Agar Anak Semangat Menyambut UAS

2 Comments


Pekan Ujian Akhir Semester atau yang lebih dikenal sebagai UAS saat ini masih berlangsung dan serempak di seluruh Indonesia. Biasanya jelang ujian, bukan hanya siswa yang sibuk menyiapkan segala sesuatunya, tapi para orang tua terutama yang anaknya masih duduk di sekolah dasar tak kalah heboh. Tak hanya di dunia nyata, jagat maya pun sesak dengan bahasan seputar UAS.

Ya, UAS kadang jadi momok yang mengerikan terutama orang tua yang anaknya masih susah untuk belajar. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang seolah tak terbendung, tak dipungkiri memberikan dampak terhadap motivasi belajar siswa. Ini yang terkadang membuat orang tua, khususnya ibu harus berjuang ekstra agar ananda mau belajar, at least mereview pelajaran yang sudah diberikan guru di sekolah.

Memang tak mudah ya bun, tapi jika kita ingat bahwa pendidikan anak tak hanya menjadi tanggungjawab sekolah, namun orang tua juga dituntut untuk berpartisipasi aktif, maka tak salah jika banyak cara yang dilakukan agar anak mau belajar. Agar anak semangat menyambut UAS, kita bias melakukan beberapa hal berikut.

1. Menanamkan Motivasi Sejak Dini

Motivasi yang dimaksud adalah menanamkan pemahaman kepada anak bahwa belajar merupakan bentuk tanggungjawabnya kepada Tuhan, dan belajar merupakan aktivitas yang menjadi satu diantara banyak bekal untuk hidupnya di akhirat kelak. Kapan penanaman ini diberikan? Saat anak masuk usia tamyiz (usia 6 tahun ke atas) atau indikasinya jika anak sudah bisa membedakan mana yang benar, dan mana yang salah menurut pandangan agama.

2. Membuat Kesepakatan Bersama 
Sepekan sebelum UAS, kita bisa libatkan anak untuk membuat aturan yang disepakati bersama. Misalnya selama UAS tidak boleh main game, atau boleh main ke luar asal tak berlama-lama. Inti dari adanya aturan adalah adanya kesepakatan dari semua pihak, jika melanggar ada konseksensi yang harus dijalani.

3. Berikan Reward 
Tabiat anak biasanya sangat suka jika dihargai, maka berikanlah reward jika anak sudah belajar. Tak harus dengan hadiah yang mahal, dengan mengajaknya makan cilok kesukaan, anak sudah senang, yang penting adalah anak tahu bahwa perjuangannya sudah dihargai.

4. Jangan Menuntut Anak Menjadi Juara
Dalam teori pendidikan, mendidik adalah memanusiakan manusia. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka target kita sebagai orang tua adalah mengawal anak agar potensi mereka terus berkembang dan menjadi anak yang bertakwa. Bukan menjadi anak yang selalu menjadi juara, nilainya di atas rata-rata dan pulang dengan membawa piala.

5. Doa Ya, doa adalah hal terakhir yang tak boleh dilupa. Sebesar apapun upaya kita sebagai orang tua, hasilnya tetap di tangan Yang Kuasa.

Menghapus Jejak Digital, Perlukah?

Add Comment

Tulisan kali ini, masih dalam rangkaian Collaborative Blogging yang mengangkat topik seputar dunia digital, dan dishare di web Emak2 Blogger dengan judul Menghapus Jejak Digital, Seberapa Pentingkah?. Kebetulan tema ini sangat pas dengan apa yang baru-baru ini saya alami. Ceritanya begini...

Sabtu adalah jadwal anak-anak, khususnya si sulung Olil bermain laptop, well, tepatnya main game online. Game yang biasa dia mainkan selalu update di YouTube, jadilah tiap mo main game dia selalu nonton YouTube dulu. Buka YouTube berarti buka home dulu dong ya, fatalnya saya lupa delete hasil searchingan semalam, gak neko-neko siy, cuma tayangan ulang perdebatan tentang bahaya pornografi, namun saya lupa menyeting restricted mode untuk dinyalakan.

Yasudah, akhirnya munculah gambar-gambar yang linked dengan tema seputar pornografi. Tidak ada yang seram siy, cuma tetap saja meski judulnya berita namun thumbnailnya ya ada unsur pornonya juga. 

Sejak itu, tiap kali selesai browsing berita kekinian, bahkan update Facebook sekalipun, selalu saya delete history di laptop maupun di HP. Segitunya ya? Biarin dech, yang penting anak tidak terpapar konten negatif yang belum waktunya dia tahu, atau kepo dengan beranda Facebook kita yang isinya kadang perlu penjelasan ketika yang lihat adalah anak yang masuk usia tamyiz, alias usia kritis saat anak sudah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

jadi, kalau ditanya perlukah kita menghapus jejak digital? Perluuu...kalau kita bicara soal konten dan dampaknya ke anak-anak. Lantas, untuk history di akun-akun medsos semisal Facebook dan instagram, gimana? Kalo saya, ndak perlu, dengan syarat anak-anak tidak ada izin untuk mengakses akun-akun medsos kita. 

Plus, rajin-rajin logout setelah login di PC maupun via HP kalau saya, kenapa? Ngeri aja kalau-kalau tiba2 laptop dan HP saya dicuri, tapi semoga nggak, Naudzubillah Min dzalika kalo sampai beneran kecurian. He he..Parno banget ya kesannya. Yawdah, biar tidak parno beberapa tips berikut bisa dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

1. Sebelum mengizinkan anak mengakses gadget, cek dulu histornya. Kalau sudah aman baru kita persilakan.

2. Tetap dampingi anak, minimal cek sambil lalu namun tetap diawasi. Tapi jangan terus-terusan juga ngawasinya, nanti anak jadi merasa tidak dihargai, terutama dari sisi kepercayaan kita terhadapnya.

3. Rajin ganti password,meski jangan keseringan juga nanti malah lupa pasword sendiri.

4. Luruskan niat, bahwa jejak digital yang kita hapus memang untuk kebaikan, bukan cheating dari suami, sehabis stalking akun orang, terutama lawan jenis yang kita tak punya kepentingan. Jaman sekarang, dunia digital seperti pisau bermata dua, semoga kita semakin bijak menggunakannya.



Selektif Memilih Grup WhatsApp

8 Comments

Grup Whatsap kok musti diseleksi sich? Buat saya, itu hal wajib sebelum memutuskan minta gabung atau mengiyakan ketika diajak gabung. Merespon tulisannya Mak Adelina yang membahas lengkap soal grup Whatsap ini, jadi makin menguatkan saya untuk selektif bergabung di sebuah grup. Alasannya selain menjaga stabilitas handphone saya yang gampang nge-hang, kebanyakan grup membuat saya larut hingga lupa dunia nyata. 

Lantas, grup seperti apa yang membuat saya bertahan untuk tetap berada di dalamnya? Pertama, grup wali murid sekolah anak, ini penting karena banyak sekali informasi yang bisa kita dapat. Ditambah, kita bisa saling kenal antar sesama orang tua murid, tahu kabar satu sama lain dan bisa sharing mengenai perkembangan anak di kelas. Grup kedua adalah grup keluarga, entah itu keluarga besar dari bapak, maupun keluarga besar ibu. Tak lupa, keluarga besar saya yang di dalamnya ada bapak, ibu dan saudara-saudara kandung, padahal rumah kami berdekatan tapi terasa sangat besar manfaatnya ketika kami suatu saat saling berjauhan, atau satu dari kami sedang melakukan perjalanan. Ketiga adalah grup komunitas, misalnya komunitas menulis yang sifatnya sementara atau seperti yang digagas Emak-emak Blogger dengan Collaborative Bloggingnya, atau grup Khataman Al-Qur'an, keywordnya adalah ada ilmu yang bisa saya peroleh dari grup komunitas ini. Keempat adalah grup yang bersifat sementara semisal grup kepanitian seminar parenting, kepanitiaan kenaikan kelas sekolah, pokoknya yang sifatnya temporal dan akan dihapus jika acaranya sudah selesai. 

Sedangkan grup yang membuat saya tidak betah, ternyata banyak juga. Diantaranya adalah grup yang bikin handphone saya sering hang dan cepat panas, penyebabnya karena banyaknya notif hingga ribuan dalam hitungan menit. Kalau sudah begini, saya pamit dan mundur teratur. Grup lainnya adalah grup alumni yang isi bahasannya gak penting, bahkan cenderung membangkitkan masa lalu semisal CLBK. Bukan apa-apa, bagi mereka yang sudah menikah ini akan menjadi sumber petaka jika kita tak pandai untuk menempatkan diri, coba saja kita tanyakan pada diri sendiri jika tetiba sang 'mantan' atau jaman SMA orang yang kita kagumi tiba-tiba menyapa di personal roomchat, kalopun gak sampe deg-degan, minimal keringetan kan? 

Grup lain yang sudah pasti saya tinggalkan adalah grup jualan, maaf-maaf niy yaa. Bukan apa-apa, saya termasuk yang gampang tergoda dengan barang- barang semisal kerudung, gamis, panci dan lainnya. Daripada tak kuat menanggung beban syahwat, lebih baik tutup mata lalu pamit sambil mengusap air mata tanda tak rela. 

Nah, itu sekelumit kisah mengenai dunia per-WhatsApp an yang saya alami beberapa tahun terakhir ini. Yup, teknologi yang semakin canggih bagai pisau bermata dua, kalau kita tak pandai-pandai menjaga, tentu akan binasa. Semoga kita semakin bijaksana, karena kita sudah emak-emak yang tak lagi muda.






Bekal Sekolah yang Halal dan Thayib

Add Comment

Menjadi istri, ibu dan anak dari ayah kita adalah sebuah anugrah dan memberikan yang terbaik untuk keluarga adalah sebuah pilihan yang pastinya nanti kan dipertanggungjawabkan. Termasuk dalam hal ini adalah soal makanan. Tahun ajaran baru ini bisa jadi adalah tahun tersibuk saya sebagai ibu terutama dipagi hari, ini karena abang O tak mau lagi ikutan katering di sekolah. Awalnya agak panik juga karena berarti setiap jam 5 pagi saya harus ke warung, lalu masak dan jam 6.15 semuanya harus sudah matang dan siap dibawa abang O ke sekolah.

Dua hal yang saya lakukan ketika memutuskan untuk membuat bekal makanan, pertama senantiasa memperhatikan standar makanan untuk keluarga yaitu musti halal dan thayib. Kedua, mencari resep-resep pilihan agar tidak bosan tentunya. Untuk resep, sudah banyak di internet dan toko-toko buku, kita tinggal memilih mana yang cocok dengan selera keluarga. Nah, untuk urusan makanan halal dan thayib ini yang gampang-gampang susah.

Dulu waktu di Logan, karena muslimnya minoritas maka saya harus nyetok daging dan ayam yang disembelih secara Islam. Setiap bulan ada sister yang datang dari ibu kota Utah, membawakan 6 ekor ayam beku plus groundbeef untuk persiapan masak sebulan. Dari sisi hahal sudah aman, tapi dari sisi thayib sebenarnya saya agak kurang sreg saat itu. Kenapa, ya karena pastinya beda kualitas daging beku dengan daging fresh. Kenapa thayib ini perlu jadi perhatian khusus, karena dalam Al-Qur'an juga disebutkan," maka makanlah makanan yang halal lagi thoyyib(baik) dari rizki yang telah Allah berikan kepadamu dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya menyembah kepadaNya””. (TQS An Nahl;114). Thayib di sini bermakna baik, tidak berbahaya bagi tubuh, akal pikiran dan urat syaraf manusia.

Semenjak pulang ke Indonesia, saya sedikit lega karena makanan halal dan thayib cukup mudah di dapat. Ikan, ayam dan daging pun beraneka rupa dan harganya juga cukup terjangkau, meski belakangan para ibu ketar ketir dengan isu sapi gelondongan, ayam tiren, makanan dengan pewarna tekstil, bakso celeng yang bikin geleng-geleng, hiks..sungguh menyesakkan.

Kalau sudah begini, kita sebagai orang tua dituntut untuk selalu waspada dan semakin mengencangkan ikat kepala, plus koyok cabe kali ya? untuk makanan halal dna thayib ini memang bukan hal sepele, pemilihan makanan berkualitas baik, komposisi gizi yang seimbang, tidak mengancam kesehatan dan tentu saja berstatus halal sejatinya menjadi concern kita semua duhai para ibu. Kalau semuanya sudah kita optimalkan, tinggal banyak-banyak berdoa agar apa yang kita sudah lakukan dicatat sebagai amalan yang tidak sia-sia.

Faktor lainnya sebenarnya adalah peran negara. Jaminan makanan halal dan thayib menjadi tugas negara untuk selalu menjaga ketersediaannya, selain itu paradigma agama terkait produk makanan haram telah menetapkan bahwa bahan pangan maupun makanan yang tidak halal bukan merupakan barang ekonomi, sehingga tidak layak untuk beredar di pasar-pasar. Maka negara yang bertanggungjawab terhadap rakyat harusnya tidak abai dan ketat dalam mengawasi peredaran makanan di pasar-pasar, begitu kurang lebih pandangan Islam terkait makanan halal dan thayib yang bersifat solutif secara sistem.  Sambil meracik menu ayam bumbu ungkep bawang putih, kangkung bumbu saus tiram, dan sosis sambal ramah lidah, saya senantiasa bergumam semoga negara semakin sadar dan bertanggungjawab terhadap ketersediaan jaminan makanan halal, dan semoga abang O suka dengan bekalnya hari ini.

Usia Empat Puluh

Add Comment

Jelang 40, masa dimana usia telah matang dan waktu untuk berbenah menyiapkan bekal perjalanan ke akhirat nanti, menjadi semakin sedikit.

Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri"." (QS. Al-Ahqaf: 15)

Mengelola Amarah

Add Comment



Daun yang telah gugur tak akan kembali ke dahannya, tapi dahan yang telah patah ada saatnya kan bersemi kembali.

Luka,tersakiti dan kecewa pasti pernah kita rasakan. Jika penoreh luka itu adalah seseorang yang sejatinya ingin menjaga kita, mengingatkan kita dan membawa kita dalam ketaatan, maafkanlah...jangan biarkan diri ini larut dalam murka, emosi, kecewa dan mengikis keikhlasan.

Gugurkanlah rasa marah seperti daun-daun yang berjatuhan menjelang musim dingin, perbaharuilah hati ibarat dahan yang meski telah patah, namun energi positif memampukannya melahirkan daun daun muda yang akan tumbuh menjadi pohon yang kokoh, kuat dan tak mudah tumbang meski badai menghadang.

Maafkan...maafkan..maafkan, tak inginkah kita meraih pahala seperti yang diriwayatkan Ibnu Majah berikut: "Barangsiapa menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melakukan –pembalasan– maka Allah lakan memanggilnya di hari kiamat di hadapan para makhluk sehingga memberikan pilihan kepadanya, bidadari mana yang ia inginkan.”

Mengolah Kembali Makanan Sisa, Yay or Nay?

4 Comments

Belum lama ini Mak Maya Siswadi, salah satu anggota KEB (Kumpulan Emak-Emak Blogger) merilis tulisan berjudul Makanan Sisa, Diolah Lagi atau Dibuang? Saya yang lagi gandrung bebikinan alias masak jadi penasaran dengan isi tulisan seputar leftover alias makanan sisa ini. Alasannya simple, saya lagi butuh banyak variasi menu karena abang O ingin membawa bekal makanannya dari rumah, menikmati masakan emaknya setiap hari dan gak mau lagi ikutan katering. 

Ternyata ada beberapa makanan sisa yang bisa diolah lagi lho, semisal Capcay yang full sayuran bisa diolah lagi dengan mie, dan rasanya tak kalah enak. Saya jadi ingat saat hidup di perantauan yang sudah jadi rahasia umum kalau irit itu sudah menjadi gaya hidup terutama saat mengatur uang belanja. Nah, memanfaatkan makanan sisa alias leftover ini kerap saya lakukan juga. Bersyukurnya lagi, masakan para londo itu tak lebih dari empat komponen saja; minyak zaitun, garam, lada hitam dan bawang putih. Makanya, masakan sejenis Pizza atau Lasagna yang paling jadi pilihan terakhir ketika ada ayam panggang sisa, atau semur daging sisa yang bisa kita jadikan toping ditambah pasta tomat dan mozarella. Kalau lagi malas, biasanya saya bikin nasi goreng ala kadarnya, tinggal tumis ayam atau daging sisa, ditambah bawang putih halus dan garam, kasih kecap sedikit, done! Hasilnya? kalo lagi di rantau, masakan apapun yang berbau kampung halaman pasti terasa nikmat. Hehe

Jujur untuk  masakan sisa berbahan sayuran, selama diperantauan belum pernah saya lakukan, yang paling sering ya itu tadi, daging dan ayam sisa saya gunakan kembali untuk menu yang berbeda. Dulu, punya bumbu instan bak nemu harta karun karena untuk mendapatkannya harus menempuh 2,5 jam dengan kendaraan. Makanya, setiap bikin gulai dari bumbu instan kuahnya tidak saya buang tapi digunakan kembali menjadi bumbu ungkep ayam ditambah garam, lalu jadilah ayam goreng bercita rasa gulai.

Menyusui Ketika Suami Jauh

2 Comments
sumber gambar:https://www.retailpharmacymagazine.com.au/event/world-breastfeeding-week/


World Breastfeeding Week memang sudah berlalu, namun gaungnya masih dirasakan para ibu, termasuk saya. Pengalaman paling berkesan saya rasakan ketika menyusui anak kedua, perjuangannya benar-benar menguras emosi, tenaga, pikiran dan air mata. Oya, ini adalah colaborative blogging bertema ASI merespon tulisan keren Mak Istiana Sutanti, salah satu admin Komunitas Emak-Emak Blogger, berjudul ASI dan Perkembangan Media Sosial.

Jadi ceritanya, dulu saat hamil anak kedua  saya dan suami memutuskan untuk LDR sementara. Suami stay di perantauan sementara saya memilih pulang padahal saat itu usia kandungan memasuki enam bulan. Alasan utamanya karena saya ingin lahiran di Indonesia, dekat dengan keluarga dan baby inside tidak perlu dipusingkan dengan masalah kewarganegaraan.

Keputusan yang kami ambil saat itu memang gak mudah. Banyak yang menyayangkan, bahkan dokter kandungan di sana menahan saya untuk pulang. Bahkan tetangga asal Timur Tengah menganggap keputusan kami tak masuk akal, disaat justru banyak yang ingin lahiran di Amrik, bahkan sepupunya sendiri sengaja terbang ke negeri paman Sam ketika hamil 7 bulan, dan baru kembali ke negaranya setelah dua bulan melahirkan, demi apa coba? Kewarganegaraan!

Tapi entah kenapa, saya tidak berminat. Semakin ditahan justru kerinduan akan kampung halaman semakin membuncah, akhirnya bela belain terbang selama 17 jam di udara, berdua saja dengan si sulung dan rela kaki menjadi bengkak hingga lahiran.

Arti Sebuah Toleransi

2 Comments


Minggu ini, adalah minggu yang cukup hot apalagi kalau ada kaitannya dengan isu SARA. Biarin ah saya bahas soal SARA, toh tulisan ini tak bermaksud menebar kebencian ke pihak-pihak tertentu, saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya lihat, saya dengar dan rasakan. 

Ngobrolin masalah rumah ibadah, jadi ingat empat tahun lalu saat masih tinggal di USA, yang tak pernah lupa adalah Islamic Center yang kami pakai untuk berbagai kegiatan keislaman termasuk untuk sholat, speaker yang dipakai ya speaker dalam. Kita juga tahu diri lah, tinggal sebagai minoritas yang alaminya 'menghargai' mayoritas. Makanya saya agak menyayangkan, sikap ibu yang menjadi pemicu kerusuhan (saya riset lho ya kronologis kejadiannya dengan mencari berbagai sumber, baik media islam maupun media nasional), yang protes dengan suara azan, ngomel dan memicu kemarahan warga. 

Buntutnya, warga mendatangi rumahnya namun tidak ada kesepakatan perdamaian, marahlah warga dan merusak rumah ibadah berupa vihara. Sebagai minoritas saat di merantau dulu, kita diminta untuk menghargai aturan yang berlaku, semisal saat puasa, saya nggak bisa protes para bule untuk menghormati yang sedang berpuasa. Pun saat sholat, suara azan benar-benar kedap suara dan kita selalu bersabar dengan itu. Saya tidak mendukung aksi perusakan rumah ibadah, karena dakwah pemikiran tidak boleh dengan kekerasan, tapi siapapun yang naluri pertahanan dirinya dipancing, ya pastilah amarahnya akan keluar.

Produktif dengan Bekal Sekolah

2 Comments




Tak terasa sudah dua minggu abang O bawa bekal dari rumah, ternyata banyak hal positif yang saya dapat. Pertama, ada korelasi positif abang O bawa bekal dari rumah dengan berat badannya(entahlah,ini positif atau negatif), yang pasti abang O kelihatan lebih segar,membulat tapi kenceng badannya. Kedua, abang O kelihatan bersemangat, mungkin karena bisa rikues menunya, dan jam makan siang dia share lauk ke teman2nya(kalo yg ini saya suka bingung gimana ngesharenya). Ketiga, tentu lebih hemat dan irit(pernyataan provokatif), keempat tentunya saya (agak memaksakan diri),untuk nyari resep2 agar masakan lebih variatif dan menarik. Kelima, jam 7 saya sudah bisa leyeh2, karena masakan sudah siap, lantai sudah kinclong dan cucian sudah bertengger manja di jemuran. Setrikaan?..serahkan pada ahlinya he he. Iyap, mau nggak mau para ibu memang dituntut lebih cekatan, kreatif dan produktif. Apapun motivasinya, yang jelas tak melulu berkaitan dengan uang. Maksudnya, kita biasanya akan produktif kalo banyak aktifitas tapi waktunya sempit, kita biasanya lebih kreatif menyusun menu saat budjet tak mencukupi, dan perempuan berstatus emak biasanya harus cekatan saat sedang memainkan banyak peran, entah saat menjadi guru, chef, bahkan berkiprah di masyarakat dengan dakwah.

Yuk ah bu, jadi IRT produktif. Di luar sana masih banyak mamah mamah yang perlu kita ajak silaturahmi, masih ada para ustadzah yang bisa kita datangi dan mendapat ilmu darinya, dan masih menganga luka umat yang bisa kita beri empati. Semoga kita semakin peduli.

Bekal Sekolah Anak

Add Comment


Fixed! Abang O mau stop katering dari sekolah, mau bawa dari rumah aja katanya. Alasannya, selain bisa rikues, masakan rumah lebih variatif. Jadilah seminggu ini bak bik buk di dapur, rajin ke warung dan mulai ngumpulin tempat makannya yang ngumpet di pojok2 lemari.

Menu kemarin, stik ayam(sausnya terpisah dan gak kepoto), sosis goreng (sedikit)tepung dan sayuran kukus.

Menu hari ini?..Tempe goreng, beef teriyaki dan sop sopan. Resepnya?..hanya stik yg agak tricky dan lumayan serius masaknya.

Resepnya sbb:
Bahan: ayam filet
Bumbu: bawang putih 3 siung(untuk dua dada ayam filet), garam satu sendok teh, saus teriyaki(bisa kecap manis),terigu dan sagu(tapioka).
Caranya: ayam di rendam bumbu(bawang putih dan garam yg dihaluskan), bakar (bisa di atas teplon/kuali), kalau sudah mateng diangkat.
Nah, bekas2 bumbu baik yg nempel di teplon maupun di bekas rendaman ayam kita tumis, dengan menambahkan minyak goreng sedikit. Kalo dah harum dan matang,masukan terigu dan sagu yg sudah dicairkan di mangkok, lalu aduk2 hingga mengental, tambahkan sedikit saus teriyaki atau kecap. Done!

Rasanya?..lumayan enak Alhamdulillah. Anak-anak suka, meski aktivitas emak lumayan padat merayap, rutinitas ini bikin emak semangat menjalani tanpa lelah dan mensyukuri.

Menyiapkan Anak Menuju Kedewasaan

Add Comment



Anak-anak sekarang cepat besar. Ya, usia baligh makin maju dibanding zaman orang tuanya. Dulu, anak-anak mulai baligh, paling cepat saat duduk di bangku SMP. Itupun kelas 2 atau 3, sekitar usia 14 atau 15 tahun. Bahkan, ada yang tamat SMA baru baligh. Tapi kini, anak-anak SD, usia 10 tahun pun tak sedikit yang sudah mengalami mimpi basah bagi laki-laki atau menstruasi bagi perempuan. Padahal, secara mental dan pemikiran, mereka belum siap “dewasa”. Ini terlihat dari pola pikir dan perilakunya yang masih “kanak-kanak”. Padahal, baligh adalah batas antara anak-anak dan dewasa.

Tak ada istilah anak baru gede (ABG) atau remaja, yang seolah mengamini kekanak-kanakan mereka. Ini tentu memprihatinkan, mengingat besarnya konsekuensi bagi anak-anak yang sudah baligh, di mana mereka berarti sudah harus siap menjadi manusia seutuhnya. Lantas bagaimana orang tua menyiapkan anak-anaknya menuju gerbang kedewasaan? Berikut ini ada beberapa hal yang harus dipahami:

1. Memahamkan Konsep Baligh

Tanda-tanda kedewasaan anak berupa perubahan fisik akan datang dengan sendirinya, sekalipun tanpa dipersiapkan. Artinya, kita tidak bisa mematok anak saya sebaiknya baligh usia 15 tahun saja atau nanti kalau sudah SMA saja. Semuanya alami, datang begitu saja tanpa diundang. Yang bisa kita lakukan hanyalah memberi informasi secara terbuka dan jelas kepada anak, mengenai konsep baligh dan perubahan fisik anak.

2. Menyiapkan Aqliyah

Beda dengan perubahan fisik, aqliyah atau pola pikir anak serta mentalnya, tidak bisa dibiarkan tumbuh begitu saja, melainkan harus “diisi” untuk mempersiapkan kedewasaan. Ya, kerap terjadi pertumbuhan fisik dan akal anak tidak seimbang, di mana fisik sudah bligh, tapi pemikiran masih nol. Idealnya, akil-baligh itu satu paket. Ketika perangkat fisik pada diri anak sudah matang, akal dan mentalnya pun harus menjadi dewasa. Maksudnya, jika organ kelamin primer dan sekunder sudah matang, cara berpikir dan sikap mental anak juga sudah menunjukkan kedewasaan. Caranya, dengan mengajak anak berpikir dan berdialog tentang konsep-konsep kehidupan, khususnya sebagai Muslim. Orang tua harus selalu mengajak anak berpikir, mengajarkan nilai-nilai Islam dan memahamkan berbagai syariat Islam, sehingga begitu baligh sudah siap memikulnya.

3. Tanamkan Tanggung Jawab

Setiap anak punya dorongan untuk mandiri dan bertanggung jawab. Jadi, jangan ambil tanggung jawab mereka. Biarkan mereka menyelesaikan dengan kepercayaan yang diberikan dengan sepenuh hati. Jika mereka berhasil, memang itu yang diharapkan. Jika tidak, jangan serta merta dihukum karena konsekuensi negatif atas kegagalannya saja sudah cukup berat. Sudah terjatuh, tertimpa tangga pula. Yang penting, ajak anak berkomunikasi atau berdialog agar merasa dianggap benar-benar sudah dewasa.

4. Ajarkan Kemandirian

Anak yang menuju baligh, harus sudah disiapkan untuk mandiri. Tahapan-tahapan yang bisa kita lakukan adalah dengan meneladani jalan parenting-nya Ali bin Abi Thalib. Pada tujuh tahun pertama, jadikan anak sebagai amir atau putra mahkota. Ya, usia golden age ini, anak-anak masih sangat tergantung pada orang tua sehingga harus selalu dilayani bak pangeran. Tujuh tahun kedua, ajarkan dan jadikan mereka sebagai asir, pelayan, atau tawanan. Maksudnya, mereka harus mulai bisa melayani diri sendiri, bahkan membantu orang lain. Tujuh tahun ketiga, perlakukan anak sebagai wazir atau orang kepercayaan. Tahapan ini jika dijalankan dengan baik, insya Allah akan menghantarkan anak menjadi pribadi yang utuh dan matang.

5. Cukup Pengawasan

Pengawasan diam-diam terhadap anak, merupakan metode ampuh. Ciptakanlah ruang anak untuk 'bebas', tetapi tetap dalam pantauan orang tua. Sehingga, anak merasa memiliki ruang untuk keegoannya sebagai sosok yang mulai tumbuh dewasa, tanpa merasa dikekang. Sebaliknya, orang tua tetap bisa mengawasi perkembangan anaknya, baik fisik maupun mentalnya



Sumber tulisan: http://mediaumat.com/muslimah/3306-61-menyiapkan-anak-menuju-kedewasaan.html

Keinginan atau Kebutuhan?

Add Comment

Kenapa fotonya buah yak? Yah, nggak beda jauh lah ya dengan judulnya, memilih antara kebutuhan atau keinginan (maksa). Jadi ceritanya bulan ini di rumah lagi banyak tragedi, kulkas rusak total plus TV, kedua barang ini rusaknya gak tanggung tanggung danbiaya servisnya seharga beli baru. Kalau Tv mungkin karena sudah uzur ya, jadi wajar kalo rusak. Lah kalo kulkas? baru setahun sudah mati kompresornya, penyebabnya ternyata karena sering mati lampu dan tombol lampunya sering dimainin Issam. 

Akhirnya setelah berunding dengan suami dan kebetulan pas ada rezekinya, kami putuskan untuk membeli kulkas yang pas dikantong tapi high quality. Dua minggu setelah beli kulkas, kami pun membeli TV dengan merk yang sama, tapi ya tadi, yang penting pas di kantong dan gak mengecewakan. Rupanya, membeli barang secara berturut-turut ini memunculkan polemik which is kakak saya sempat mempertanyakan, "Ki, kok bebelian mulu siy. Ati-ati ntar jadi gaya hidup.." 

Doeng! bagaikan dipukul godam, saya cukup lama merenung dan berpikir apakah yang saya lakukan ini salah dan melampaui batas. Saya coba mereview kembali, benarkah saya membeli kedua barang ini karena memang butuh, bukan ikutan tren apalagi menjadi gaya hidup. Terlepas dari itu, saya sangat bersyukur punya keluarga yang perhatian dan kami saling menjaga. Intinya dalam hidup apa yang mau kita capai semata memang karena kita betul-betul membutuhkannya, bukan karena bosan lantas gonta ganti bak beli permen seharga lima ratusan.

Bagi saya dan suami, barang kalau belum rusak ya nggak perlu diganti buru-buru. Kalau sudah rusak dan kita butuh untuk memudahkan aktivitas harian, biasanya akan dipertimbangkan untuk membelinya. Tapi semuanya kembali pada kondisi kantong, kalo kas negara lagi kosong melompong ya kami bersabar, dan  kalau kebetulan ada rezeki, kami pun membeli setelah rapat diadakan sepanjang pagi, hehe.

Pada akhirnya, semua dikembalikan pada isi kepala masing-masing. Namun sebagai muslim, tentunya kita memang perlu punya patokan sebelum memutuskan ketika dihadapkan pada pilihan. Misalnya ketika ingin membeli sesuatu, yang pertama kali dilakukan adalah menetapkan kita sebenarnya butuh atau sekadar mengikuti hawa nafsu. Kedua, perlu kiranya memperhatikan akad-akad saat bertransaksi, apakah mengandung unsur riba, melakukan dua akad dalam satu transaksi atau bahkan berhutang tapi tak mau membayar. Rumit? nggak juga, InsyaAllah kalau mengikuti rule dari Sang Pencipta, hidup akan menjadi tentram. Tak percaya? coba saja buktikan. 



Menjadi Bunda Cerdas dengan ABC (Andalan Bunda Cerdas)

2 Comments
pelataran gedung MUI Kota Depok
Ada pemandangan berbeda di pelataran gedung MUI kali ini, biasanya pada setiap acara publik jarang didapati tenda khusus kids corner yang lengkap dengan wahana bermain anak, tapi khusus even ini terlihat kesigapan panitia dalam mengantisipasi peserta yang membawa anak, semata agar para bunda fokus menyimak acara tanpa terganggu dengan anak-anak yang diajak serta. Ya, Sabtu kemarin tepatnya tanggal 25 Juni 2015, telah berlangsung acara keren yang digagas ABC (Andalan Bunda Cerdas). Mengambil tema 'Kiat Cantik dan Sehat Selama Berpuasa', acara berupa talkshow ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, ada dokter Nanny Djaja yang merupakan pakar nutrisi, dan Artika Sari Devi, ibu dari dua anak dan merupakan brand ambassador P&G.
Kids Corner
Tak tanggung-tanggung, ratusan peserta dari berbagai kecamatan yang ada di Kota Depok memadati ruangan. Bahkan ada peserta yang sengaja datang dari Jakarta dan Bogor demi menyerap ilmu yang disampaikan oleh narasumber. Peserta juga sangat antusias selama acara berlangsung, selain materinya menarik, hostnya juga atraktif ditambah acara ini juga banjir hadiah yang disediakan sebagai reward bagi peserta yang aktif bertanya. Ah, pokonya rugi dech kalo nggak dateng!

Talkshow diawali dengan apresiasi yang diberikan oleh mbak Artika Sari Devi, beliau mengutarakan rasa salutnya pada semua bunda, terutama yang hadir di acara karena sudah menyempatkan diri untuk datang, di tengah kesibukan bunda menyiapkan menu untuk sahur dan berbuka, sering terjaga bila malam tiba dan aktifitas harian bunda yang menyita pikiran dan tenaga. Selanjutnya pembahasan seputar puasa dan kecantikan dalam dan luar tubuh, disampaikan oleh dokter Nanny selaku pakar nutrisi, menurut beliau pola makan  saat puasa berpengaruh pada tubuh. Pemilihan makanan yang tepat menjadi hal penting untuk diperhatikan, 

Berpuasa berarti menahan diri dari makan dan minum dan segala hal yang membatalkan, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Biasanya problem utama para bunda dan orang pada umumnya adalah menahan rasa lapar, nah dokter Nanny menganjurkan untuk memilih makanan yang mampu menahan rasa lapar dalam waktu yang cukup lama, serta mengandung kadar air. Maka, konsumi buah dan sayur adalah pilihan tepat, misalnya pepaya, tomat serta berbagai jenis buah dan sayur lainnya.

Pengolahan makanan ternyata juga berpengaruh pada puasa kita, biasanya selepas sahur dan di siang hari kita diserang kantuk yang tak tertahankan. Nah, saran dokter Nanny, saat kita mengolah lauk pauk yang banyak mengandung protein hindari diolah dengan cara digoreng. Bahkan sebaiknya kita mengurangi konsumsi gorengan saat sahur dan berbuka, kenapa? Karena secara ecara ilmiah, konsumsi gorengan membuat tubuh membutuhkan oksigen lebih banyak, itulah yang menjadi sebab kenapa kita kerap mengantuk saat berpuasa. Pemilihan karbohidrat sebagai sumber energi juga harus menjadi perhatian para bunda, mbak Artika Sari Devi menyarankan untuk mengonsumsi beras merah yang mengandung banyak serat. Selain menghasilkan tenaga, beras merah lebih mengenyangkan dan membantu menahan rasa lapar lebih lama.

Selain pola makan saat puasa, kita juga perlu memperhatikan kesehatan kulit dan rambut. Untuk perawatan kulit, gunakan pelembab setiap hari diwaktu pagi dan malam, tak lupa perbanyak konsumsi kacang-kacangan untuk menjaga peremajaan kulit. Sedangkan rambut, disarankan menggunakan shampo dan kondisioner agar kesehatan rambut tetap terpelihara.


dua narasumber Andalan Bunda Cerdas


Selain paparan lugas dari dokter Nanny, mbak Artika juga memberikan tips yang tak kalah menarik seputar puasa. Bahwa puasa juga berkaitan erat dengan kecukupan jam tidur, karena tidur paling berpengaruh terhadap kesehatan. Saat tidur regenerasi sel terjadi dan karenanya, kita dianjurkan tidur minimal 7 jam sehari. Paling menarik adalah, bagaimana meningkatkan mood booster kita saat puasa? ternyata ada makanan yang bisa jadi mood booster loch, yatu makanlah buah pisang. Kenapa pisang? karena pisang mengandung seratonin yang membantu mengarahkan mood secara positif. 

Selama pemaparan berlangsung, para bunda sangat antusias mendengarkan. Bahkan setelahnya, banyak pertanyaan dari para bunda seputar tips dan kiat agar tetap cantik dan sehat selama berpuasa. Secara umum, talkshow yang diselenggarakan oleh program ABC (Andalan Bunda Cerdas) ini sukses dan para bunda yang hadir semakin tercerahkan.



Kita sering mendengar ungkapan 'dibalik pria sukses, ada wanita hebat di belakangnya'. Nah, untuk kesuksesan acara ini ternyata tak lepas dari kesigapan panitia dan profesionalitas program ABC (Andalan Bunda Cerdas). Apa itu ABC yang sejak awal saya sebut-sebut sejak awal?  Yuk ah kita kenalan....

Andalan Bunda Cerdas (ABC) adalah sebuah program kerja sama antara Alfamart dan P&G yang bertujuan untuk membantu Bunda, agar semakin Cerdas dalam mengurus rumah tangga sehingga menjadi Bunda, Istri, dan bunda Rumah Tangga yang sempurna bagi keluarga.  ABC didesain untuk menjadi sahabat sejati dan partner Andalan Bunda.

Apa saja program-programnya? ABC memberikan Informasi, tips dan artikel penting dan bermanfaat seputar kecantikan wanita, kesehatan, keluarga dan dunia si kecil. Salah satu tips andalannya adalah Manfaat Tidur Nyenyak untuk Si Kecil, Tips untuk Para Ibu Baru, Anjuran dan Larangan Seputar Popok, Seputar Masalah Rambut dan banyak lagi.


ABC juga memiliki dan menyediakan produk-produk berkualitas yang menjadi andalan bagi seluruh keluarga, sebut saja produk-produk seputar perawatan rambut seperti Pantene, Head & Shoulders, Rejoice, Downy, Gillete, Pampers, Olay, Ambi Pur, Vicks dan Oral-B. Tak kalah menarik adalah adanya promosi-promosi menarik dan hadiah seru, berupa A-Voucher diskon yang merupakan program andalan dari ABC alias Andalan Bunda Cerdas, voucher digunakan untuk memberli produk-produk P&G di Alfamart terdekat.

Berminat? Hayuuuk bergabung, caranya gampang. Tinggal Klik ke website Alfamartku, di http://www.alfamartku.com/andalan-bunda-cerdas/ , masukan no HP, akan mendapatkan SMS A-voucher berupa potongan harga produk P&G. Kita juga bisa menghubungi via call center di (021) 1500.959 kemudian tunggu pilihan dan tekan angka 4, call centre ini bisa di hubungi dari telp rumah atau HP. Gampang khaaan?...Ayoo, tunggu apalagi, daftarkan segera yaa. Selain Alfamart dan P&G, acara ini juga didukung oleh Tabloid Nyata. Terbit setiap hari Sabtu, mengupas seputar hiburan, film, kuliner, keluarga, wisata dan komunitas. Penasaran? buruaaan, grab it fast ya!






Muhammad Ali dan Muslim di Amerika

6 Comments

Melihat prosesi pemakaman petinju legendaris Muhammad Ali kemarin, jadi mengingatkan saya saat merantau tiga tahun lalu. Terlepas dari kontroversi seputar pemakamannya yang sudah lebih dari tiga hari, penyelenggaraan sholat jenazah di Kentucky Exposition Center yang terkesan tidak rapi, namun tak dipungkiri pemakaman Muhammad Ali seolah menjadi pembuka jalan bagi non muslim Amerika, untuk melihat Islam lebih dekat.

Ini bagai oase di tengah gurun mengingat beberapa tahun belakangan terutama pasca Paris Attack, Islamophobia meningkat tajam di US. Seperti yang diberitakan page resmi CAIR(Council of American-Islamic Relations)baru baru ini, diberitakan bahwa seorang pria bersenjata melakukan teror dan mengancam akan meledakan Masjid Al-Madina yang berlokasi di North Carolina. Bukannya tak ada ajakan untuk berbicara secara damai, sudah.. tapi pria itu menolak dan memilih untuk pergi.

Saya jadi ingat kejadian tahun 2012 lalu, saat pulang dari masjid di Logan Islamic Center (Utah), lagi asyik bersenandung tetiba dari belakang diteriaki 3 pria bertopeng. Kaget juga awalnya, tapi langsung secepatnya mengambil sikap tenang, dan tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa saya mengalami Islamophobia juga(akhirnyaaa...). Terlebih, di tempat tinggal saya saat itu termasuk wilayah yang aman, jauh dari hingar bingar nuansa Amerika yang serba liberal. Penduduknya termasuk pemeluk Mormon yang taat, baik hati dan tidak sombong.

Sebagai minoritas, cukup berat memang ketika kita berupaya menunjukan identitas sebagai muslim. Apalagi dengan hijab yang merupakan kewajiban bagi setiap muslimah. Belum lagi saat Ramadan tiba, Subhanallah godaan dan ujiannya. Waktu puasa yang panjang (saat Ramadan di musim panas) sekitar 17 jam, pedihnya mata ketika banyak para bule berjemur di siang hari, dan yang cukup menguji kesabaran adalah saat kita tengah melatih anak berpuasa, namun ia juga tercatat sebagai salah satu siswa yang harus berjibaku dengan teman-teman yang belum tahu, kalau ia tengah berpuasa. Pernah Khalil ditawari popcorn padahal dia tengah berpuasa, dia katakan"no thanks, I am puasa"..karena gurunya nggak ngerti, dimakanlah itu popcornnya. Ya Iyalah, Liiiil...

Beratnya puasa saat menjadi minoritas, tentu tidak boleh membuat kita berputus asa. Hijab tetap wajib kita pakai, puasa tetap wajib kita jalankan, tak perlu takut. Bukankah Amerika pun termasuk bumi Allah tempat kita berpijak? Kalau belum diserang secara fisik, tak perlu parno alias takut. Saya pernah, sholat di tempat pemberhentian bus di atas dinginnya salju dan saat itu kebetulan lagi sepi. Gugup iya, tapi yasudah jalani saja, sebagai konsekwensi kekurang berstrateginya saya dalam memperkirakan waktu sholat.

Apa yang saya lakukan dan apa yang almarhum Muhammad Ali tinggalkan, menjadi salah satu uslub(cara) penghantar dakwah agar orang yang belum mengenal Islam lebih dekat, setidaknya akan sedikit membuka diri untuk muslim. Memang kita tidak bisa berharap banyak karena yang mampu membuat orang paham, dan tidak mudah terbawa opini yang berkembang adalah adanya diskusi. Ya, diskusi seputar apa itu Islam, bahwa Islam adalah sebuah sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan, bahwa Islam bukanlah agama teror, dan karena Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam. Betulah kiranya, apa yang diungkapkan ulama Nusantara yang mendunia, Syaikh Nawawi al-Bantani, "Tidaklah Kami mengutus engkau, wahai sebaik-baiknya makhluk, dengan membawa ajaran-ajaran syariah-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta, yakni agar menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya; bagi agama ini dan kehidupan dunia".


Soalan Seputar Fidyah

Add Comment

Sebelum membahas soal fidyah, saya mau cerita sedikit kenapa tulisan ini dibuat. Ceritanya kemarin kakak tertua saya sharing soal penyakit lamanya yang tiba-tiba datang. Ya, kakak sakit lupus sejak 2005 lalu, lupus sendiri adalah penyakit inflamasi kronis yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang keliru sehingga mulai menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri. Inflamasi akibat lupus dapat menyerang berbagai bagian tubuh, misalnya: Kulit. Sendi (sumber: http://www.alodokter.com/lupus/). Intinya, penderita lupus ini kekebalan tubuhnya alias antibodinya yang harusnya melindunginya dari serangan benda asing, justru menyerang tubuhnya. 

Khusus untuk lupusnya kakak, pernah langganan masuk rumah sakit bahkan sempat hampir koma di ICU RSCM. Alhamdulillah berkat kepasrahan yang tak berkesudahan hingga kini, kakak tetap bertahan. Namun sudah seminggu ini, tiba-tiba lupusnya kembali kambuh dan menyerang kulit. Awalnya dokter menduga sakitnya kakak karena digigit serangga, namun belakangan fixed itu efek lupusnya yang kembali menyapa, hehe. Kulitnya seperti luka bakar, gatal-gatal dan badannya selalu lemas. Sedihnya, ujian yang dialami kakak terjadi di bulan puasa dan mengharuskannya untuk rutin minum obat. Praktis, kakak tidak ikut puasa dan entah sampai kapan kondisinya back to normal. Melihat kondisinya, saya menyarankannya untuk membayar fidyah selain kakak tetap akan mengupayakan puasa jika kondisinya sudah mendingan. 

Apa itu Fidyah?

Fidyah adalah memberikan makanan kepada fakir miskin setiap hari, dengan takaran sebanyak 1 mud (lebih dari 6 ons). Ketentuan ini didasarkan QS al-Baqarah (2) ayat 184], juga hadis dari Ibnu ‘Abbas,“Siapa saja yang telah sangat tua dan tidak sanggup berpuasa Ramadhan, maka ia memberi fidyah sehari sebanyak 1 mud gandum.”(HR al-Bukhari). *

Siapa saja yang diwajibkan mengeluarkan fidyah? mereka adalah orang yang tidak mampu bepuasa (QS. al Baqoroh:184) semisal lelaki dan perempuan yang tua renta, orang sakit yang sakitnya menyebabkan dia tak mampu melaksanakan puasa dan kesembuhannya tidak bisa diharapkan lagi, yang kedua yang wajib fidyah adalah orang yang mati tapi masih menyisakan hutang puasa. Dalam hal ini sebenarnya menjadi pilihan bagi keluarganya(wali si mayit) membayar fidyah atau menqodo puasa yang ditinggalkan si mayit. Yang ketiga adalah laki-laki yang sengaja menyetubuhi istrinya di siang hari di bulan Ramadan namun ia tidak mampu membayar denda dengan berpuasa dua bulan berturut-turut.

Cara membayarnya adalah dengan memberikan bahan makanan pokok sebesar 1 mud yang setara dengan 544 gram (hampir setengah kg) untuk satu hari yang ditinggalkan dan diserahkan kepada orang yang terkategori fakir dan miskin. Jadi tergambar bahwa kakak perharinya memberikan setengah kilogram beras kepada fakir miskin yang membutuhkan atau mengakumulasi berapa banyak hari yang ditinggalkan lalu memberikan berkilogram beras tadi kepada fakir mskin. Namun demikian, yang saya salutkan adalah kakak tetap berupaya untuk berupaya mengqodo puasa selepas Ramadan nanti karena merasa yakin bahwa ia mampu untuk berpuasa sesembuhnya ia dari sakit. Tak apalah, InsyaAllah membayar fidyahnya untuk berjaga-jaga manakala lupus masih setia menggerogotinya..hiks...

Akhirnya, saya bersyukur bahwa Allah masih memberikan kesehatan untuk berpuasa dan terus belajar memahami hukum-hukum seputar puasa, yang memang wajib untuk kita pelajari dan pahami hingga nanti. Robbi zidni ilman warzuqnii fahman, Ya Alloh, tambahkanlah ilmu pengetahuanku dan berilah aku kefahaman. Aamiin...





*Sumber: 
  • https://hizbut-tahrir.or.id/2016/05/31/hukum-hukum-penting-seputar-ramadhan/
  • Sistem Ekonomi Islam, Taqiyuddin An-Nabhani
  • Tuntunan Puasa berdasarkan Alqur'an dan Hadits

UKK yang Menyisakan Cerita

2 Comments

Alhamdulillah, UKK alias Ujian Kenaikan Kelas sudah selesai, yang paling senang tentu saja Olil. Selain jam mainnya bertambah, ia bisa bebas melenggang ke rumah teman sekitar rumah tanpa khawatir mengganggu mengingat jadwal UKK yang berbarengan waktunya di semua sekolah dasar dan madrasah kala itu.

Ada yang berbeda dengan UKK kali ini. Olil tak lagi saya dampingi sepenuh hati, kalau kelas satu dan kelas dua dulu saya ibarat satpam yang berptroli 24 jam hehe, yang jelas semakin naik ke tingkat kelas berikutnya gaya belajar anak ternyata mengalami perubahan. Saat Olil kelas 1, saya benar-benar mendampingi Olil. Mulai dari menyiapkan alat tulis, memilah soal-soal latihan bahkan setiap malam saya jelaskan lagi materi yang akan diujikan. Sebenarnya ada alasan mengapa saya berbuat demikian, saat kelas satu Olil masih dalam masa peralihan. Bukan saja peralihan dari masa taman kanak-kanak tetapi juga karena peralihan bahasa yang menuntut saya menjelaskan hampir satu persatu makna sebuah kata berbahasa Indonesia. Yap, 2,5 tahun Olil hidup di lingkungan yang semuanya berbahasa Inggris, karena memang kami saat itu merantau di luar. Mau tak mau saya harus sabar menjelaskan arti dari kata yang ada dalam buku paketnya.

Ternyata kebiasaan itu berlanjut saat Olil duduk di kelas 2, tapi ini berdampak pada saya pribadi, capeeek tiap kalo Olil akan menghadapi Ujian Sekolah. Memang ini jadi berimbas pada nilai-nilai dan prestasi Olil yang bisa dibilang amazing, tapi bukan itu yang saya dan suami impikan. Meski konsep-konsep dasar dalam belajar telah kami tanamkan, dan Olil juga paham bahwa nilai bukanlah segalanya. Bahwa belajar adalah ibadah, bahwa ulangan semester bukanlah monster yang menakutkan karena tidak berpengaruh pada jam mainnya, tapi di malam hari tetap saja membuat saya dan Olil lelah saking banyaknya target yang harus dicapai, yaitu memahami materi dan menguasai bahasa agar Olil tak kebingungan saat membaca soal dan jawaban.

Alhamdulillah, masuk kelas tiga ini semuanya berangsur normal. Saya bahagia, Olil pun tak lagi sengsara, perbendaharaan kata berbahasa Indonesianya melebihi perbendaharaan kata berbahasa Inggris meski akhirnya Olil benar-benar lupa bagaimana berbahasa Inggris, dan tak lagi mengerti ketika melihat tayangan berbahasa Inggris, pronunciationnya sekarang payah! Tapi....biarlah, InsyaAllah hal-hal yang berbau bahasa Inggris masih bisa dia kejar, yang penting Olil sudah mulai akrab dengan bahasa IBU, dan kelas 3 ini ia benar-benar mandiri. Tiap kali ulangan, saya hanya menyarankannya sambil sesekali mengingatkan, untuk membaca buku-buku yang akan diujikan, selebihnya biarlah dia yang memutuskan mau dibantu untuk sekadar tanya jawab atau tidak. 


Hasilnya?...Itu mah hak prerogatif Allah. Rizki, ajal dan kematian adalah rahasiaNya yang tak seorang pun mengetahui. Konsep dasar ini yang menjadi pijakan yang diterapkan saat anak duduk di bangku sekolah. InsyaAllah ia tak gampang goyah saat lingkungannya berbeda arah, tak gampang gundah saat menjadikan belajar sebagai bagian dari ibadah dan prestasi yang dicapainya semata-mata hanya untuk dakwah. Semoga Allah menjadikan anak-anak kita, sebagai anak shalih yang akan memudahkan jalan kita di akhirat kelak. 

"Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak yang sholeh sholehah, orang-orang yang hafal Al-Qur'an dan Sunnah, orang-orang yang faham dalam agama dibarokahi kehidupan mereka didunia dan di akhirat"






Cara Membuat Slime ala Khalil

1 Comment
Slime yang berarti lendir adalah segumpal bahan yang lengket dan berguna untuk membersihkan perangkat elektronik semisal laptop, selain sebagai pembersih perangkat keras, slime aman digunakan untuk dimainkan oleh anak usia SD. Khalil, si sulung yang kini duduk di kelas 3 SD belum lama ini dapat tugas bikin slime di sekolah dengan gurunya. Pulangnya langsung heboh, dia ajak beberapa temannya untuk bekerja kelompok membuat slime sekadar untuk dimainkan, bukan dalam rangka menjalankan tugas negara, eh tugas sekolah.

Ternyata setelah saya amati membuat slime itu tidaklah sulit, bahan-bahannya aman. Hanya satu kekurangannya, lengket! tapi kalo nempel di baju bisa dibersihkan kok, tenang aja. Baiklah, tak mau berlama-lama berikut ini cara membuat slime ala Khalil. Lets share your knowledge with Blog Emak Gaoel and Smartfren, selamat menyaksikan yaa.







Tanggal Tua? Tak Perlu Risau Selama Ada MatahariMall

4 Comments

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

mataharimall-kompetisi

Tanggal tua biasanya jadi momok yang menakutkan bagi ibu rumah tangga tak terkecuali saya. Rasanya catatan pengeluaran bulanan selalu berbeda dengan praktiknya, alias planning tidak terealisir dengan baik. Kalau sudah begitu, strategi paling jitu adalah mengencangkan ikat pinggang saat belanja kebutuhan dasar rumah tangga.

Saya tidak membiasakan diri berbelanja bulanan di awal bulan. Biasanya, kalau kebutuhan rumah tangga macam dapur dan sumur, mengikuti kapan habisnya pemakaian saja. Sayapun jarang sekali menyetok barang, kalau habis barulah ngibrit ke minimarket terdekat. Hanya saja, seringkali kehabisan barangnya terjadi di tanggal tua, dimana saya harus berpikir keras agar uang belanja semacam lauk pauk dan sayur mayur tidak diotak atik, namun sabun mandi dan sabun cuci terbeli meski agak tercekik. 

Ya, begitulah dinamika ibu sebagai pengatur rumah tangga. Jika tak pandai mengelola, ibu akan stress dan berdampak pada banyak hal. Uring-uringan, bahkan kerapkali anak jadi sasaran hanya karena mood yang gak stabil akibat kantong uang yang mengecil. Maka tak heran dengan maraknya berita-berita kriminal yang melibatkan seorang ibu sebagai pelaku utamanya karena depresi terhimpit ekonomi. Tapi tetap ya, tidak bisa kita maklumi ibu yang bebuat keji gara-gara masalah ekonomi.

Sebenarnya, banyak sekali hal-hal bijak ketika merasa keuangan keluarga begitu sulit terutama menjelang tanggal tua. Saya pribadi memilih untuk banyak bersyukur atas segala nikmat yang sudah didapat. Selain itu ketika berencana membeli sesuatu (ditanggal tua) pastikan dulu, apakah hanya sekadar keinginan atau kebutuhan? Langkah selanjutnya menurunkan 'grade' barang. Misalkan biasanya kita pakai sabun cair untuk mandi, ya dengan lapang dada menggantinya dengan sabun mandi batangan yang kualitasnya tak kalah jauh dengan sabun mandi idaman, toh sama-sama sabun kan ya? Selain meurunkan 'grade' barang, mulailah mencari tempat belanja yang ramah di kantong. Bisa offline, bisa juga belanja via online. Sama saja kok, apalagi kalau ada promo khusus di tanggal tua patut dipertimbangkan tempat belanja online yang recommended, tak perlu capek tinggal klik, barang pun tak lama datangnya.

Adalah MatahariMall.com yang punya program sekreatif ini, bak oase di tengah gurun tempat belanja online  ini seakan mendengar suara hati ibu rumah tangga yang kerap 'sesak' ditanggal tua. Dengan jargon 'Gue Mau Tobat' (jujur saya kurang sreg dengan kata ini, karena istilah tobat tak bisa sembarang digunakan lho) tapi jadi bikin penasaran, sebenarnya kita disaranin tobat dari apa siy? Nah, jawabannya bisa dilihat pada kisahnya Budi yang sadar diri gak mau lagi hidup boros, bikin Budi sengsara. Di klip ini Budi kelihatan nelangsa banget, hahaha...



Oh iya, endingnya kisah Budi, dia bahagia! Karena program tanggal tua dari matahariMall.com  bikin hati bahagia. Harganya miring dan banyak diskonan, saya sudah membuktikan dan membandingkannya dengan harga dipasaran. Tidak percaya? dicoba saja. Lantas, bagaimana caranya?

Baiklah, pertama kita kenalan dulu dengan MatahariMall ya. MatahariMall merupakan situs belanja online terbesar di Indonesia yang tak henti-hentinya membanjiri konsumen dengan berbagai macam promo belanja online. Barang apa saja yang ditawarkan? Buanyakk, mulai dari kebutuhan rumah tangga, alat elektronik, fashion bahkan jam tangan! MatahariMall juga memanjakan konsumen dengan promo di momen-momen special semisal Lebaran, Harbolnas dan hari besar lainnya. Diskon yang ditawarkan pun gede-gedean, alamaaak!

Langkah selanjutnya, kunjungi link ini nanti akan muncul gambar seperti di bawah ini


Sudah? Nah, kalo sudah kita bisa langsung pilih produk-produk yang akan dibeli sesuai kebutuhan. Ada dua opsi dari link yang ditampilkan ditempat di program ini, Deals anti mahal yang menjual produk-produk dengan harga yang sudah didiskon dan kita tinggal pilih sesuai kebutuhan, satunya lagi adalah program Flash Sale yang menjual 12 produk dengan harga terbaik (diskonnya gede pula), penasaran?   Buruan meluncur ke MatahariMall yaa, selamat berbelanja!



Sudah Matikah Nurani Manusia Saat Ini?

Add Comment



Belum genap sebulan, kemarin tragedi berdarah kembali terjadi di negeri ini. Setelah 2 Mei lalu dunia pendidikan kita tercoreng dengan aksi nekat mahasiswa yang membantai dosennya, kali ini seorang putri kandung tega menghabisi nyawa ayahnya, hanya karena persoalan 'sepele', cinta tak direstui. Tragedi berdarah yang terjadi di Gorontalo ini sontak membuat geger masyarakat sekitar, dan tentu saja dunia maya. Beberapa jam pasca tragedi, di medsos netizen mulai share foto-foto korban dan menyebut dengan jelas nama-nama pelaku, yang tak lain adalah putri kandung korban dibantu pacarnya.

Ya, it'is going viral! Dan sebelum mengkritisi kasus ini, hati kecil saya berharap agar foto-foto korban yang berlumuran darah tidak dishare oleh netizen, tapi harapan hanya tinggal harapan. Tampaknya foto2 semacam ini tengah 'digandrungi' di dunia maya. Prihatin...


Back to the case, kasus anak menghabisi nyawa orang tua memang sudah pernah atau bahkan nyaris sering terjadi di tengah masyarakat kita, namun untuk yang satu ini terbilang sadis. Si anak yang notabene perempuan, membuat skenario hingga akhirnya sang ayah yang seharusnya dia hormati, tega dibantai tanpa nurani. Tak perlulah saya jelaskan kronologisnya, tak tega melihat fotonya dan silakan searching sendiri. Saya hanya ingin bertanya pada diri, sudah sedemikian parahkah krisis nurani di negeri ini?....


Agama sebagai pondasi seolah hanya menghiasi kamar pribadi, atau rumah ibadah yang kian sepi. Setelahnya, Allah benar-benar dilupakan. Maksiyat, membunuh bahkan mencederai perasaan saudaranya dianggap hal yang lumrah, naudzubillah. Ups, saya lupa...Indonesia bukanlah negara agama, yang dari atas hingga ke bawah (pemerintah hingga masyarakatnya) menjadikan agama sebagai satu-satunya standar dalam menilai perbuatan, atau menghukumi perbuatan. Sehingga hukum seolah bebas nilai, tergantung isi kepala masing-masing individu. Jadinya ya begini, individunya agamis, masyarakatnya religius namun hukum runcing ke bawah tumpul ke atas.


Sebagai muslim, saya mendambakan Islam bergema tak sebatas di mushola, namun hendaknya menjadi pemutus setiap masalah karena sifatnya yang Rahmatan Lil Alamin. Islam bukan hanya sebagai agama ruhiyah, tetapi sebagai sistem hidup atau way of life yang bisa diterima oleh semua kalangan pun bagi non muslim. Tak percaya?...mari kita kaji bersama. #YukNgaji *promo


Lantas, bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai hal ini?

Pertama, dilihat dari posisi si anak, maka jelas dia telah berbuat durhaka pada orang tuanya. Banyak sekali ayat dalam Al-Qur'an dan hadits yang membahasnya. Diantaranya:

Tuhanmu telah mewajibkan agar kalian tidak menyembah selain Dia dan agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tua (TQS al-Isra’ [17]: 23).*

Durhaka kepada orang tua adalah dosa besar sebagaimana dinyatakan oleh Nabi SAW bersabda,“Maukah kalian aku beri tahu dosa besar yang paling besar: Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR al-Bukhari dan Muslim).*

Perhatikanlah, bagaimana Rasul SAW mengaitkan sikap buruk dan durhaka kepada kedua orang tua dengan sikap menyekutukan Allah SWT. Rasul SAW juga bersabda, “Andai Allah menginformasikan ada yang lebih remeh dari sekadar mengucapkan kata “Ah!” (kepada kedua orang tua) maka pasti Allah akan melarang hal demikian. Karena itu lakukan saja oleh orang yang durhaka kepada kedua orang tua apa saja yang mereka inginkan, niscaya mereka tidak akan pernah masuk surga. Lakukan pula oleh orang-orang yang berbakti kepada kedua orang tua apa saja yang mereka kehendaki, niscaya mereka tidak akan pernah masuk neraka selama-lamanya.” (Adz-Dzahabi, Al-Kaba-ir, I/14).*

Terkait durhaka kepada kedua orang tua, Kaab al-Ahbar pernah ditanya, “Apa yang dimaksud dengan durhaka kepada kedua orang tua?” Ia menjawab, “Yaitu jika ayah atau ibunya membagi sesuatu kepada dia, dia tidak menerimanya dengan baik; jika keduanya memerintah dia, di tidak melakukannya; jika keduanya meminta kepada dia, dia tidak memberi; jika keduanya memberi amanah, dia tidak tunaikan.” (Adz-Dzahabi, Al-Kaba-ir, I/14).*

Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasul SAW pernah bersabda, “Ada empat kelompok manusia yg menjadi hak Allah untuk tidak memasukkan mereka ke dalam surganya dan mereka tidak akan menikmati sedikitpun nikmat surga di dalamnya: pemeras khamar, pemakan riba, pemakan harta anak yatim secara zalim dan orang yang durhaka kepada kedua orang tua—jika mereka tidak bertobat.” (Adz-Dzahabi, Al-Kaba-ir, I/14)*

Adapun terkait menghabisi nyawa manusia dengan berencana, maka Islam berlaku hukum qishash bagi pelakunya, qishash disini artinya para pelaku dihukum dengan dibunuh balik seperti apa yang telah mereka lakukan terhadap korban. Dalilnya adalah:

“Barangsiapa terbunuh, maka walinya memiliki dua hak; memberikan pengampunan, atau membunuh pelakunya.”

“Seandainya penduduk langit dan penduduki bumi berserikat dalam (menumpahkan) darah seorang Mukmin, sungguh Allah swt akan membanting wajah mereka semua ke dalam neraka”.[HR. Imam Turmudziy]

Sesungguhnya Umar ra menjatuhkan sanksi bunuh kepada lima atau tujuh orang yang berserikat dalam membunuh seseorang; yang mana mereka semua membunuh seorang laki-laki dengan tipu daya”.[HR. Imam Malik]

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan; jika sekelompok orang bersekutu, dua orang, atau lebih untuk membunuh seseorang, semuanya dikenai sanksi. Semuanya harus dikenai sanksi pembunuhan meskipun pihak yang terbunuh hanya satu orang (http://hizbut-tahrir.or.id/2009/06/21/hukum-islam-atas-bersekutu-dan-berserikat-dalam-pembunuhan/)

Berdasarkan dalil-dalil di atas terkait dengan pandangan Islam dan bagaimana hukumnya terhadap pelaku pembunuhan berencana, seharusnya membuat kita takut untuk melanggar seluruh syariatnya, semoga negara semakin tegas menjaga moral bangsa dan semakin tegas terhadap pelaku maksiyat yang saat ini semakin merajalela.

* Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/2009/06/21/hukum-islam-atas-bersekutu-dan-berserikat-dalam-pembunuhan/ dan http://hizbut-tahrir.or.id/2015/05/07/mendurhakai-orang-tua-menuai-petaka/











Cerita Operasi Si Sulung

4 Comments
Cerita Operasi Si Sulung
Sejak usia satu tahun, Olil tidurnya selalu ngorok. Bukan ngorok yang biasa, tapi saat dia ngorok seluruh diafragma seolah bergerak dan bergeser turun naik, siapapun melihatnya pasti tak tega. Olilnya sih tenang-tenang aja karena dianya tidur pulas. Beberapa kali saya dan suami mendatangi dokter THT, jawabannya beragam semisal alergi lah, batuk pilek lah bahkan dibilang semuanya baik-baik saja. Tujuh tahun kami 'biarkan' kondisi Olil yang menurut keluarga besar 'tidak biasa', tapi naluri seorang ibu memang tak bisa dibohongi, puncaknya ketika Olil pulang sekolah dengan santainya dia bilang kalo temannya sering tutup hidung karena nafasnya Olil bau. Huwah, gerah!..bermodal semangat untuk mencari penyebabnya, saya langsung browsing dokter THT yang recommended. Jatuhlah pilihan pada dokter Johan yang praktek di RS Mitra Keluarga Depok.

Pertama kali jumpa dokter Johan, saya ceritakan semuanya. Mulai dari riwayat ngoroknya Olil, sempat tinggal lama di daerah dingin hingga nafasnya yang semakin tak sedap. Olil langsung diminta duduk di kursi pemeriksaan, dua lubang hidungnya dimasukan alat yang dilengkapi kamera mikro. Got it! ada polip yang menutupi jalan nafas dua lubang hidungnya!



Lemas bercampur lega, lemas karena sudah sekian lama si polip bertengger di jalan nafasnya Olil yang bikin dia ngorok dan sering gelagepan. Lega karena akhirnya ketemu juga penyebabnya, tapi...wait!, kalo bau mulutnya dari mana atuh? Dokter Johan bilang, bisa dari polip plus amandelnya ternyata sudah besar. Solusinya keduanya harus dibuang. Yasudah, saya dan suami setuju saja yang penting Olil sembuh. 

H-5 sebelum operasi, kami sudah membereskan administrasi termasuk booking kamar. So far nggak ribet mengurusnya, Olil masuk ruang rawat inap sehari sebelum operasi. Terjadwal jam 13.30, sejak pagi Olil sudah harus puasa. Anak ini sebenarnya kuat dan tahan banting, namun ketika masuk ruang operasi wajahnya pucat pasi dan tangannya tak mau lepas dari genggaman saya. Kami berpisah di ruang operasi, dan..kesedihan dimulai...

Waktu berjalan serasa sangat lambat, ya, empat jam terasa sangat lambat hingga telepon di ruang tunggu berdering mengabarkan bahwa ananda Olil sudah di ruang observasi. Saya langsung bangkit dari duduk, setengah berlari, masuk dan menemui dokter Johan. Beliau mengabarkan bahwa operasi berjalan lancar, namun kondisi Olil pasca operasi benar-benar mengaburkan konsentrasi saya dari penjelasan dokter. Bayangkan, di belakang saya Olil masih mendengkur dengan keras, batuk dan beberapa kali 4 perawat dan dokter jaga menyedot darah yang keluar dari rongga mulutnya. Aah, disitu saya merasa sangat kehilangan, ingin mendekap erat dan menyadari banyaknya kekhilafan yang saya buat ke Olil selama ini. Dokter rupanya membaca kegelisahan saya, beliau katakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Baiklah, dok..

Pasca operasi dan diobservasi selama 2,5 jam, akhirnya Olil dipindah ke kamar perawatan. Darah bercampur lendir masih keluar dari hidung, tanpa ditutupi apapun di kedua lubang hidungnya. Hari ketiga pasca operasi, Olil diperbolehkan pulang. Selesaikah masalahnya?...Beluuuum, ternyata harus dipantau kondisi hidung dan rongga mulutnya Olil pasca operasi, semisal harus telaten minum obat, menyemprot hidung dan makannya gak boleh panas dan pedas, itu berlangsung selama dua minggu. 
Kini, kondisi Olil sudah sehat, nafasnya wangiiiii daan tidurnya tak ngorok lagi, Alhamdulillah. Terima kasih atas doa-doa dari semuanya.



Gadget VS Mainan

Add Comment

Sebulan belakangan ini entah kenapa,Issam jadi keranjingan nonton kereta via YouTube. Bangun tidur,"Mi, pinjem HP dong". Mau tidur,"Mi,pinjem HP dong". Iya saya kasih,tapi sejauh ini Issam masih bisa diloby jika saya minta kembali HP nya saat waktu mainnya menurut saya sudah kelamaan.

Namun ternyata kebiasaan itu menjadi terpolakan di Issam, yang intinya saya atau kakaknya tidak boleh pegang HP sama sekali, dan kalo ketahuan?"Umi nggak boleh main HP, nanti matanya rusak"..hiyaaa,kena dech saya.
Kalau sudah begini, biasanya saya tidak tinggal diam. Iyap, I have to do something! Mulailah setiap sore anak-anak saya ajak sepedahan ke UI, lumayan bikin mereka lupa sejenak dengan gadget. Sayangnya, belakangan ini hujan selalu turun di sore hari, dan berimbas pada vakumnya rutinitas sepedahan kami di sore hari. Issam pun kembali lagi seperti dulu, demen main HP, hobi jerit-jerit jika tidak dituruti permintaannya dan...selalu minta digendong.

Baiklah, setidaknya saya harus mengurai tiga 'problem' di atas yg untuk dicari solusinya, bukan untuk dihilangkan tapi didudukan pada tempatnya.
Untuk gadget, saya mulai menyibukan Issam dengan mainan edukatif yang nggak perlu mahal, yang penting bisa dioptimalkan penggunaanya. Semisal playdough, papan tulis yang bisa dihapus berulang, daan..sepeda-sepedahan. Saya juga mengajak sepupunya untuk bermain, Alhamdulillah it's worked so far! Pertanyaannya kemudian, apakah Issam benar2 stop main gadgetnya?..Nggak, dia tetap punya porsi untuk pegang HP saya, yaitu saat saya ngaji(saya berikan kalau semua peralatan tempur semisal bekal makan, mainan edukatif, bola, manjat-manjat badan saya, sudah bosan dia mainkan). Apa yg Issam mainkan via HP?nonton kereta api di YouTube, kadang upon ipin(yg nggak ada kakak Salihnya), plus lagu2 anak. Berapa lama? Maksimal 1 jam lah yaa...Intinya, saya tidak melarang anak2 main gadget sama sekali, apalagi di era digital saat ini. Asalkan sepakat dengan aturan main yang kami buat bersama, InsyaAllah itu sudah cukup.

Untuk hobi jerit-jeritnya gimana?ya biarin aja dech, kecuali kalau jeritnya dalam rangka merajuk maka saya harus punya seribu kesabaran Dan mengupayakan naluri egonya diturunkan, caranya? Ya harus dicari tahu dulu penyebab ngamuknya, kalau stuck biasanya langsung saya peluk dan gendong, alihkan dan ngajak dia ngobrol.  Salah satu isi obrolan wajibnha adalah rajin mengenalkan Issam dengan Allah. Bukan melalui ancaman, tapi penghargaan berupa kasih sayang Allah terhadap anak yang sabar.
Bagaimana dengan keinginannya yang selalu minta digendong? Ya gendong aja,..he he...

Kala Si Kecil 'Hobi' Menangis dan Minta Gendong

Add Comment


Nangis is Issam's middle name. Well, setidaknya itu yang terjadi dalam beberapa hari belakangan ini. Meski sikap saya selalu sama, yaitu bersabar dan teruus bersabar tapi saya tergelitik untuk menelisiknya lebih dalam, what happened aya naon atuh kang Issam nu kasep and bageur?...

Jadi ceritanya, sudah hampir seminggu ini Issam selalu menangis, dan nangisnya ada runutannya dan itu rupanya sudah terpolakan. Biasanya diawali dengan lambatnya umi merespon, atau memaksanya memakai sesuatu yang ia tidak mau(biasanya minyak telon). Pecahlah tangisnya, marah, jerit2 dan berakhir dengan drama merenung di dalam kamar seorang diri(kadang Issam, kadang saya).

Eits, tapi saya mulai mengevaluasi ketidak efektifan hukuman jenis ini. Pertama, Issam masih terlalu kecil untuk hal itu, alih2 dia merenung di kamar yang ada malah tambah jerit dan trauma. Yang kedua, ada hal yang lebih mulia yang sebenarnya bisa saya lakukan, and it's a must!

Issam bisa diajak diskusi. Ini sebenarnya potensi yang bisa menjadi point awal saat saya akan mencari tahu penyebab nangisnya Issam. Minimal kita bisa mengorek mulutnya sendiri penyebab kenapa ia menangis. Kadang sebenarnya ia hanya ingin pipis, ingin diperhatikan bahkan hanya ingin sekadar dipeluk. Oke, step ini sudah dan sedang saya lakukan. Namun, merujuk pada tulisan dari sebuah artikel di majalah versi online ayah bunda, ternyata banyak banget penyebab anak rewel dan selalu minta gendong.

Pertama, bisa jadi anak lelah dan mengantuk. Dan ini sepertinya Yang terjadi pada Issam, biasanya diawali dengan selalu minta digendong, minta susu lalu minta bobo, drama terjadi kalau saya gak buru2 merespon, baiklah untuk seterusnya umi akan cepat tanggap, Nak. Kalo kejadiannya pas lagi ngaji, biasanya saya alihkan dengan makanan atau main bersama Teman yg lain, tapi kalo lagi di rumah, ya sesuai pakem: gendong, dan antar ke kamarnya untuk tidur.

Kedua, ada kondisi Yang membuatnya tidak nyaman dan butuh penjelasan. Misalnya tiba-tiba mati lampu, didorong teman, suasana gaduh, Yang disana anak butuh penjelasan dan perlindungan.

Ketiga, butuh jaminan rasa aman saat bereksplorasi. Misalkan anak sedang main di ruang yang terpisah dengan kita, yakinkan bahwa kita tetap ada di sekitarnya. Kalo Issam? Nyusul saya saat sedang masak dan mencuci, narik tangan saya lalu minta ditemani dech. He he

Keempat, butuh kedekatan bukan sekadar pelukan. Kalo Yang ini semua sudah paham, jauhi gadget saat kita sedang bermain bersama anak. Mendingan baca buku dan libatkan mereka. Saya baru nekat gadgetan kalo issam lagi sibuk main dengan sepupunya, nenek atau budhe dan uwanya, meski akhirnya saya dicap gadgetan mulu, gimana nggak lha saat itulah saya baru benar2 pegang HP.

Sakit, kedinginan dan bosan juga bisa menjadi penyebab balita rewel,menangis dan ingin digendong. Semoga kita termasuk orang tua Yang sabar ya bunda, gak sekadar nyari jalan Pintas agar anak diam, tapi mencari penyebab agar hal itu bisa dituntaskan tidak hanya diredam. Kan anak juga manusia, jangan samakan dengan boneka. :)