Usia Empat Puluh

Add Comment

Jelang 40, masa dimana usia telah matang dan waktu untuk berbenah menyiapkan bekal perjalanan ke akhirat nanti, menjadi semakin sedikit.

Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri"." (QS. Al-Ahqaf: 15)

Mengelola Amarah

Add Comment



Daun yang telah gugur tak akan kembali ke dahannya, tapi dahan yang telah patah ada saatnya kan bersemi kembali.

Luka,tersakiti dan kecewa pasti pernah kita rasakan. Jika penoreh luka itu adalah seseorang yang sejatinya ingin menjaga kita, mengingatkan kita dan membawa kita dalam ketaatan, maafkanlah...jangan biarkan diri ini larut dalam murka, emosi, kecewa dan mengikis keikhlasan.

Gugurkanlah rasa marah seperti daun-daun yang berjatuhan menjelang musim dingin, perbaharuilah hati ibarat dahan yang meski telah patah, namun energi positif memampukannya melahirkan daun daun muda yang akan tumbuh menjadi pohon yang kokoh, kuat dan tak mudah tumbang meski badai menghadang.

Maafkan...maafkan..maafkan, tak inginkah kita meraih pahala seperti yang diriwayatkan Ibnu Majah berikut: "Barangsiapa menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melakukan –pembalasan– maka Allah lakan memanggilnya di hari kiamat di hadapan para makhluk sehingga memberikan pilihan kepadanya, bidadari mana yang ia inginkan.”

Mengolah Kembali Makanan Sisa, Yay or Nay?

4 Comments

Belum lama ini Mak Maya Siswadi, salah satu anggota KEB (Kumpulan Emak-Emak Blogger) merilis tulisan berjudul Makanan Sisa, Diolah Lagi atau Dibuang? Saya yang lagi gandrung bebikinan alias masak jadi penasaran dengan isi tulisan seputar leftover alias makanan sisa ini. Alasannya simple, saya lagi butuh banyak variasi menu karena abang O ingin membawa bekal makanannya dari rumah, menikmati masakan emaknya setiap hari dan gak mau lagi ikutan katering. 

Ternyata ada beberapa makanan sisa yang bisa diolah lagi lho, semisal Capcay yang full sayuran bisa diolah lagi dengan mie, dan rasanya tak kalah enak. Saya jadi ingat saat hidup di perantauan yang sudah jadi rahasia umum kalau irit itu sudah menjadi gaya hidup terutama saat mengatur uang belanja. Nah, memanfaatkan makanan sisa alias leftover ini kerap saya lakukan juga. Bersyukurnya lagi, masakan para londo itu tak lebih dari empat komponen saja; minyak zaitun, garam, lada hitam dan bawang putih. Makanya, masakan sejenis Pizza atau Lasagna yang paling jadi pilihan terakhir ketika ada ayam panggang sisa, atau semur daging sisa yang bisa kita jadikan toping ditambah pasta tomat dan mozarella. Kalau lagi malas, biasanya saya bikin nasi goreng ala kadarnya, tinggal tumis ayam atau daging sisa, ditambah bawang putih halus dan garam, kasih kecap sedikit, done! Hasilnya? kalo lagi di rantau, masakan apapun yang berbau kampung halaman pasti terasa nikmat. Hehe

Jujur untuk  masakan sisa berbahan sayuran, selama diperantauan belum pernah saya lakukan, yang paling sering ya itu tadi, daging dan ayam sisa saya gunakan kembali untuk menu yang berbeda. Dulu, punya bumbu instan bak nemu harta karun karena untuk mendapatkannya harus menempuh 2,5 jam dengan kendaraan. Makanya, setiap bikin gulai dari bumbu instan kuahnya tidak saya buang tapi digunakan kembali menjadi bumbu ungkep ayam ditambah garam, lalu jadilah ayam goreng bercita rasa gulai.

Menyusui Ketika Suami Jauh

2 Comments
sumber gambar:https://www.retailpharmacymagazine.com.au/event/world-breastfeeding-week/


World Breastfeeding Week memang sudah berlalu, namun gaungnya masih dirasakan para ibu, termasuk saya. Pengalaman paling berkesan saya rasakan ketika menyusui anak kedua, perjuangannya benar-benar menguras emosi, tenaga, pikiran dan air mata. Oya, ini adalah colaborative blogging bertema ASI merespon tulisan keren Mak Istiana Sutanti, salah satu admin Komunitas Emak-Emak Blogger, berjudul ASI dan Perkembangan Media Sosial.

Jadi ceritanya, dulu saat hamil anak kedua  saya dan suami memutuskan untuk LDR sementara. Suami stay di perantauan sementara saya memilih pulang padahal saat itu usia kandungan memasuki enam bulan. Alasan utamanya karena saya ingin lahiran di Indonesia, dekat dengan keluarga dan baby inside tidak perlu dipusingkan dengan masalah kewarganegaraan.

Keputusan yang kami ambil saat itu memang gak mudah. Banyak yang menyayangkan, bahkan dokter kandungan di sana menahan saya untuk pulang. Bahkan tetangga asal Timur Tengah menganggap keputusan kami tak masuk akal, disaat justru banyak yang ingin lahiran di Amrik, bahkan sepupunya sendiri sengaja terbang ke negeri paman Sam ketika hamil 7 bulan, dan baru kembali ke negaranya setelah dua bulan melahirkan, demi apa coba? Kewarganegaraan!

Tapi entah kenapa, saya tidak berminat. Semakin ditahan justru kerinduan akan kampung halaman semakin membuncah, akhirnya bela belain terbang selama 17 jam di udara, berdua saja dengan si sulung dan rela kaki menjadi bengkak hingga lahiran.

Arti Sebuah Toleransi

2 Comments


Minggu ini, adalah minggu yang cukup hot apalagi kalau ada kaitannya dengan isu SARA. Biarin ah saya bahas soal SARA, toh tulisan ini tak bermaksud menebar kebencian ke pihak-pihak tertentu, saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya lihat, saya dengar dan rasakan. 

Ngobrolin masalah rumah ibadah, jadi ingat empat tahun lalu saat masih tinggal di USA, yang tak pernah lupa adalah Islamic Center yang kami pakai untuk berbagai kegiatan keislaman termasuk untuk sholat, speaker yang dipakai ya speaker dalam. Kita juga tahu diri lah, tinggal sebagai minoritas yang alaminya 'menghargai' mayoritas. Makanya saya agak menyayangkan, sikap ibu yang menjadi pemicu kerusuhan (saya riset lho ya kronologis kejadiannya dengan mencari berbagai sumber, baik media islam maupun media nasional), yang protes dengan suara azan, ngomel dan memicu kemarahan warga. 

Buntutnya, warga mendatangi rumahnya namun tidak ada kesepakatan perdamaian, marahlah warga dan merusak rumah ibadah berupa vihara. Sebagai minoritas saat di merantau dulu, kita diminta untuk menghargai aturan yang berlaku, semisal saat puasa, saya nggak bisa protes para bule untuk menghormati yang sedang berpuasa. Pun saat sholat, suara azan benar-benar kedap suara dan kita selalu bersabar dengan itu. Saya tidak mendukung aksi perusakan rumah ibadah, karena dakwah pemikiran tidak boleh dengan kekerasan, tapi siapapun yang naluri pertahanan dirinya dipancing, ya pastilah amarahnya akan keluar.

Produktif dengan Bekal Sekolah

2 Comments




Tak terasa sudah dua minggu abang O bawa bekal dari rumah, ternyata banyak hal positif yang saya dapat. Pertama, ada korelasi positif abang O bawa bekal dari rumah dengan berat badannya(entahlah,ini positif atau negatif), yang pasti abang O kelihatan lebih segar,membulat tapi kenceng badannya. Kedua, abang O kelihatan bersemangat, mungkin karena bisa rikues menunya, dan jam makan siang dia share lauk ke teman2nya(kalo yg ini saya suka bingung gimana ngesharenya). Ketiga, tentu lebih hemat dan irit(pernyataan provokatif), keempat tentunya saya (agak memaksakan diri),untuk nyari resep2 agar masakan lebih variatif dan menarik. Kelima, jam 7 saya sudah bisa leyeh2, karena masakan sudah siap, lantai sudah kinclong dan cucian sudah bertengger manja di jemuran. Setrikaan?..serahkan pada ahlinya he he. Iyap, mau nggak mau para ibu memang dituntut lebih cekatan, kreatif dan produktif. Apapun motivasinya, yang jelas tak melulu berkaitan dengan uang. Maksudnya, kita biasanya akan produktif kalo banyak aktifitas tapi waktunya sempit, kita biasanya lebih kreatif menyusun menu saat budjet tak mencukupi, dan perempuan berstatus emak biasanya harus cekatan saat sedang memainkan banyak peran, entah saat menjadi guru, chef, bahkan berkiprah di masyarakat dengan dakwah.

Yuk ah bu, jadi IRT produktif. Di luar sana masih banyak mamah mamah yang perlu kita ajak silaturahmi, masih ada para ustadzah yang bisa kita datangi dan mendapat ilmu darinya, dan masih menganga luka umat yang bisa kita beri empati. Semoga kita semakin peduli.

Bekal Sekolah Anak

Add Comment


Fixed! Abang O mau stop katering dari sekolah, mau bawa dari rumah aja katanya. Alasannya, selain bisa rikues, masakan rumah lebih variatif. Jadilah seminggu ini bak bik buk di dapur, rajin ke warung dan mulai ngumpulin tempat makannya yang ngumpet di pojok2 lemari.

Menu kemarin, stik ayam(sausnya terpisah dan gak kepoto), sosis goreng (sedikit)tepung dan sayuran kukus.

Menu hari ini?..Tempe goreng, beef teriyaki dan sop sopan. Resepnya?..hanya stik yg agak tricky dan lumayan serius masaknya.

Resepnya sbb:
Bahan: ayam filet
Bumbu: bawang putih 3 siung(untuk dua dada ayam filet), garam satu sendok teh, saus teriyaki(bisa kecap manis),terigu dan sagu(tapioka).
Caranya: ayam di rendam bumbu(bawang putih dan garam yg dihaluskan), bakar (bisa di atas teplon/kuali), kalau sudah mateng diangkat.
Nah, bekas2 bumbu baik yg nempel di teplon maupun di bekas rendaman ayam kita tumis, dengan menambahkan minyak goreng sedikit. Kalo dah harum dan matang,masukan terigu dan sagu yg sudah dicairkan di mangkok, lalu aduk2 hingga mengental, tambahkan sedikit saus teriyaki atau kecap. Done!

Rasanya?..lumayan enak Alhamdulillah. Anak-anak suka, meski aktivitas emak lumayan padat merayap, rutinitas ini bikin emak semangat menjalani tanpa lelah dan mensyukuri.