Dari Matematika Kenangan Indah itu Tercipta

Saya termasuk lemah untuk bidang studi matematika, terutama ketika duduk di bangku SMA. Nilai-nilainya tak jauh-jauh dari angka tujuh. Matematika serasa membingungkan buat saya, ditambah rasa malas untuk berlatih dan mengulang pelajaran yang diberikan guru di sekolah. Pernah sewaktu SMP nyaris lari keliling lapangan plus disentil telinga oleh guru karena tidak mengerjakan PR, yang lucu, ada teman sekelas yang berupaya mengganjal telinganya demi mengurangi rasa sakit saat disentil nanti, ada-ada saja pikir saya.

Menginjak SMA, rasa malas kian menjadi. Kalau tidak ada PR, ya tidak belajar. Begitupula saat ulangan tiba, SKS atau sistem kebut semalam menjadi satu-satunya pilihan cara belajar saya saat itu. Hasilnya, di semester pertama nilai-nilai saya lmayan bagus, bahkan masuk sepuluh besar, namun di semester kedua nilai saya anjlok karena materi yang harus dipelajari tidak terkejar, yah maklumlah namanya juga sistem kebut semalam.

Suatu hari, paman saya yang kebetulan baru lulus dari universitas ternama di Bandung bertanya soal prestasi saya di sekolah, dengan cuek saya saya bilang, 'biasa saja, Om'. 'Matematikanya gimana?bisa nggak?' tanyanya. Saya spontan menjawab kalo nilai-nilainya pas-pasan bahkan di bawah rata-rata kelas. Sejak itu paman mulai rajin mengajari saya pelajaran Matematika dan Kimia, untuk matematika, saya coba berlatih mengerjakan soal-soal hingga waktu ulangan pun tiba.

Saya ingat betul, materi yang diujiankan saat itu adalah bangun ruang. Saya sangaat suka dan senang mengajarkannya kepada yang lain. Guru pun sepertinya menangkap sinyal itu, selain disetiap latihan soal saya termasuk paling aktif merespon, cepat menyelesaikan soal dan jawabannya selalu benar, akhirnya saat ulangan, beliau meminta saya duduk di bangkunya. Saya sendiri tak mengerti apa maksudnya, yang jelas ini menjadi momen terindah dalam hidup karena untuk pertama kalinya secara formal, saya duduk di bangku guru sementara yang lain mengerjakan di bangku masing-masing.

Lantas, bagaimana hasil ulangannya? dapat seratus! saya sangat gembira dan bahagia, karena perjuangan saya selama ini tidak sia-sia, paman pun tak putus memberikan motivasi untuk terus berlatih dan berlatih. Sayangnya, pada materi berikutnya, kalau tidak salah tentang exponen, saya tidak terlalu semangat dan kembali malas belajar, hasilnya bisa ditebak, saya hanya dapat nilai tiga! guru pun jelas kecewa, dan tentu saja bangku kehormatan itu tak lagi diberikan, saya sangat menyesal dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Kini, saya harus mengajarkan si kecil yang sudah SD akan mata pelajaran ini, semoga masih menguasai materinya, kalau tidak, saya serahkan saja pada suami.

Hidup memang penuh kejutan dan kenangan manis, dan buat saya menjadi seorang yang tiba-tiba pandai matematika dan mendapatkan bangku kehormatan adalah kenangan manis yang tak akan terlupakan, dan bisa menjadi kisah yang bisa memotivasi anak-anak kelak. Semoga saja.


Share this :

Previous
Next Post »
2 Komentar
avatar

Jadi kenangan tersendiri ya bisa duduk di bangku kehormatan :)

Makasih udah share ceritanya..
OK. Tercatat sebagai peserta^^

Balas
avatar

sip..sip..makasih juga ya mbak, sudah mampir... ^^

Balas

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔