Betapa Mudahnya Allah Membolak-balikan Hati

6 Comments
Saya punya ponakan, laki-laki ganteng yang kini berusia 13 tahun. Dulu, cah ganteng ini bagai 'ujian' bagi keluarga besar kami. Selain karena cucu pertama yang agak 'salah didik' semisal terlalu dimanja dan apapun keinginannya dituruti, ditambah saat usianya 9 tahun telah ditinggal pergi untuk selamanya oleh ayahandanya tercinta. Terbayang betapa sulit ibundanya mendampingi dan membesarkannya seorang diri. Dan semuanya tanpa kami sadari membentuk pribadi yang 'kacau', seolah berkepribadian ganda (kadang sholeh kadang tidak), dan sangat sulit untuk diberikan nasihat.

Tak ada seorang pun yang dia takuti, bahkan kakeknya yang notabene ayah saya tak pernah didengarkan nasihatnya. Puncaknya adalah ketika ibundanya tengah memberikan nasihat dan melarang untuk 'ngetrek' dan tak jelas kapan pulangnya, ponakan saya dengan kesal membentak dan memukul ibunya (yang tak lain adalah kakak saya) dengan gagang sapu. Saya? sambil menggendong baby Issam langsung bereaksi keras, melontarkan kata-kata dengan penuh emosi dan ternyata sangat merasuk ke ulu hatinya, membuat keponakan ganteng saya sangat marah. Ia mengambil sebilah golok, saya pun tak mau kalah menantang dan melawan, akhirnya terjadilah peristiwa bersejarah itu...tangan saya kena bacok meski ternyata goloknya tumpul. Berdarah? nggak! tersayat?nggak, hanya sedikit bengkak dibagian tangan dan baju saya rupanya cukup tebal dan melindungi kulit sehingga tidak terluka. 

Tapi itu dulu sebelum ponakan ganteng saya masuk pesantren dan dibimbing tanpa lelah oleh ibundanya. Kini, ia menjelma menjadi pemuda ganteng yang soleh, yang lisannya tak pernah lepas dari zikir, yang ketika ngobrol dengan saya selalu minta maaf, dan kasih sayangnya sangat besar terhadap sepupu-sepupu kecilnya. Semua tak lain karena kuatnya tekad ibundanya untuk selalu meyemangatinya saat ia rapuh, membuatnya tegar saat kehilangan kepercayaan diri dan tak henti-hentinya mendoakan agar buah hati satu-satunya ini diberikan ketetapan hati ketika dulu sempat 'bandel'. 

Ya, sebagai hamba-Nya yang lemah sudah sepantasnya kita selalu meminta untuk diberikan ketetapan hati, agar tidak menjadi manusia yang kadang bersyukur kadang ingkar, kadang taat kadang membangkang, Apalagi jika ajal datang ternyata kita berada dalam kemaksiyatan, Naudzubillah min dzalik. Semoga kita menjadi hamba yang senantiasa berpegang teguh dan diberikan ketetapan hati, sebagaimana dalam firmannya yang artinya: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). [QS 3:8]