Aku dan Kopi di Perantauan

8 Comments
Sudah hampir empat bulan aku pulang ke kampung halaman. Dulu, tepatnya dua setengah tahun lalu, aku dan keluarga merantau ke negeri Paman Sam, kebetulan suami mendapat kesempatan sekolah di sana. Di perantauan kami tinggal di sebuah komplek perumahan, penghuninya mayoritas pelajar internasional yang datang dari berbagai negara. Adapun penduduk aslinya adalah masyarakat mormon yang punya tradisi unik, salah satunya adalah mengharamkan kopi.
Adanya tradisi ini memberikan keuntungan tersendiri bagiku, setidaknya kedai-kedai kopi yang tersedia jadi jarang diminati penduduk asli. Walhasil, aku bisa berjam-jam minum kopi sambil menikmati layanan wifi gratis, plus membaca buku gratis pula. Di tempat tinggalku saat itu, hanya ada tiga kedai kopi. Salah satu kedai kopi yang ada, akhir tahun lalu ditutup karena bangkrut. Kini yang ada hanya dua kedai kopi, namun semenjak punya kegemaran menulis yang termotivasi dari grup ibu-ibu dan emak-emak yang hobi menulis, aku lebih sering menghabiskan waktu di rumah ketimbang pergi ngopi ke luar.
Ternyata kebiasaan baruku ini memunculkan masalah lain, apalagi kalau bukan ketersediaan kopi yang cocok di lidah. Sebenarnya aku bisa meraciknya sendiri, namun rasanya tetap beda dengan kopi-kopi di cafe itu. Hingga suatu hari, datang kerabat asal Indonesia yang baru kembali dari mudik tahunan. Ia membawakan satu kantong plastik kopi dengan brand yang berbeda, ada kopi liong, coffee mix, ah...pokoknya membuat hidupku berwarna saat itu. Namun ternyata aku hanya butuh waktu satu minggu untuk menghabiskan berbungkus-bungkus kopi kiriman temanku ini, selebihnya kembali 'manyun' dan mood untuk ngetik di depan laptop pun hilang seketika.


Kopi kiriman dari teman

Alhamdulillah, ada yang menangkap kegundahanku. Dia seorang coffee lover sejati yang berasal dari Turki. Dia bawakan sebungkus besar kopi turki dan setelah kucicipi, ternyata nikmatnya tiada tara, ada sensasi rasa pahit, manis dan creamy dari susu yang terpadu menjadi satu, membuat siapa saja yang menikmatinya pasti langsung jatuh cinta. Cara penyajiannya juga unik, ada tiga langkah dalam pembuatannya. Pertama, kita ambil satu sendok kopi(jangan terlalu banyak, karena rasanya sangat pahit),masukkan ke dalam wadah khusus untuk merebus air. Kedua, tambahkan satu gelas susu cair tawar, lalu tambahkan gula putih secukupnya. Ketiga, nyalakan kompor, amati prosesnya sebelum mendidih dan berbuih karena kita harus mengambil buih-buih kopi ke dalam gelas, dan menuangkain sisa cairannya ke dalam gelas yang sama, sajikan selagi panas.

Kopi Turki

Cara penyajian
Hampir tiap malam ritual ini kulakukan, efeknya, aku serasa punya tenaga dua kali lipat untuk begadang menyelesaikan tulisan-tulisan dalam rangka belajar nulis, dan ikut berbagai kuis. Lantas apakah kebiasaan nyeruput kopi saat belajar nulis terhenti ketika aku hamil? Tidak!, hanya frekwensinya saja dikurangi. Tidak afdol rasanya kalau tidak minum kopi, meski hanya icip-icip dari cangkir suami setiap pagi. Boleh kok kata bu dokter. :)

*tulisan ini diikutsertakan dalam Give Away tentang Kopi yang diselenggarakan oleh mbak Lisa Gopar di http://lisagopar.blogspot.com/p/ga.html