Menyiapkan Anak Menuju Kedewasaan

Add Comment



Anak-anak sekarang cepat besar. Ya, usia baligh makin maju dibanding zaman orang tuanya. Dulu, anak-anak mulai baligh, paling cepat saat duduk di bangku SMP. Itupun kelas 2 atau 3, sekitar usia 14 atau 15 tahun. Bahkan, ada yang tamat SMA baru baligh. Tapi kini, anak-anak SD, usia 10 tahun pun tak sedikit yang sudah mengalami mimpi basah bagi laki-laki atau menstruasi bagi perempuan. Padahal, secara mental dan pemikiran, mereka belum siap “dewasa”. Ini terlihat dari pola pikir dan perilakunya yang masih “kanak-kanak”. Padahal, baligh adalah batas antara anak-anak dan dewasa.

Tak ada istilah anak baru gede (ABG) atau remaja, yang seolah mengamini kekanak-kanakan mereka. Ini tentu memprihatinkan, mengingat besarnya konsekuensi bagi anak-anak yang sudah baligh, di mana mereka berarti sudah harus siap menjadi manusia seutuhnya. Lantas bagaimana orang tua menyiapkan anak-anaknya menuju gerbang kedewasaan? Berikut ini ada beberapa hal yang harus dipahami:

1. Memahamkan Konsep Baligh

Tanda-tanda kedewasaan anak berupa perubahan fisik akan datang dengan sendirinya, sekalipun tanpa dipersiapkan. Artinya, kita tidak bisa mematok anak saya sebaiknya baligh usia 15 tahun saja atau nanti kalau sudah SMA saja. Semuanya alami, datang begitu saja tanpa diundang. Yang bisa kita lakukan hanyalah memberi informasi secara terbuka dan jelas kepada anak, mengenai konsep baligh dan perubahan fisik anak.

2. Menyiapkan Aqliyah

Beda dengan perubahan fisik, aqliyah atau pola pikir anak serta mentalnya, tidak bisa dibiarkan tumbuh begitu saja, melainkan harus “diisi” untuk mempersiapkan kedewasaan. Ya, kerap terjadi pertumbuhan fisik dan akal anak tidak seimbang, di mana fisik sudah bligh, tapi pemikiran masih nol. Idealnya, akil-baligh itu satu paket. Ketika perangkat fisik pada diri anak sudah matang, akal dan mentalnya pun harus menjadi dewasa. Maksudnya, jika organ kelamin primer dan sekunder sudah matang, cara berpikir dan sikap mental anak juga sudah menunjukkan kedewasaan. Caranya, dengan mengajak anak berpikir dan berdialog tentang konsep-konsep kehidupan, khususnya sebagai Muslim. Orang tua harus selalu mengajak anak berpikir, mengajarkan nilai-nilai Islam dan memahamkan berbagai syariat Islam, sehingga begitu baligh sudah siap memikulnya.

3. Tanamkan Tanggung Jawab

Setiap anak punya dorongan untuk mandiri dan bertanggung jawab. Jadi, jangan ambil tanggung jawab mereka. Biarkan mereka menyelesaikan dengan kepercayaan yang diberikan dengan sepenuh hati. Jika mereka berhasil, memang itu yang diharapkan. Jika tidak, jangan serta merta dihukum karena konsekuensi negatif atas kegagalannya saja sudah cukup berat. Sudah terjatuh, tertimpa tangga pula. Yang penting, ajak anak berkomunikasi atau berdialog agar merasa dianggap benar-benar sudah dewasa.

4. Ajarkan Kemandirian

Anak yang menuju baligh, harus sudah disiapkan untuk mandiri. Tahapan-tahapan yang bisa kita lakukan adalah dengan meneladani jalan parenting-nya Ali bin Abi Thalib. Pada tujuh tahun pertama, jadikan anak sebagai amir atau putra mahkota. Ya, usia golden age ini, anak-anak masih sangat tergantung pada orang tua sehingga harus selalu dilayani bak pangeran. Tujuh tahun kedua, ajarkan dan jadikan mereka sebagai asir, pelayan, atau tawanan. Maksudnya, mereka harus mulai bisa melayani diri sendiri, bahkan membantu orang lain. Tujuh tahun ketiga, perlakukan anak sebagai wazir atau orang kepercayaan. Tahapan ini jika dijalankan dengan baik, insya Allah akan menghantarkan anak menjadi pribadi yang utuh dan matang.

5. Cukup Pengawasan

Pengawasan diam-diam terhadap anak, merupakan metode ampuh. Ciptakanlah ruang anak untuk 'bebas', tetapi tetap dalam pantauan orang tua. Sehingga, anak merasa memiliki ruang untuk keegoannya sebagai sosok yang mulai tumbuh dewasa, tanpa merasa dikekang. Sebaliknya, orang tua tetap bisa mengawasi perkembangan anaknya, baik fisik maupun mentalnya



Sumber tulisan: http://mediaumat.com/muslimah/3306-61-menyiapkan-anak-menuju-kedewasaan.html

Keinginan atau Kebutuhan?

Add Comment

Kenapa fotonya buah yak? Yah, nggak beda jauh lah ya dengan judulnya, memilih antara kebutuhan atau keinginan (maksa). Jadi ceritanya bulan ini di rumah lagi banyak tragedi, kulkas rusak total plus TV, kedua barang ini rusaknya gak tanggung tanggung danbiaya servisnya seharga beli baru. Kalau Tv mungkin karena sudah uzur ya, jadi wajar kalo rusak. Lah kalo kulkas? baru setahun sudah mati kompresornya, penyebabnya ternyata karena sering mati lampu dan tombol lampunya sering dimainin Issam. 

Akhirnya setelah berunding dengan suami dan kebetulan pas ada rezekinya, kami putuskan untuk membeli kulkas yang pas dikantong tapi high quality. Dua minggu setelah beli kulkas, kami pun membeli TV dengan merk yang sama, tapi ya tadi, yang penting pas di kantong dan gak mengecewakan. Rupanya, membeli barang secara berturut-turut ini memunculkan polemik which is kakak saya sempat mempertanyakan, "Ki, kok bebelian mulu siy. Ati-ati ntar jadi gaya hidup.." 

Doeng! bagaikan dipukul godam, saya cukup lama merenung dan berpikir apakah yang saya lakukan ini salah dan melampaui batas. Saya coba mereview kembali, benarkah saya membeli kedua barang ini karena memang butuh, bukan ikutan tren apalagi menjadi gaya hidup. Terlepas dari itu, saya sangat bersyukur punya keluarga yang perhatian dan kami saling menjaga. Intinya dalam hidup apa yang mau kita capai semata memang karena kita betul-betul membutuhkannya, bukan karena bosan lantas gonta ganti bak beli permen seharga lima ratusan.

Bagi saya dan suami, barang kalau belum rusak ya nggak perlu diganti buru-buru. Kalau sudah rusak dan kita butuh untuk memudahkan aktivitas harian, biasanya akan dipertimbangkan untuk membelinya. Tapi semuanya kembali pada kondisi kantong, kalo kas negara lagi kosong melompong ya kami bersabar, dan  kalau kebetulan ada rezeki, kami pun membeli setelah rapat diadakan sepanjang pagi, hehe.

Pada akhirnya, semua dikembalikan pada isi kepala masing-masing. Namun sebagai muslim, tentunya kita memang perlu punya patokan sebelum memutuskan ketika dihadapkan pada pilihan. Misalnya ketika ingin membeli sesuatu, yang pertama kali dilakukan adalah menetapkan kita sebenarnya butuh atau sekadar mengikuti hawa nafsu. Kedua, perlu kiranya memperhatikan akad-akad saat bertransaksi, apakah mengandung unsur riba, melakukan dua akad dalam satu transaksi atau bahkan berhutang tapi tak mau membayar. Rumit? nggak juga, InsyaAllah kalau mengikuti rule dari Sang Pencipta, hidup akan menjadi tentram. Tak percaya? coba saja buktikan.