bahwa tak ada yang salah dengan ASI saya, tak ada lah istilah ASI baik dan ASI buruk, yang ada malah ASI is the best gift to our children. Percayalah...

Lantas, bagaimana jika ASI kita tidak keluar sama sekali? Secara pribadi, saya yakin ASI seorang ibu pasca lahiran pasti akan keluar, kalaupun sedikit bisa jadi karena sebab lain semisal masalah perlekatan, kondisi lidah bayi dan hal lain yang bisa kita share dengan konselor laktasi. Setidaknya, kita mengupayakan agar anak mendapatkan ASI ekslusif di usia enam bulannya. Solusi lain, ibu susu !, hanya saja perlu diperhatikan tata cara syariat agama mengenai ibu susu ini, semisal harus jelas garis keturunannya, hukum-hukum saudara sepersusuan dan hukum lain yang terkait dengan ibu susu ini.

Jikapun akhirnya, kita dapati seorang ibu yang memberikan anaknya susu formula. Tolonglah, jangan dulu berburuk sangka dan melabelinya dengan setumpuk kata negatif yang tidak enak didengar. Pasti ada alasan lain mengapa akhirnya dipilih susu formula untuk bayinya. World Breastfeeding Week adalah pengingat, bahwa ASI adalah hak setiap anak maka berikanlah hak mereka, dan saya yakin semua ibu akan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, tanpa diminta.

Share this :

Previous
Next Post »
2 Komentar
avatar

wow, salut sama perjuangannya Mba, alhamdulillah yah semua bisa teratasi dan sang baby mendapatkan haknya. Saya selalu salut pada ibu-ibu yang berhasil memberikan asi pada baby-nya tidak seperti saya yg gagal *jempol*

Balas
avatar

semangat Maak, duh maaf baru dibalas. terima kasih sudah berkunjung yah..

Balas

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔