Nyala Dakwah di Negeri Paman Sam

Add Comment



“This is not America!” Ujar salah satu rekan suamiku saat kami berpapasan dan ngobrol sejenak. Amerika di benakku adalah seperti yang ada di film-film Holywood, penuh kekerasan, kriminalitas, rasis dan banyak lagi stigma negatif yang melekat. Namun dua tahun berada di kota kecil di negara bagian Utah, membuat pandanganku berubah nyaris 180 derajat.

Aku berada di kota ini untuk menemani suami yang sedang studi. Mayoritas penduduknya memeluk ajaran Mormon. Dibawa oleh Joseph Smith, kelompok keagamaan ini mengaku masih bagian dari agama Kristen. Meski demikian, kelompok ini memiliki kitab suci sendiri,The Book of Mormon. Salah satu pandangannya yang menurutku unik adalah dukungannya akan poligami, haram mengonsumsi teh, kopi, dan alkohol. Kita akan sulit menemukan diskotik ataupun bar yang menjual alkohol secara bebas.

Hal lain yang membuatku belajar dari orang Mormon adalah, misionaris yang seolah berdakwah tanpa lelah. Mereka mengetuk pintu dari satu rumah ke rumah lain. Suatu hari mereka mengetuk pintu rumahku dan menemui suamiku. Berdiskusi cukup lama memperkenalkan ajaran Mormon, hingga diskusi terhenti saat suamiku mengatakan bahwa saya seorang muslim. Mereka pun pamit dan tak pernah datang lagi.

Tamu kedua hanya berdiri di depan pintu, menyerahkan pamflet berisi jadwal kegiatan yang diselenggarakan pihak Gereja. Pernah suatu ketika saat aku duduk-duduk di taman, datang seorang ibu muda yang belakangan kutahu suaminya kuliah di departemen yang sama dengan suami. Dia menghampiriku, sambil memperkenalkan diri. “Hi, how are you?” tanyanya. “I am fine, thanks,” jawabku singkat. Pembicaraan terus berlanjut, hingga di akhir obrolan dia mengajakku ke sebuah acara sambil menyerahkan pamflet. “You can come, it’s not only for Mormon, every one can come,” ajaknya. Belakangan juga kutahu, ibu muda ini setiap hari menyengaja duduk di taman, dan mendatangi siapa saja yang juga ada di sana.

Tak hanya itu, aku kerap menjumpai seorang kakek tua yang berpindah dari satu bus ke bus yang lain. Kakek ini hanya menyebarkan selebaran kepada setiap orang yang dijumpainya. Di tempat tinggalku juga sama, dengan seragam khas (jas berwarna hitam, berpakaian layaknya seorang eksekutif muda), mereka berkeliling dan mendatangi setiap rumah di komplek aku tinggal. Saking gencarnya, pernah salah satu penduduk melapor ke koordinator perumahan. Ia merasa terganggu dan terintimidasi. Ada saja pikirku.

Dari sini aku belajar banyak dari orang Mormon, bahwa yakin akan kebenaran yang dibawanyalah yang membuat mereka tak mudah menyerah. Hingga tak peduli jika ada yang menentang dan menolak. Dengan percaya diri mendatangi satu rumah ke rumah lainnya. Generasi mudanya rela meninggalkan kesenangan, dan bergabung untuk menjadi misionaris. Mereka bersedia dikirim ke satu daerah, bahkan lintas negara. Mereka rela meninggalkan profesinya, untuk sekadar menjadi misionaris. Seperti yang dilakukan jebolan runner-up American Idol, David Archuleta.

Pertanyaan kemudian muncul di benak, mereka yang tersesat di mataku begitu percaya diri dan yakin dengan apa yang diemban. Sementara aku, yang yakin dengan apa yang kuanut seringkali ragu untuk melangkah. Masih menuruti rasa malas dan takut untuk menyampaikan kebenaran. Apakah aku harus terus diam? Sampai kapan aku seperti ini?...

************************************************************************************************************

Demikianlah sekelumit cerita pengalaman saya saat merantau tiga tahun lalu, penasaran dengan kelanjutannya? Ada di buku Nyala Nyali Dakwah di Penjuru Negeri :)

Selamat UAS, Bu!

Add Comment



Kok Ibu? Iya, sudah jadi rahasia umum saat UAS menjelang yang remfong biasanya para ibu, termasuk saya. Seminggu jelang UAs biasanya saya dan Khalil sudah rapat kecil2an,isinya seputar sejauh mana kesiapan belajar Khalil, apa yang hendak dicapai dan usulan2 Khalil soal jam2 bermainnya.

Prakteknya? Jauuuuh, belajar cuma 30 menit,mainnya dua jam,hehehe...Biarin dah,yang terpenting bagi saya adalah tidak ada paksaan dalam belajar, dan tak ada ambisi berapa besar angka yang harus dicapai. Yang penting adalah prosesnya, buat saya itu sudah lebih dari cukup.

Saya pun yakin semua ibu pasti mengamininya bahwa ini bukan semata angka di atas kertas, tapi bentuk tanggung jawab anak sebagai siswa di sekolahnya, sekaligus mengukur sejauh mana penguasaan konsep yang sudah anak kuasai(teorinya begitu). Dilapangan? Beragam, masih banyak yang ambisi sang anak musti jadi yg terbaik, itu tidaklah salah,orang tua mana yg tak ingin punya kebanggaan. Maka, tidak sedikit orang tua yg diberikan ujian, ada yang diberikan cobaan berupa sulitnya anak untuk belajar, atau saat anak siap belajar eh adik2nya mau ikutan, atau tetiba rewel minta perhatian, dan berbagai ujian lainnya.

Pernah seorang ibu bilang ke saya,tiap Kali anaknya UAS atau UKK, ia harus belajar dan menghafal(ini yg tes sebenarnya siapa ya?)..dan saat anaknya pulang yes,langsung diberondong pertanyaan, gimana?bisa?salah berapa kira2?..Ya Allah Bu, sepatu anak saja belum dilepas, sudah diinterogasi bak polisi.

Akhirnya, sebelum saya menunjuk ke orang lain, saya coba mengambil cermin sambil membatin, anak juga manusia, Ki..didiklah mereka dengan ilmu, bukan ambisi..Selamat UAS anakku, nikmati setiap proses yang dijalani, adapun hasil? Itu bukan wewenang kita!