Cerita Operasi Si Sulung

4 Comments
Cerita Operasi Si Sulung
Sejak usia satu tahun, Olil tidurnya selalu ngorok. Bukan ngorok yang biasa, tapi saat dia ngorok seluruh diafragma seolah bergerak dan bergeser turun naik, siapapun melihatnya pasti tak tega. Olilnya sih tenang-tenang aja karena dianya tidur pulas. Beberapa kali saya dan suami mendatangi dokter THT, jawabannya beragam semisal alergi lah, batuk pilek lah bahkan dibilang semuanya baik-baik saja. Tujuh tahun kami 'biarkan' kondisi Olil yang menurut keluarga besar 'tidak biasa', tapi naluri seorang ibu memang tak bisa dibohongi, puncaknya ketika Olil pulang sekolah dengan santainya dia bilang kalo temannya sering tutup hidung karena nafasnya Olil bau. Huwah, gerah!..bermodal semangat untuk mencari penyebabnya, saya langsung browsing dokter THT yang recommended. Jatuhlah pilihan pada dokter Johan yang praktek di RS Mitra Keluarga Depok.

Pertama kali jumpa dokter Johan, saya ceritakan semuanya. Mulai dari riwayat ngoroknya Olil, sempat tinggal lama di daerah dingin hingga nafasnya yang semakin tak sedap. Olil langsung diminta duduk di kursi pemeriksaan, dua lubang hidungnya dimasukan alat yang dilengkapi kamera mikro. Got it! ada polip yang menutupi jalan nafas dua lubang hidungnya!



Lemas bercampur lega, lemas karena sudah sekian lama si polip bertengger di jalan nafasnya Olil yang bikin dia ngorok dan sering gelagepan. Lega karena akhirnya ketemu juga penyebabnya, tapi...wait!, kalo bau mulutnya dari mana atuh? Dokter Johan bilang, bisa dari polip plus amandelnya ternyata sudah besar. Solusinya keduanya harus dibuang. Yasudah, saya dan suami setuju saja yang penting Olil sembuh. 

H-5 sebelum operasi, kami sudah membereskan administrasi termasuk booking kamar. So far nggak ribet mengurusnya, Olil masuk ruang rawat inap sehari sebelum operasi. Terjadwal jam 13.30, sejak pagi Olil sudah harus puasa. Anak ini sebenarnya kuat dan tahan banting, namun ketika masuk ruang operasi wajahnya pucat pasi dan tangannya tak mau lepas dari genggaman saya. Kami berpisah di ruang operasi, dan..kesedihan dimulai...

Waktu berjalan serasa sangat lambat, ya, empat jam terasa sangat lambat hingga telepon di ruang tunggu berdering mengabarkan bahwa ananda Olil sudah di ruang observasi. Saya langsung bangkit dari duduk, setengah berlari, masuk dan menemui dokter Johan. Beliau mengabarkan bahwa operasi berjalan lancar, namun kondisi Olil pasca operasi benar-benar mengaburkan konsentrasi saya dari penjelasan dokter. Bayangkan, di belakang saya Olil masih mendengkur dengan keras, batuk dan beberapa kali 4 perawat dan dokter jaga menyedot darah yang keluar dari rongga mulutnya. Aah, disitu saya merasa sangat kehilangan, ingin mendekap erat dan menyadari banyaknya kekhilafan yang saya buat ke Olil selama ini. Dokter rupanya membaca kegelisahan saya, beliau katakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Baiklah, dok..

Pasca operasi dan diobservasi selama 2,5 jam, akhirnya Olil dipindah ke kamar perawatan. Darah bercampur lendir masih keluar dari hidung, tanpa ditutupi apapun di kedua lubang hidungnya. Hari ketiga pasca operasi, Olil diperbolehkan pulang. Selesaikah masalahnya?...Beluuuum, ternyata harus dipantau kondisi hidung dan rongga mulutnya Olil pasca operasi, semisal harus telaten minum obat, menyemprot hidung dan makannya gak boleh panas dan pedas, itu berlangsung selama dua minggu. 
Kini, kondisi Olil sudah sehat, nafasnya wangiiiii daan tidurnya tak ngorok lagi, Alhamdulillah. Terima kasih atas doa-doa dari semuanya.