Kisah Misteri *yang gak kuat jangan baca yaa

2 Comments
Kisah Misteri *yang gak kuat jangan baca yaa
Alhamdulillah, tanpa bermaksud show off alias pengumuman, saya terpilih sebagai pemenang cerita misteri di group Ibu-Ibu Doyan Nulis. Kuis yang dipandu bu Lygia Pecanduhujan ini banyak sekali peminatnya. Ceritanya juga seram-seram tapi lucu. Berikut ini saya share dua tulisan tersebut, yang merupakan kisah nyata beberapa tahun lalu. Ehm,..tepatnya waktu saya SMA*jadul nian

Notes ini saya buat untuk terus memotivasi semata, bahwa kita semua bisa menulis. Meski sudah dua bulan laptop saya rusak, namun selama bisa digunakan, tak ada alasan untuk berhenti berkarya (maap lebay). Satu yang terpenting, jangan bosan dan terus menulis. Selamat berkarya!


Cerita I

Magrib hampir tiba. Ibuku menyelesaikan beberapa potong pakaian untuk dijemur. Bukan jemuran keren ini mah, tapi jemuran yang talinya menghubungkan pohon melinjo dengan pohon jambu. Bapak membuatnya sudah lama. Posisi jemuran ada di samping rumah, dibatasi pagar tembok dengan kebun kosong milik tetangga. Saat menjemur, posisi ibu membelakangi kebun kosong. Lalu pindah ke tali jemuran berikutnya, dan posisinya diubah menghadap ke kebun kosong. Tiba-tiba saat mengangkat kepala sambil menyangkutkan baju, mata ibu terbelalak begitu melihat ke arah kebun kosong. Ada kepala yang menyembul dari pagar. Tapi wajahnya hitam semua. Meski menjelang magrib, biasanya wajah orang masih kelihatan loch. Tapi ibu bilang, ini kepala gak ada wajahnya. Bahkan hidung, mata, mulut, juga gak ada! Lah terus, yang dilihat ibu itu apa?

Hikmah: Jangan beraktivitas keluar rumah kala magrib tiba, kecuali berangkat ke Masjid yaa...at least, tunggu hingga azan magrib selesai.


Cerita 2

Mencicipi Masakan ala Turki

Add Comment

 Siang ini, saya dan sikecil berkesempatan untuk main kerumah salah satu sahabat saya, sesama penghuni apartemen. Sebelumnya melalui pesan di facebook, sahabat saya ini mengabarkan akan membuat makanan khas negaranya, dan belajar menjahit bersama. Sayangnya kehadiran saya terlambat satu jam, karena pagi harinya kulkas dirumah tiba-tiba mati, jadilah saya harus menunggu hingga selesai diperbaiki.
Sahabat saya ini berasal dari Turki, dan saat saya tiba dirumahnya sudah ada beberapa teman-teman Turki lainnya, Palestine dan satu dari Uighur. Begitu saya datang, sudah disambut dengan hidangan pembuka berupa sup yang dicampur dengan pasta, cara makannya dicocol dengan roti, dan karena lapar, piring saya bersih dalam sekejap. Hidangan selanjutnya berupa makanan utama, terdiri dari nasi putih, daging sapi yang digodog selama 3 jam, tumisan ala turki dan salad, inipun habis dalam waktu sepuluh menit saja.

Selanjutnya ditutup dengan hidangan penutup, berupa kue khas ala Turki. Sikecil yang sedari awal cuek dengan makanan yang dihidangkan, langsung menuju meja saya dan meminta beberapa potong kue. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari makanan-makanan tadi, terutama bagi saya yang berlidah Asia, yang tidak bisa makan jika tidak terasa pedas. Namun dari pertemuan tadi siang, meninggalkan kesan yang mendalam.

Pengalaman Mengurus Visa Ke Amerika

Add Comment


Sudah lama saya ingin berbagi soal ini. Meski Amerika bukanlah negara impian, namun bagi sebagian orang yang mendapatkan kesempatan sekolah di sana, mengurus visa merupakan hal penting yang tak bisa dianggap remeh. Langsung saja saya share pengalaman suka duka mengurus visa ini ya.

Kita semua sudah tahu, bahwa mengurus visa di kedutaan besar Amerika adalah hal yang sulit. Pertama kali yang saya lakukan adalah membuka website US Embassy, dilanjut dengan mengisi beberapa form, mensubmit-nya dan tak lupa pergi ke studio foto.
Saya datang ke kedutaan sekitar pukul 5 pagi. Tanpa membuat janji dulu, saya datang hari Senin yang memang diperuntukan bagi pelajar dan keluarga, yang akan membuat visa. Kebetulan visa saya F2. Selain membuat visa untuk saya, visa si kecil pun saya yang urus, tanpa harus mengajaknya bercapek-capek ke kedubes AS.

Setibanya saya di sana, sudah berdiri puluhan orang yang berbaris rapi. Posisi barisan tepat di bawah rel kereta api yang menuju arah Gondangdia. Tepat pukul 8, gerbang pertama dibuka. Gerbang kedua berposisi persis di depan gedung kedubes, dan gerbang ketiga berada di halaman kedubes.
Semua proses saya lalui, hingga berakhir pada wawancara. Pewawancaranya kebetulan bisa berbahasa Indonesia (padahal semalaman saya belajar bahasa Inggris.. T_T..). Pertanyaannya pun formal saja menurut saya, seputar alasa kenapa ke Amerika, suami ambil studi apa, dan berapa lama rencana di sana. Selepas wawancara, saya diberi kartu warna putih, dan diminta datang dua hari lagi.
Saya masih belum mengerti, namun kata bapak penjaga gerbang, saya lolos wawancara dan dapat visanya. Alhamdulillah, impian saya berkumpul bersama suami akhirnya terwujud.
Dari sini saya menyimpulkan, bahwa manusia hanya bisa berencana dan berusaha dengan optimal. Selebihnya diserahkan kepada Allah Yang Maha Menentukan. Apapapun yang ketentuanNya, pasti yang terbaik buat manusia. Yo po ora?...^_^

Oh iya, untuk langkah-langkah detilnya, saya pake blog ini sebagai referensi saat itu: http://arga.wordpress.com/2010/06/09/langkah-langkah-mengurus-visa-pelajar-f-1-amerika-serikat-di-kedutaan-amerika-di-jakarta/

Kerudung Konservatif

Add Comment
Kerudung Konservatif
Sudah sejak sebulan lalu, saya dan si kecil mempersiapkan kado untuk anak perempuan tetangga kami, yang kebetulan berulang tahun di penghujung bulan April. Bukan apa-apa, tapi sengaja saya beli diawal agar tidak lupa, dan anggrannya tidak terpakai kemana-mana. Sebenarnya acaranya tidak menggambarkan ulang tahun sama sekali, tidak ada tiup lilin, kue, bahkan tak ada nyanyian. Acara cuma makan-makan, tamunya hanya empat orang ibu-ibu cantik, yang didominasi American native, saya dan satu ibu yang berasal dari Nepal.
Lokasi acara berada di taman belakang, dan ternyata tidak hanya grup kami yang ada disana, sekelompok bapak-bapak dari timur tengah tampaknya juga tengah asyik berbicara, sambil sesekali melihat anak-anak mereka yang membaur dengan anak-anak kami. Sore itu sungguh seru dan ramai, membuat saya tak sadar ternyata waktu menunjukkan pukul 7, yang berarti magrib akan segera tiba.
Sebenarnya isi pembicaraan saya dan ibu-ibu ini biasa saja, mulai dari perihal anak, masakan, budaya, hingga kesamaan kami menyukai kota kecil tempat saya tinggal saat ini, Logan, Utah. Dua dari ibu-ibu yang notabene American native menyatakan, bahwa kota ini terkategori kota yang nyaman dan aman bagi anak-anak, kriminalitas sangat jarang terjadi, minuman keras cukup sulit dijumpai, pasangan muda-mudi juga masih terlihat santun, kalaupun ada yang 'bertingkah aneh', hanya bisa dijumpai disekitar transit bus. Selebihnya, jarang terjadi ditempat-tempat umum(meski belakangan saya protes, karena di kampus pernah menjumpai sepasang muda mudi yang tengah bercumbu, dan harus mengalihkan perhatian si kecil sambil menjelaskannya sepanjang perjalanan pulang).