Muhammad Ali dan Muslim di Amerika


Melihat prosesi pemakaman petinju legendaris Muhammad Ali kemarin, jadi mengingatkan saya saat merantau tiga tahun lalu. Terlepas dari kontroversi seputar pemakamannya yang sudah lebih dari tiga hari, penyelenggaraan sholat jenazah di Kentucky Exposition Center yang terkesan tidak rapi, namun tak dipungkiri pemakaman Muhammad Ali seolah menjadi pembuka jalan bagi non muslim Amerika, untuk melihat Islam lebih dekat.

Ini bagai oase di tengah gurun mengingat beberapa tahun belakangan terutama pasca Paris Attack, Islamophobia meningkat tajam di US. Seperti yang diberitakan page resmi CAIR(Council of American-Islamic Relations)baru baru ini, diberitakan bahwa seorang pria bersenjata melakukan teror dan mengancam akan meledakan Masjid Al-Madina yang berlokasi di North Carolina. Bukannya tak ada ajakan untuk berbicara secara damai, sudah.. tapi pria itu menolak dan memilih untuk pergi.

Saya jadi ingat kejadian tahun 2012 lalu, saat pulang dari masjid di Logan Islamic Center (Utah), lagi asyik bersenandung tetiba dari belakang diteriaki 3 pria bertopeng. Kaget juga awalnya, tapi langsung secepatnya mengambil sikap tenang, dan tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa saya mengalami Islamophobia juga(akhirnyaaa...). Terlebih, di tempat tinggal saya saat itu termasuk wilayah yang aman, jauh dari hingar bingar nuansa Amerika yang serba liberal. Penduduknya termasuk pemeluk Mormon yang taat, baik hati dan tidak sombong.

Sebagai minoritas, cukup berat memang ketika kita berupaya menunjukan identitas sebagai muslim. Apalagi dengan hijab yang merupakan kewajiban bagi setiap muslimah. Belum lagi saat Ramadan tiba, Subhanallah godaan dan ujiannya. Waktu puasa yang panjang (saat Ramadan di musim panas) sekitar 17 jam, pedihnya mata ketika banyak para bule berjemur di siang hari, dan yang cukup menguji kesabaran adalah saat kita tengah melatih anak berpuasa, namun ia juga tercatat sebagai salah satu siswa yang harus berjibaku dengan teman-teman yang belum tahu, kalau ia tengah berpuasa. Pernah Khalil ditawari popcorn padahal dia tengah berpuasa, dia katakan"no thanks, I am puasa"..karena gurunya nggak ngerti, dimakanlah itu popcornnya. Ya Iyalah, Liiiil...

Beratnya puasa saat menjadi minoritas, tentu tidak boleh membuat kita berputus asa. Hijab tetap wajib kita pakai, puasa tetap wajib kita jalankan, tak perlu takut. Bukankah Amerika pun termasuk bumi Allah tempat kita berpijak? Kalau belum diserang secara fisik, tak perlu parno alias takut. Saya pernah, sholat di tempat pemberhentian bus di atas dinginnya salju dan saat itu kebetulan lagi sepi. Gugup iya, tapi yasudah jalani saja, sebagai konsekwensi kekurang berstrateginya saya dalam memperkirakan waktu sholat.

Apa yang saya lakukan dan apa yang almarhum Muhammad Ali tinggalkan, menjadi salah satu uslub(cara) penghantar dakwah agar orang yang belum mengenal Islam lebih dekat, setidaknya akan sedikit membuka diri untuk muslim. Memang kita tidak bisa berharap banyak karena yang mampu membuat orang paham, dan tidak mudah terbawa opini yang berkembang adalah adanya diskusi. Ya, diskusi seputar apa itu Islam, bahwa Islam adalah sebuah sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan, bahwa Islam bukanlah agama teror, dan karena Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam. Betulah kiranya, apa yang diungkapkan ulama Nusantara yang mendunia, Syaikh Nawawi al-Bantani, "Tidaklah Kami mengutus engkau, wahai sebaik-baiknya makhluk, dengan membawa ajaran-ajaran syariah-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta, yakni agar menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya; bagi agama ini dan kehidupan dunia".


Share this :

Previous
Next Post »
6 Komentar
avatar

setuju, Mbak. Semoga bisa menjaid pembuka jalan agar dapat melihat islam lebih dekat :)

Balas
avatar

aamiin,...thanks sudah berkunjung ya Mbak..^^

Balas
avatar

Sampaikan dakwah dengan baik, agar makin banyak orang yang mengenal Islam ya Mbak.

Balas
avatar

Betul mbak, InsyaAllah...terima kasih sudah berkunjung ya Mbak

Balas
avatar

Kalau menyikapi sikap kaum yang parno dengan Islam dengan cara yang santun dan baik tentu mereka secara perlahan akan memahami bahwa Islam itu memang bukan teror. Terkadang reaksi kita yang berlebihan membuat keadaan menjadi tidak baik.
salam

Balas
avatar

Yup, sepakat. Tidak reaksioner..

Balas

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔