Mencicipi Masakan ala Turki


 Siang ini, saya dan sikecil berkesempatan untuk main kerumah salah satu sahabat saya, sesama penghuni apartemen. Sebelumnya melalui pesan di facebook, sahabat saya ini mengabarkan akan membuat makanan khas negaranya, dan belajar menjahit bersama. Sayangnya kehadiran saya terlambat satu jam, karena pagi harinya kulkas dirumah tiba-tiba mati, jadilah saya harus menunggu hingga selesai diperbaiki.
Sahabat saya ini berasal dari Turki, dan saat saya tiba dirumahnya sudah ada beberapa teman-teman Turki lainnya, Palestine dan satu dari Uighur. Begitu saya datang, sudah disambut dengan hidangan pembuka berupa sup yang dicampur dengan pasta, cara makannya dicocol dengan roti, dan karena lapar, piring saya bersih dalam sekejap. Hidangan selanjutnya berupa makanan utama, terdiri dari nasi putih, daging sapi yang digodog selama 3 jam, tumisan ala turki dan salad, inipun habis dalam waktu sepuluh menit saja.

Selanjutnya ditutup dengan hidangan penutup, berupa kue khas ala Turki. Sikecil yang sedari awal cuek dengan makanan yang dihidangkan, langsung menuju meja saya dan meminta beberapa potong kue. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari makanan-makanan tadi, terutama bagi saya yang berlidah Asia, yang tidak bisa makan jika tidak terasa pedas. Namun dari pertemuan tadi siang, meninggalkan kesan yang mendalam.
Kesan pertama, karena saya bisa bertemu dengan sister dari berbagai negara, terutama negara yang selama ini mengalami konflik, terutama perempuannya yang terintimidasi dari sisi pakaian. Hingga pembicaraan kami akhirnya mengarah pada konsep menutup aurat, betapa dua dari sahabat saya tadi begitu marahnya, ketika beberapa orang menanyakan tentang hal ini.
Kalimatnya kurang lebih seperti ini; I really angry, when they ask me about hijab
Tanya saya,why?.
Diapun menjawab,Because, they dont understand about the condition in my country. Women in the public dont allow to wear hijab, dia melanjutkan,People said that i am in USA now, so why i dont wear hijab, (sambil menampakkan wajah kecewa),aargh, i hate that question!
Saya cukup geli mendengar curhatan-curhatan para sister ini, meski disisi lain cukup prihatin dengan kondisi yang mereka alami. Akhirnya saya katakan, bahwa menutup aurat memang kewajiban atas setiap muslim, meski demikian saya juga memberikan penguatan kepada mereka, atas apa yang terjadi dinegaranya. Dari sini saya merenung, betapa muslimah di Indonesia sangat beruntung, memakai kerudung dan jilbab bisa dengan leluasa, tanpa intimidasi seperti yang terjadi di Uigur dan Turki. Bahkan teman saya di Turki mengatakan, bahwa pegawai negeri sipil perempuan dilarang menutup auratnya, dan sesekali pemerintah mengadakan razia bagi perempuan yang menutup auratnya dengan sempurna(berjilbab dan berkerudung, sambil menunjuk kearah saya). Kaget juga sebenarnya, tapi itulah realitas yang terjadi. Semoga bulan depan, saya masih diundang makan-makan, sambil membahas hal-hal menarik dan bertukar fikiran dengan sisters yang saya cintai sebagai sesama muslim.

Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔