Notebook Slim dan Kepedulian Kita akan Nasib Generasi

30 Comments
Hari sumpah pemuda tahun ini sebenarnya tidak beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di berbagai daerah, para mahasiswa memperingatinya dengan melakukan aksi damai, ada pula yang memperingatinya dengan melaksanakan upacara bendera. Bahkan situs-situs jejaring sosial, ramai mengangkat hari sumpah pemuda sebagai tema status dan kicauannya di twiter. Selain diisi oleh kegiatan positif, beberapa generasi muda justru seolah kehilangan makna hari sumpah pemuda, dengan melakukan tindakan asusila yang membuat heboh dunia pendidikan dan jagat dunia maya. Salah satunya dengan munculnya video porno yang dilakukan dua remaja usia belia, dan 'gilanya' ini dilakukan di sekolah. Belum lagi kasus bulying yang masih marak di sekolah-sekolah, tawuran, dan peristiwa memprihatinkan lainnya yang menimpa para remaja.

Sebenernya saya ingin cuek dengan kondisi remaja sekarang, tapi nggak bisa. Mungkin karena dulu sempat mengajar di salah satu SMA swasta di Depok, sering berinteraksi dengan siswa bermasalah, dan akhirnya tahu kehidupan peserta didik, akhirnya tergambar bagaimana kritisnya mereka saat mencari jati diri, saya pun jadi concern dengan dunia remaja. Sampai akhirnya pada tahun 2007, berdiri lembaga konsultasi remaja kecil-kecilan, yang dimanajeri oleh saya sendiri dibantu oleh beberapa teman yang punya passion sama. Mitra Muda Center, begitu kami menamainya. Meski namanya lembaga konsultasi, namun jarang sekali menerima konsultasi pribadi. Lembaga ini lebih sering mengadakan seminar dan training di sekolah maupun di luar sekolah.

Mendirikan lembaga berbasis training ternyata tidak mudah dan banyak kendala, mulai dari perijinan ke departemen pendidikan tingkat kota, hingga sarana yang menunjang semacam notebook dan LCD/Infokus. Saya ingat saat pertama kali mengadakan training, karena belum punya notebook apalagi LCD, akhirnya panitia membawa baligho besar yang panjang dan lebarnya saja mencapai satu setengah meter. Isi baligho memuat semua materi presentasi, dilengkapi dengan gambar-gambar menarik sehingga menjadi satu-satunya media informasi kami saat itu. Jadi setiap kali ada training, baligho itu dibawa-bawa, dari sekolah satu ke sekolah lainnya, dari masjid satu ke masjid lainnya, dengan menggunakan angkot!

Akhirnya saya putuskan untuk membeli notebook, saat itu pilihannya adalah ACER Aspire 4310. Saya pun langsung jatuh cinta pada performanya, rasanya cewek banget. Ditambah prosesornya yang mampu menampung banyak file, terutama multimedia yang menjadi materi inti saat mengisi training. Pokonya sempurna banget dech di mata saya, cuma ada satu kekurangan, berat!


Si kecil dan ACER Aspire 4310
Satu kali saya bawa notebook Acer Aspire 4310 ini ke salah satu SMA negeri di Sawangan, tujuannya untuk mengisi seminar bertema aborsi. Materi yang menarik, ditambah tayangan multimedia dengan kualitas prima (gambarnya jelas dan soundnya juga jernih), membuat penontonnya begitu menghayati tayangan dengan seksama. Mereka menjerit ketika bayi mungil 'diremukkan' menggunakan forcep (semacam gunting) yang dimasukkan dalam rahim, mereka menangis saat menyaksikan bayi-bayi korban aborsi yang sudah menjadi mayat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, dan mereka tersentak ketika diberikan nasihat sebagai pengingat, akan perannya sebagai agen of change suatu bangsa.
Saat mengisi seminar remaja

Sayangnya, kegiatan ini harus terhenti manakala saya harus berangkat mendampingi suami ke luar negeri. Dan notebook Acernya? Saya jual karena terdesak kebutuhan, jadi sedih kalau ingat saat-saat terakhir berpisah dengan notebook saya. Rasanya mau nangis, karena kami sudah begitu dekat, tapi saya lega karena sekarang sudah berada di tangan pemilik yang tepat.

Kini saya telah kembali ke pangkuan ibu pertiwi, dan saatnya berkontribusi dengan melakukan aksi nyata, apalagi kalau bukan mencerdaskan anak bangsa. Terlebih kini, ada Acer Aspire E1-432 yang secara umum mirip dengan Acer Aspire saya dulu. Hanya bedanya ada pada dimensi dan berat, kalau Acer Aspire milik saya beratnya 2,6 Kg, untuk  Acer Aspire E1-432 hanya 2,1 Kg saja. Lengkapnya, mari kita perhatikan tabel berikut.



Berat
2,6 Kg
2,1 Kg
Screen resolution
1280 x 800 px
1366×768 px
Display size
14.1"
14”
Processor
Intel Celeron M
Intel 4th Gen terbaru
Baterai
6-cell (44.4W, 4000mAh)
daya tahan 2 jam
4-cell (15 W, 2500mAh)
daya tahan 6 jam
Memori
2 GB
2 GB yang dapat diupgrade 8 GB
Hard disk
160 GB
500 GB


Komparasi keduanya menunjukan bahwa Acer Aspire E1-432 lebih unggul, terutama dari sisi berat, dimensi(ketebalan), daya tahan baterai, ah pokoknya semuanya. Harganya pun masih terjangkau, kalau dulu saya beli Acer Aspire 4310 sekitar lima jutaan, kini Acer Aspire E1-432 dibandrol Rp.4.749.000,- saja, ditambah garansi FULL 3 tahun (termasuk service dan spareparts) untuk pembelian hingga hari ini. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa memilikinya, agar segala aktivitas mobile saya terutama yang ada hubungannya dengan dunia remaja, jadi semakin mudah. Doakan yah...


“Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.”



Berharap Punya Notebook Tipis dan Tidak Mahal? In Your Dream!

30 Comments
Saya jadi malu kalau ingat kejadian dua minggu lalu, diteriaki penumpang angkot gara-gara mukanya tersenggol tas ransel saya, kebetulan waktu itu isi ransel penuh dengan perlengkapan bayi dan notebook lengkap dengan mouse dan chargernya. Mungkin senggolannya cukup keras makanya ia teriak, saya pun langsung minta maaf dan langsung ambil langkah seribu demi menghilangkan rasa malu.

Saya tipikal orang yang gak mau repot, jadi senang dengan yang simple. Makanya kalau pergi kemana-mana, semua keperluan masuk jadi satu dalam tas ransel, kecuali uang dan telepon genggam yang disimpan dalam tas sangkil, tujuannya tak lain untuk mempermudah saat bertransaksi dan berkomunikasi. Dasar emak-emak yang gak mau repot, tiap kali naik angkot, tas ransel pun tak pernah lepas meski duduk jadi kurang nyaman karena posisinya terlalu menjorok ke depan, tapi ya mau gimana lagi, daripada saat turun harus nenteng-nenteng tas ditambah si bungsu dalam gendongan, dan payung dalam genggaman, akhirnya cara praktis saya jalankan.

Bekerja mengurusi page yang harus diupdate setiap hari plus punya blog yang berafiliasi dengan google, mau tak mau harus bawa notebook kalau pergi seharian, terutama saat menjalani aktivitas rutin dua mingguan yang mengharuskan saya pergi ke Jakarta, entah itu rapat di kantor membahas perkembangan media yang saya kelola, ataupun meliput acara-acara yang biasanya bertemakan perempuan. Nah, berhubung gak punya kendaraan pribadi dan taksi juga tarifnya tak terjangkau biasanya saya pilih kereta api sebagai sarana transportasi, selain murah juga cepat sampai tujuan.
Sayangnya saat ini notebook yang saya punya kurang bersahabat dari sisi berat dan ukuran, harganya memang sangat terjangkau tapi yang saya alami, membuat saya sering berkhayal untuk punya notebook baru yang bersahabat dengan dunia saya. padahal saya juga harus bawa si kecil yang baru berusia empat bulan yang ikut kemana saya pergi. Walhasil, setiap kali pulang dari aktivitas, pundak terasa pegal dan badan serasa diinjak seribu gajah(lebay dech...)

page yang tengah saya kelola
Sebenarnya saya pernah punya notebook ringan, bukan saya sich yang punya tapi punya suami. Karena suami sudah punya notebook Acer jadi notebook ringannya dikasih ke saya. Tapi ternyata gak bertahan lama, gara-gara si sulung gemar bermain game dan rajin download game akhirnya notebook saya eror. Di layar monitor hanya muncul gambar dan tulisan transparan, gimana mau nulis kalau sudah begini. Sedih dan terpuruk rasanya apalagi waktu itu saya masih diperantauan, praktis semua kegiatan di dunia maya terhenti terutama yang ada hubungannya dengan dunia tulis menulis.Tapi kesedihan itu berbuah manis, dua bulan pasca 'kehilangan' notebook impian, suami membelikan notebook baru dan masih saya pakai hingga sekarang. Sayangnya ya itu tadi, berat, ukurannya besar dan tebal yang bikin cepat pegal meski dibawa pakai tas ransel. Selain itu, notebook saya cepat panas meski hanya digunakan sebentar, dan yang paling bikin gemes adalah bentuk colokan chargernya yang tidak pas dengan stop kontak yang ada di Indonesia. 

ternak blog saya saat ini


Saking hopelessnya saya pernah menghayal, ada nggak yah notebook yang bisa bersahabat dengan dunia saya? Nggak perlu neko-neko, yang penting ringan dan tipis sehingga bisa dibawa kemana-mana, tapi harganya pas di kantong. In your dream! kata suami..hehe. Sebagai pemerhati dunia per-gadget-an, katanya hampir mustahil punya notebook ringan yang berkualitas canggih tapi harganya di bawah lima jutaan.

Tak Lagi Hanya Sebatas Mimpi

Punya notebook tipis, ringan dan tidak mahal selama ini hanya sebatas mimpi, tapi tunggu dulu! Ada Acer Aspire E1-432 yang kabarnya punya banyak kelebihan. Apa saja kelebihannya, yuk kita lihat satu persatu biar gak penasaran. Siapa tahu ini adalah notebook idaman yang kita impikan sejak dulu.

Kelebihan pertama adalah jika dibandingkan dengan notebook lainnya, Acer AspireE1-432 ini dimensinya 30% lebih tipis, tebalnya sekitar 25,3 mm saja. Padahal notebook ini dilengkapi optical drive/DVD-RW yang umumnya dimiliki oleh notebook berdimensi tebal. Jadi tak ada yang dikorbankan dalam hal ini, Acer Aspire E1-432 tetap mengutamakan kualitas meski performa sesuai dengan kebutuhan pasar. Kereen...

Acer Aspire E1-432

AcerAspire E1-432 menggunakan monitor LED berukuran 14” dengan resolusi 1366×768 px, sangat memadai jika kita ingin browsing-browsing berita dari internet, refreshing dengan melihat tayangan multimedia, game untuk anak, dan tentu saja yang paling utama, kebutuhan office basic yang menjadi modal utama dunia kepenulisan. Untuk warna, ada dua pilihan; Piano Black dan Silky Silver. Eh, ada desain berbentuk bintang-bintang loch pada keyboard dan casingnya, jadi makin elegan tampilannya.

Selain performa, biasanya saya sangat concern dengan 'isi' jika membeli sebuah notebook. Adalah prosesor, webcam, daya tahan baterai serta kualitas gambar saat terkoneksi dengan LCD/LED. Prosesor yang saya idamkan adalah intel, selain sudah punya nama intel terkenal dengan kekuatannya terhadap panas dan tidak mudah rusak meski digunakan selama 24 jam. AspireE1-432 menggunakan prosesor Intel 4th Gen terbaru, atau lebih dikenal dengan kode nama Haswell. Acer mempersenjatai notebook ini dengan prosesor Intel® Dual Core Celeron® Processor 2955U yang memiliki dua buah inti (dual core) dan berjalan pada kecepatan 1.40 GHz. Apa dampak positifnya buat kita? Banyak, diantaranya penggunaan prosesor ini membuat daya tahan baterai lebih kuat, kapasitas untuk menyimpan file pun cukup besar sehingga tak perlu khawatir jika kita ingin menyimpan berbagai file, mutimedia bahkan game hasil download sekalipun.

warna-warna yang begitu menggoda


Webcam saat ini menjadi kebutuhan yang utama, selain saya perlukan untuk kuliah online, terpisah ribuan kilometer dengan suami, meski hanya sementara membuat saya dan anak-anak sangat membutuhkan sarana komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan. Salah satunya adalah fasilitas webcam yang biasanya ada pada sebuah notebook. Di Aspire E1-432 ternyata ada Webcam HD untuk keperluan penggunaan kamera, entah untuk melakukan streaming, video chatting semacam skype atau yahoochat.

Saya juga concern dengan bisa tidaknya notebook terkoneksi dengan LCD/LED dan bagaimana kualitas gambar yang dihasilkan, ternyata lagi-lagi Aspire E1-432 mampu menjawabnya, dengan satu buah VGA port dan sebuah HDMI port membantu menampilkan gambar pada LCD/LED eksternal dengan ukuran dan resolusi yang lebih besar sehingga tampilannya lebih maksimal. Kalau sudah begini, kita pun akan percaya diri saat presentasi.

Satu pertanyaan, bisakah impian saya memiliki notebook ringan berkualitas tinggi namun harga tetap terjangkau? Bisa Insya Allah...(sambil melirik Aspire E1-432 ).


 
“Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.”








Akhirnya Ngerti Juga Soal E-Ticketing

3 Comments
Dulu sebenarnya saya sudah bahas soal untung rugi e-ticketing, semuanya berdasarkan pengalaman pribadi saat bepergian menggunakan commuter line, namun waktu itu yang belikan tiket saya adalah orang lain alias teman, saya hanya duduk manis sambil menggendong si kecil. Gak tega desak-desakan sayanya.

Beda dengan tiket yang saya dapat kali ini, benar-benar hasil perjuangan sendiri. Mulai dari ngantri membeli tiket, hingga mengambil refund atau kembalian di loket khusus yang telah disediakan. Saya jadi mengerti soal e-ticketing atau tiket elektronik ini, meski tentu saja sebelum masuk ke gerbang pemeriksaan tiket, saya banyak tanya-tanya bak turis asing ke petugasnya, untungnya juga petugasnya cukup sabar menjawab pertanyaan saya.

Beginilah gambaran e-ticketing secara sederhana, ketika kita akan bepergian menggunakan commuter line:
1. Saat berada di stasiun, langsung ambil barisan untuk mengantri. Di sana akan ada petugas penjual tiket, sebutkan saja jumlah tiket yang dibutuhkan, nanti kita akan diminta pembayaran sesuai tempat tujuan. PT KAI sudah menentukan berapa besar harga tiket tiap stasiun tujuan, karena saat itu tujuan saya ke Bogor, maka masing-masing tiket dihargai tujuh ribu rupiah. Gitu sepengetahuan saya sich.

2. Setelah dapat tiketnya, kita akan masuk ke area pemeriksaan. Sebenarnya gak tepat juga disebut area pemeriksaan, mungkin bisa disebut pintu masuk area penumpang. Di sini kita diminta menunjukan tiket elektronik yang sudah dibeli sebelumnya, lalu secara mandiri atau dibantu petugasnya, tiket tadi di letakkan pada area yang bertuliskan 'tap di sini', kalau kartunya terbaca, maka pintu palangnya akan terbuka secara otomatis. Tanda cocoknya kartu adalah, berubahnya warna lampu yang awalnya merah, menjadi hijau. Palang pintu akan terdorong, daan...welcome to the passenger area.

3. Ya sudah, tinggal tunggu kereta datang. Saya memilih gerbong khusus wanita, meski kadang ada saja penumpang pria yang bandel ikutan di gerbong ini, tapi biasanya akan ketahuan dan ditegur petugas yang berjaga.

4. Sampailah saya di Bogor, menghabiskan waktu hampir seharian setelah mengunjungi beberapa tempat tujuan, dan saya pun kemali mengantri tiket. Kali ini, untuk satu tiket saya harus membayar dua ribu rupiah saja.

5. Setibanya di stasiun tempat awal saya membeli tiket, saya tidak lantas pulang. Teringat penjelasan petugas, bahwa saya harus kembali mengantri untuk mengambil uang kembalian. Tiba giliran saya di depan loket khusus kembalian, langsung saya sodorkan dua tiket elektronik dan petugas memberikan saya uang sepuluh ribu rupiah. Berarti sebenarnya, harga tiket yang tadi saya beli hanya dua ribu rupiah saja, alamaaaak....

Benar-benar jadi pengalaman berharga perjalanan saya kemarin itu, terutama soal e-ticketing, setidaknya saya jadi benar-benar mengerti penggunaannya meski terbilang sedikit terlambat. Kapan-kapan naik commuter line lagi aah...