Arti Sebuah Toleransi



Minggu ini, adalah minggu yang cukup hot apalagi kalau ada kaitannya dengan isu SARA. Biarin ah saya bahas soal SARA, toh tulisan ini tak bermaksud menebar kebencian ke pihak-pihak tertentu, saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya lihat, saya dengar dan rasakan. 

Ngobrolin masalah rumah ibadah, jadi ingat empat tahun lalu saat masih tinggal di USA, yang tak pernah lupa adalah Islamic Center yang kami pakai untuk berbagai kegiatan keislaman termasuk untuk sholat, speaker yang dipakai ya speaker dalam. Kita juga tahu diri lah, tinggal sebagai minoritas yang alaminya 'menghargai' mayoritas. Makanya saya agak menyayangkan, sikap ibu yang menjadi pemicu kerusuhan (saya riset lho ya kronologis kejadiannya dengan mencari berbagai sumber, baik media islam maupun media nasional), yang protes dengan suara azan, ngomel dan memicu kemarahan warga. 

Buntutnya, warga mendatangi rumahnya namun tidak ada kesepakatan perdamaian, marahlah warga dan merusak rumah ibadah berupa vihara. Sebagai minoritas saat di merantau dulu, kita diminta untuk menghargai aturan yang berlaku, semisal saat puasa, saya nggak bisa protes para bule untuk menghormati yang sedang berpuasa. Pun saat sholat, suara azan benar-benar kedap suara dan kita selalu bersabar dengan itu. Saya tidak mendukung aksi perusakan rumah ibadah, karena dakwah pemikiran tidak boleh dengan kekerasan, tapi siapapun yang naluri pertahanan dirinya dipancing, ya pastilah amarahnya akan keluar.


Lantas, bagaimana seorang muslim sejatinya memahami makna toleransi? Toleransi toleransi diartikan dengan istilah "tasamuh" yang berarti memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk menjalankan apa yang ia yakini, sesuai dnegan ajaran masing-masing tanpa ada tekanan dan tidak mengusik ketauhidan( kamus Al-Muhith).  Toleransi (tasamuh) berarti sikap membiarkan (menghargai), lapang dada (Kamus Al-Munawir, hlm. 702, Pustaka Progresif, cet. 14). Toleransi tidak berarti seorang harus mengorbankan kepercayaan atau prinsip yang dia anut. (Ajad Sudrajat dkk, Din Al-Islam. UNY Press. 2009).  

Rasulullah telah mengajarkan sikap tasamuh, dalam suatu riwayat dikabarkan bahwa Rasulullah melihat ada rombongan orang mengusung jenazah Yahudi melewati beliau, beliau spontan berdiri(sebagai bentuk penghormatan). Salah satu sahabat protes, dan bertanya:"Bukankah dia seorang yahudi?". Lalu apa yang dikatakan Rasulullah:"Bukankah dia seorang manusia". 

Toleransi artinya menghormati dan menghargai, meski tetap bukan berarti kita mengikuti ritual agama lain. Di masa saat Islam pernah diterapkan di dua pertiga dunia dan kita kenal dengan sebutan Kekhilafahan, hak-hak warga non muslim menjadi perhatian khusus bagi kepala negara(Khalifah). Di masa Khulafaur Rasyidin, dimana saat itu Islam dipimpin oleh para Sahabat Rasulullah semisal Abu Bakar, Umar, Ali dan Utsman, sikap toleransi telah dipraktekan dengan gemilang. Khalifah Umar saat membebaskan Yarussalem(Baitul maqdis) Palestina, memberikan jaminan kepada warga non muslim agar tetap bebas memeluk agama dan keyakinan mereka, dan tidak memaksa mereka memeluk Islam. Mereka hanya diharuskan membayar jizyah, sebagai bentuk bahwa mereka mendapatkan perlindungan yang diberikan oleh pemerintahan Islam saat itu. Meski demikian, mereka diberikan keleluasaan untuk beribadah menurut kepercayaan mereka.

Di masa Kekhilafahan Turki Usmani, lebih menarik lagi. Setiap kelompok agama diklasifikasikan dalam sebuah millet yang berarti jalan hidup, atau keyakinan. Setiap millet diperkenankan untuk memilih pemimpinnya sendiri, dan pemimpinnya diizinkan untuk memberlakukan aturan agama mereka . Millet-millet ini juga diberikan kebebasan untuk berbahasa mereka sendiri, mengembangkan lembaga milik sendiri seperti rumah-rumah ibadah, sekolah, dan Khalifah hanya melakukan pengawasan.

Semoga kita lebih bijak menyikapi hal-hal sensitif semacam ini. Jika posisi kita sebagai minoritas, perbanyaklah bersabar dan menerbarkan aura positif di lingkungan sekitar. Jika sebagai mayoritas, tunjukan bahwa yang kita emban adalah kebaikan, rahmat bagi sekalian alam. Sayangnya, semua tercederai oleh pihak-pihak yang hobi membuat konflik dibumbui media asing yang memang sarat tujuan. Jadi? mari perdalam kajian Keislaman, agar Islam Rahmatan lil Alamin semakin tersebarkan, dan umat tercerahkan.

Sumber bacaan:
Al-Waie, edisi 192.

Share this :

Previous
Next Post »
2 Komentar
avatar

ini juga yang menjadi pemikiranku Mbak. Saat kita berada di negeri lain, dimana kita minoritas, kita diharuskan untuk ikut aturan yang mayoritas di sana. kebanyakan pun yang muslim tinggal di sana, malah menjadi corong yang mengelu-elukan hal ini, bahwa kita hars ikut kebijakandi sana. Namun di negara sendiri, di mana kita menjadi mayoritas, dan ada pemeluk minoritas yang 'berulah', lagi-lagi disalahkan kita yang mayoritas. dan yang biasanya suka menjadi corong di media, diam seribu bahasa. Jadi ini bukan mayo atau mino, tetapi kalau menyangnkut Islam, Islamlah yang harus disudutkan! :)

Balas
avatar

Ya Allah..mohon maaf baru dibalas ya mbak, lama tak buka blog. Hiks..betul mbak, bagai buah simalakama jadinya. Kesabaran yang tiada batas, namun tentu saja kita tidak bisa berdiam diri. Terus mengkaji Islam agar pemahaman agama semakin mendalam, sehingga tidak mudah goyah dan tetap bijak menghadapi situasi. terima kasih sudah berkunjung ya mbak...

Balas

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔