Sudah Matikah Nurani Manusia Saat Ini?




Belum genap sebulan, kemarin tragedi berdarah kembali terjadi di negeri ini. Setelah 2 Mei lalu dunia pendidikan kita tercoreng dengan aksi nekat mahasiswa yang membantai dosennya, kali ini seorang putri kandung tega menghabisi nyawa ayahnya, hanya karena persoalan 'sepele', cinta tak direstui. Tragedi berdarah yang terjadi di Gorontalo ini sontak membuat geger masyarakat sekitar, dan tentu saja dunia maya. Beberapa jam pasca tragedi, di medsos netizen mulai share foto-foto korban dan menyebut dengan jelas nama-nama pelaku, yang tak lain adalah putri kandung korban dibantu pacarnya.

Ya, it'is going viral! Dan sebelum mengkritisi kasus ini, hati kecil saya berharap agar foto-foto korban yang berlumuran darah tidak dishare oleh netizen, tapi harapan hanya tinggal harapan. Tampaknya foto2 semacam ini tengah 'digandrungi' di dunia maya. Prihatin...


Back to the case, kasus anak menghabisi nyawa orang tua memang sudah pernah atau bahkan nyaris sering terjadi di tengah masyarakat kita, namun untuk yang satu ini terbilang sadis. Si anak yang notabene perempuan, membuat skenario hingga akhirnya sang ayah yang seharusnya dia hormati, tega dibantai tanpa nurani. Tak perlulah saya jelaskan kronologisnya, tak tega melihat fotonya dan silakan searching sendiri. Saya hanya ingin bertanya pada diri, sudah sedemikian parahkah krisis nurani di negeri ini?....


Agama sebagai pondasi seolah hanya menghiasi kamar pribadi, atau rumah ibadah yang kian sepi. Setelahnya, Allah benar-benar dilupakan. Maksiyat, membunuh bahkan mencederai perasaan saudaranya dianggap hal yang lumrah, naudzubillah. Ups, saya lupa...Indonesia bukanlah negara agama, yang dari atas hingga ke bawah (pemerintah hingga masyarakatnya) menjadikan agama sebagai satu-satunya standar dalam menilai perbuatan, atau menghukumi perbuatan. Sehingga hukum seolah bebas nilai, tergantung isi kepala masing-masing individu. Jadinya ya begini, individunya agamis, masyarakatnya religius namun hukum runcing ke bawah tumpul ke atas.


Sebagai muslim, saya mendambakan Islam bergema tak sebatas di mushola, namun hendaknya menjadi pemutus setiap masalah karena sifatnya yang Rahmatan Lil Alamin. Islam bukan hanya sebagai agama ruhiyah, tetapi sebagai sistem hidup atau way of life yang bisa diterima oleh semua kalangan pun bagi non muslim. Tak percaya?...mari kita kaji bersama. #YukNgaji *promo


Lantas, bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai hal ini?

Pertama, dilihat dari posisi si anak, maka jelas dia telah berbuat durhaka pada orang tuanya. Banyak sekali ayat dalam Al-Qur'an dan hadits yang membahasnya. Diantaranya:

Tuhanmu telah mewajibkan agar kalian tidak menyembah selain Dia dan agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tua (TQS al-Isra’ [17]: 23).*

Durhaka kepada orang tua adalah dosa besar sebagaimana dinyatakan oleh Nabi SAW bersabda,“Maukah kalian aku beri tahu dosa besar yang paling besar: Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR al-Bukhari dan Muslim).*

Perhatikanlah, bagaimana Rasul SAW mengaitkan sikap buruk dan durhaka kepada kedua orang tua dengan sikap menyekutukan Allah SWT. Rasul SAW juga bersabda, “Andai Allah menginformasikan ada yang lebih remeh dari sekadar mengucapkan kata “Ah!” (kepada kedua orang tua) maka pasti Allah akan melarang hal demikian. Karena itu lakukan saja oleh orang yang durhaka kepada kedua orang tua apa saja yang mereka inginkan, niscaya mereka tidak akan pernah masuk surga. Lakukan pula oleh orang-orang yang berbakti kepada kedua orang tua apa saja yang mereka kehendaki, niscaya mereka tidak akan pernah masuk neraka selama-lamanya.” (Adz-Dzahabi, Al-Kaba-ir, I/14).*

Terkait durhaka kepada kedua orang tua, Kaab al-Ahbar pernah ditanya, “Apa yang dimaksud dengan durhaka kepada kedua orang tua?” Ia menjawab, “Yaitu jika ayah atau ibunya membagi sesuatu kepada dia, dia tidak menerimanya dengan baik; jika keduanya memerintah dia, di tidak melakukannya; jika keduanya meminta kepada dia, dia tidak memberi; jika keduanya memberi amanah, dia tidak tunaikan.” (Adz-Dzahabi, Al-Kaba-ir, I/14).*

Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasul SAW pernah bersabda, “Ada empat kelompok manusia yg menjadi hak Allah untuk tidak memasukkan mereka ke dalam surganya dan mereka tidak akan menikmati sedikitpun nikmat surga di dalamnya: pemeras khamar, pemakan riba, pemakan harta anak yatim secara zalim dan orang yang durhaka kepada kedua orang tua—jika mereka tidak bertobat.” (Adz-Dzahabi, Al-Kaba-ir, I/14)*

Adapun terkait menghabisi nyawa manusia dengan berencana, maka Islam berlaku hukum qishash bagi pelakunya, qishash disini artinya para pelaku dihukum dengan dibunuh balik seperti apa yang telah mereka lakukan terhadap korban. Dalilnya adalah:

“Barangsiapa terbunuh, maka walinya memiliki dua hak; memberikan pengampunan, atau membunuh pelakunya.”

“Seandainya penduduk langit dan penduduki bumi berserikat dalam (menumpahkan) darah seorang Mukmin, sungguh Allah swt akan membanting wajah mereka semua ke dalam neraka”.[HR. Imam Turmudziy]

Sesungguhnya Umar ra menjatuhkan sanksi bunuh kepada lima atau tujuh orang yang berserikat dalam membunuh seseorang; yang mana mereka semua membunuh seorang laki-laki dengan tipu daya”.[HR. Imam Malik]

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan; jika sekelompok orang bersekutu, dua orang, atau lebih untuk membunuh seseorang, semuanya dikenai sanksi. Semuanya harus dikenai sanksi pembunuhan meskipun pihak yang terbunuh hanya satu orang (http://hizbut-tahrir.or.id/2009/06/21/hukum-islam-atas-bersekutu-dan-berserikat-dalam-pembunuhan/)

Berdasarkan dalil-dalil di atas terkait dengan pandangan Islam dan bagaimana hukumnya terhadap pelaku pembunuhan berencana, seharusnya membuat kita takut untuk melanggar seluruh syariatnya, semoga negara semakin tegas menjaga moral bangsa dan semakin tegas terhadap pelaku maksiyat yang saat ini semakin merajalela.

* Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/2009/06/21/hukum-islam-atas-bersekutu-dan-berserikat-dalam-pembunuhan/ dan http://hizbut-tahrir.or.id/2015/05/07/mendurhakai-orang-tua-menuai-petaka/











Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔