Acer Aspire E1 dengan Prosesor Canggih Nan Tipis untuk Emak Multitasking

79 Comments
"Ki, mau dong aku diajarin ngeblog.." Pinta tetangga saya beberapa waktu lalu. Berawal dari promosi buku keempat saya (tepatnya buku antologi), kami bicara banyak hal termasuk soal dunia tulis menulis dan blog. Ada lagi sahabat saya yang seorang penjahit, kebetulan dia seorang single parent dengan banyak anak, dan saat ini dipusingkan dengan biaya sekolah yang tidak sedikit. Beruntung keahliannya menjahit cukup membantu perekonomiannya yang naik turun. "Ki, aku punya baju-baju muslim yang menggantung di lemari, pengin dijual tapi bingung ke siapa". Tanpa pikir panjang, saya langsung menawarkan diri untuk membuat toko baju online, tapi lagi-lagi terhambat ketidak tahuannya akan dunia perblogan.

Lain halnya dengan beberapa teman saya yang hobi menulis dan pandai membuat puisi, wall facebook kerap jadi sasaran naluri sastranya, entah itu tulisan ringan ataupun sekadar puisi. Akhirnya saya tawarkan untuk membuat blog agar bisa tersalurkan di tempat yang lebih leluasa untuk berkarya. Saya jadi terpikir untuk membuat pelatihan blog, dan saya tawarkan hal ini ke teman-teman, ternyata mereka menyambutnya dengan antusias, meski rata-rata terbatas dari sisi fasilitas. Sebenarnya sewaktu merantau dulu, saya sempat menularkan virus ngeblog ke beberapa teman, namun hanya beberapa bulan saja. Selanjutnya setelah kembali ke Indonesia, kegiatan positif ini tak lagi berlanjut.
Pasca menelurkan beberapa buku antologi dan mendapatkan sertifikat kepenulisan dari detik.com, beberapa teman mulai bertanya-tanya seputar dunia yang tengah saya geluti saat ini. 'Eh, ternyata Kiki bisa nulis, kok bisa bikin buku ki?', 'gimana sich Ki biar bisa nulis'. Saya cuma menjawab singkat, mulailah menulis dari sekarang dan rajin-rajinlah berbagi. 


langkah kecil saya memulai karya

Selain memberikan motivasi untuk menulis, saya juga mengajak teman-teman untuk bergabung dalam komunitas kepenulisan di dunia maya, salah satunya di grup Kumpulan Emak-Emak Blogger(KEB). Tergabung di komunitas Kumpulan Emak-Emak Blogger(KEB) yang selalu menyalurkan energi positif kepada para anggotanya, memacu penulis pemula seperti saya untuk terus menulis dan diapresiasi melalui berbagai ajang bergengsi yang tujuan utamanya tentu untuk memotivasi. Salah satunya adalah penyelenggaraan tantangan 30 hari menulis yang bekerja sama dengan Acer Aspire E1, selain menyemangati saya untuk terus menulis, melalui ajang ini saya seolah ditakdirkan bertemu dengan notebook impian.


Kok segitunya? Iyaa, karena semua hal yang ada dalam diri Acer Aspire E1 begitu sempurna di mata saya, dan berharap nantinya kami akan menjadi tim yang solid terutama saat saya beraktivitas di dalam maupun di luar rumah. Kami seolah saling melengkapi, banyaknya kelebihan yang dimiliki Acer Aspire E1 sangat menopang aktivitas saya di dunia maya. Diantaranya adalah:

1. Acer Aspire E1 punya body ramping alias slim, dimensinya 30% lebih tipis. Beratnya pun tidak seberat notebook pada umumnya. Kalau sudah begini, siapa yang tidak jatuh hati apalagi buat emak-emak yang hobinya kesana kemari seperti saya. Pelatihan menulis, training motivasi remaja, liputan media, semuanya jadi lebih mudah dengan bantuan si tipis ini. Ditambah sekarang kemana-mana saya selalu bawa si kecil, bisa dibayangkan repotnya. Nah, kalau punya Acer Aspire E1, selain dapat dimasukan dalam tas saking tipisnya, saya jadi tak perlu repot membawa banyak tentengan yang mengurangi penampilan, hehe..Jadi, saya bisa tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya”.


2.  Acer Aspire E1 didukung performa Intel® Processor di dalamnya jadi nilai plus dari notebook slim ini. Yess, notebook ini adalah notebook keluarga, karna tahu apa yang dimaui anak. Sebagai penggemar game, meski mainnya terjadwal hanya Sabtu-Minggu, Acer Aspire E1 memiliki prosesor yang terintegrasi dengan Intel HD graphics terbaru dengan peningkatan kinerja yang signifikan, ini merupakan angin segar bagi pecinta game, terutama anak-anak. Selain itu, daya tahan baterainya juga membantu saya dalam meminimalisir pembayaran listrik setiap awal bulan. Mengapa? karena prosesor ini menggunakan arsitektur Haswell (22nm) yang dapat bekerja sangat efisien dengan TDP hanya 15 Watt saja. Dikombinasikan dengan baterai 4-cell (2500mAh) yang digunakan, daya tahan baterai notebook ini dipastikan akan menjadi jauh lebih maksimal, saya pun tak perlu repot-repot membawa charger jika pergi kemana-mana. Kesimpulannya, prosesor keren dari Acer Aspire E1 klop dengan gammer seperti anak-anak, efisiensi listrik, menekan anggaran listrik bulanan, dan simple untuk dibawa-bawa tanpa charger.


3. Acer Aspire E1 yang didukung performa Intel® Processor di dalamnya dipastikan akan memudahkan saya dalam bekerja dan menulis di blog. Banyaknya file yang harus saya unduh, mulai dari artikel sebagai referensi tulisan, youtube untuk melengkapi isi blog atau sebagai hiburan saat nenulis, live streaming kala liputan, foto-foto untuk memperkaya page yang tengah saya urus, menuntut saya untuk memiliki notebook yang mampu menampung semua data. Acer Aspire E1 menggunakan RAM DDR3 sebesar 2GB yang dapat di-upgrade hingga 8GB sangat cocok untuk kebutuhan multitasking saya, plus media penyimpanan harddisk SATA berukuran 500GB sudah lebih dari cukup menampung file-file yang jumlahnya tak terhitung.


4. Bagaimana dengan kebutuhan lainnya seperti konektivitas, seperti internet dan LCD untuk kebutuhan presentasi? Jangan khawatir, Acer Aspire E1 komplit plit plit! Meski tipis, tak ada satupun fitur yang dikorbankan. Jadi tenang saja yaa...Acer Aspire E1 punya DVD-RW agar kita tak repot -repot membawa DVD-RW eksternal. Acer Aspire E1 juga memiliki tiga buah port USB, yang satu diantaranya sudah menggunakan USB 3.0 dengan transfer data 10x lipat lebih kencang dibandingkan USB 2.0, juga card reader untuk kita yang gemar dunia pemotretan. Adapun untuk internet dan presentasi, notebook ini menyediakan satu buah port LAN (RJ-45) yang dapat digunakan tanpa memerlukan converter apapun, dan sebuah wireless adapter Acer Nplify 802.11b/g/n untuk berselancar ke dunia maya, tinggal tanya pasword aja kok ke tetangga. 

Lantas, apa langkah selanjutnya setelah menemukan notebook impian? Bikin resolusi! Berhubung akhir tahun sudah di depan mata, tidak ada salahnya membuat resolusi agar kehidupan yang kita jalani punya target yang pasti. Sederhana saja resolusinya, antara lain:

1. Punya Acer Aspire E1
2. Mengadakan pelatihan blog gratis untuk emak-emak lingkungan sekitar, dan teman-teman yang gemar dengan dunia kepenulisan
3. Training ngeblog untuk pelajar
4. Menerbitkan buku solo
5. Membuat tulisan opini dan mengirimkannya ke media
6. Berdoa agar resolusi saya terwujud, terutama untuk poin nomor 1  :)

Lalu, apa saja resolusimu Mak?....


Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia

Dengan Slim Aspire E1, Kerja Tetap Jalan Keluarga pun Tak Terabaikan

30 Comments
'Khalil bermasalah di kejujuran, bunda, setiap mengerjakan soal matanya selalu larak-lirik dan saya berkali-kali harus mengingatkan'. Begitu gurunya Khalil putra saya menjelaskan, saat pembagian rapot bayangan semester satu kemarin. Pengen nangis rasanya, karena saya sangat optimis dengan norma-norma ketimuran, yang saya tanamkan ke Khalil sejak kecil.

Saya memang cukup concern soal pendidikan anak, tapi tidak terlalu ngoyo untuk nilai-nilai akademiknya, apalagi si sulung Khalil baru duduk di kelas satu. Kelas yang seharusnya fokus pada bermain, bersosialisasi baru belajar. Makanya ketika saya dan keluarga masih tinggal di Amerika, dan Khalil terdaftar sebagai siswa kelas TK, saya tidak menargetkannya untuk lancar dalam membaca, dan jago berhitung di bidang matematika, yang penting Khalil enjoy di sekolah dan senang bermain dengan teman-temannya. Ini pula yang membuat saya santai kala di rumah, Khalil saya ijinkan main game hampir setiap hari, nonton TV edukatif yang kebetulan di Amerika ada channel khusus untuk itu. Jadi hampir setiap hari saya dan Khalil bergantian memakai laptop, dia main game dan saya facebookan,hehe

Sayangnya, semua itu harus berakhir di penghujung tahun lalu. Laptop yang biasa kami pakai berdua, iba-tiba hilang gambarnya. Ini terjadi sesaat setelah Khalil mendownload game yang jumlahnya lebih dari tiga. Huwaaa, saya marah besar dan sempat kecewa dengan Khalil, tapi akhirnya menyadari bahwa yang namanya rezeki tak selamanya harus dimiliki.

penampakan layar notebook yang berakhir rusak

Pertengahan September 2012 mungkin jadi momen terindah dalam hidup, saya dinyatakan postif hamil, dua tulisan untuk antologi lolos seleksi, dan punya laptop baru! Alhamdulillah wa syukurillah...penantian panjang saya berbuah manis.

Kini hari-hari saya disibukkan dengan berbagai kegiatan, diantaranya mengurus anak-anak ganteng nan lucu, mengurus page yang harus di isi dengan postingan harian, dan menulis blog. Repot? Bangeeet, apalagi kalau nanti suami kembali dari studinya, semuanya harus di menej agar tidak jatuh korban alias ada yang terabaikan. Menghadapinya, saya pakai empat jurus jitu, pertama buat prinsip hidup yang jadi patokan saat kita beraktifitas, 'jauhi gadget saat anak di sekitarmu!' Yap, inilah prinsip saya yang tak bisa ditawar kecuali kepepet deadline, hehe...Biasanya gadget baru on di jam-jam tertentu yaitu saat Khalil sekolah dan adiknya tidur, di atas jam delapan malam, dan kalau terpaksa mengejar deadline maka saya online sambil bermain dengan anak, dan ini yang kadang bikin ribet karena laptop saya dimensinya cukup besar dan berat. Tapi ya mau gimana lagi, jalani saja dan syukuri apa yang ada.
duo ganteng

Jurus kedua adalah pinter-pinterlah membagi waktu dan konsisten menjalaninya. Sebagai ibu, istri dan bagian dari masyarakat, manajemen waktu adalah harga mati. Apalagi sekarang saya punya rumah baca yang mulai memiliki pelanggan tetap, hampir setiap hari ada saja anak-anak yang singgah untuk sekadar baca buku dan meminjam beberapa buku untuk dibawa pulang, Teorinya, bangun subuh sebelum subuh harus jadi kegemaran, dan tidur paling akhir diantara anggota keluarga kadang jadi rutinitas harian. Selebihnya, pengaturan waktu dan penempatan aktivitas tergantung kondisi tiap ibu.

Ketiga adalah penentuan skala prioritas, biasanya ketika beraktifitas saya dahulukan yang wajib, baru yang sunah, terakhir yang mubah(boleh). Contoh aktifitas yang wajib adalah melayani suami seperti menyiapkan sarapannya, bekalnya untuk di kantor dan yang paling penting adalah ketika suami minta ditemani nonton atau sekadar bercengkrama (suit..suit..) di depan TV maka gadget musti saya singkirkan. Hal wajib lainnya adalah saat tiba waktu sholat, atau anak sakit yang semuanya tidak bisa ditunda. Adapun aktifitas yang sunah adalah menemani anak bermain yang waktunya bisa kita atur, melayani pelanggan rumah baca, bersosialisasi dengan tetangga. Yang mubah? Nonton berita di TV, jalan-jalan ke mall, dan kegiatan yang sifatnya bersenang-senang, bisa kita tempatkan di prioritas kesekian. Gampang kok teorinya, pelaksanaannya? Gampang juga InsyaAllah.

Keempat, mulai memikirkan punya laptop/notebook yang friendly dengan kita. Maunya sich begitu, tapi apa salahnya kita bermimpi dan berdoa agar suatu hari jadi kenyataan. Notebook idaman saya ada pada AcerAspire E1-432 , mengapa? Karena notebook ini memenuhi setidaknya dua kriteria idaman; tipis dan prosesornya bukan prosesor abal-abal.

Saya butuh notebook tipis terutama saat dikejar deadline tapi tak mau kehilangan waktu berharga dengan anak-anak. Bayangan saya, notebook ini bisa dibawa kemana-mana mengikuti area bermain anak, dan saya bisa bekerja sambil bermain, dan yang tak kalah penting saya bisa tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya. Adapun untuk prosesornya, saya butuh prosesor yang berkelas, seperti yang dimiliki Acer Aspire E1-432 yang didukung performa Intel® Processor di dalamnya“ sehingga saat Khalil main game dan download game gak gampang eror, saya ngetik seharian gak gampang panas dan saya bisa banyak menyimpan file. Keunggulan utama dari notebook Aspire E1-432 ini adalah penggunaan prosesor Intel 4th Gen terbaru, atau lebih dikenal dengan kode nama Haswell

Acer mempersenjatai notebook ini dengan prosesor Intel® Dual Core Celeron® Processor 2955U yang memiliki dua buah inti (dual core) dan berjalan pada kecepatan 1.40 GHz. Apa yang membuat prosesor ini menjadi suatu keunggulan dari Aspire E1-432? Pertama, prosesor ini sudah menggunakan arsitektur Haswell (22nm) yang dapat bekerja sangat efisien dengan TDP hanya 15 Watt saja. Dikombinasikan dengan baterai 4-cell (2500mAh) yang digunakan, daya tahan baterai notebook ini dipastikan akan menjadi jauh lebih maksimal. Kedua, prosesor Intel Celeron 2955U ini sudah terintegrasi dengan Intel HD graphics terbaru dengan peningkatan kinerja yang signifikan dibanding dengan Intel HD graphics sebelumnya. Tentunya hal tersebut merupakan kabar baik bagi spAcer yang senang bermain game.

Cukup menggoda kan? Yang pasti dengan Slim Aspire E1, kerja tetap jalan keluarga pun tak terabaikan.


Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.”

Notebook Slim dan Kepedulian Kita akan Nasib Generasi

30 Comments
Hari sumpah pemuda tahun ini sebenarnya tidak beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di berbagai daerah, para mahasiswa memperingatinya dengan melakukan aksi damai, ada pula yang memperingatinya dengan melaksanakan upacara bendera. Bahkan situs-situs jejaring sosial, ramai mengangkat hari sumpah pemuda sebagai tema status dan kicauannya di twiter. Selain diisi oleh kegiatan positif, beberapa generasi muda justru seolah kehilangan makna hari sumpah pemuda, dengan melakukan tindakan asusila yang membuat heboh dunia pendidikan dan jagat dunia maya. Salah satunya dengan munculnya video porno yang dilakukan dua remaja usia belia, dan 'gilanya' ini dilakukan di sekolah. Belum lagi kasus bulying yang masih marak di sekolah-sekolah, tawuran, dan peristiwa memprihatinkan lainnya yang menimpa para remaja.

Sebenernya saya ingin cuek dengan kondisi remaja sekarang, tapi nggak bisa. Mungkin karena dulu sempat mengajar di salah satu SMA swasta di Depok, sering berinteraksi dengan siswa bermasalah, dan akhirnya tahu kehidupan peserta didik, akhirnya tergambar bagaimana kritisnya mereka saat mencari jati diri, saya pun jadi concern dengan dunia remaja. Sampai akhirnya pada tahun 2007, berdiri lembaga konsultasi remaja kecil-kecilan, yang dimanajeri oleh saya sendiri dibantu oleh beberapa teman yang punya passion sama. Mitra Muda Center, begitu kami menamainya. Meski namanya lembaga konsultasi, namun jarang sekali menerima konsultasi pribadi. Lembaga ini lebih sering mengadakan seminar dan training di sekolah maupun di luar sekolah.

Mendirikan lembaga berbasis training ternyata tidak mudah dan banyak kendala, mulai dari perijinan ke departemen pendidikan tingkat kota, hingga sarana yang menunjang semacam notebook dan LCD/Infokus. Saya ingat saat pertama kali mengadakan training, karena belum punya notebook apalagi LCD, akhirnya panitia membawa baligho besar yang panjang dan lebarnya saja mencapai satu setengah meter. Isi baligho memuat semua materi presentasi, dilengkapi dengan gambar-gambar menarik sehingga menjadi satu-satunya media informasi kami saat itu. Jadi setiap kali ada training, baligho itu dibawa-bawa, dari sekolah satu ke sekolah lainnya, dari masjid satu ke masjid lainnya, dengan menggunakan angkot!

Akhirnya saya putuskan untuk membeli notebook, saat itu pilihannya adalah ACER Aspire 4310. Saya pun langsung jatuh cinta pada performanya, rasanya cewek banget. Ditambah prosesornya yang mampu menampung banyak file, terutama multimedia yang menjadi materi inti saat mengisi training. Pokonya sempurna banget dech di mata saya, cuma ada satu kekurangan, berat!


Si kecil dan ACER Aspire 4310
Satu kali saya bawa notebook Acer Aspire 4310 ini ke salah satu SMA negeri di Sawangan, tujuannya untuk mengisi seminar bertema aborsi. Materi yang menarik, ditambah tayangan multimedia dengan kualitas prima (gambarnya jelas dan soundnya juga jernih), membuat penontonnya begitu menghayati tayangan dengan seksama. Mereka menjerit ketika bayi mungil 'diremukkan' menggunakan forcep (semacam gunting) yang dimasukkan dalam rahim, mereka menangis saat menyaksikan bayi-bayi korban aborsi yang sudah menjadi mayat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, dan mereka tersentak ketika diberikan nasihat sebagai pengingat, akan perannya sebagai agen of change suatu bangsa.
Saat mengisi seminar remaja

Sayangnya, kegiatan ini harus terhenti manakala saya harus berangkat mendampingi suami ke luar negeri. Dan notebook Acernya? Saya jual karena terdesak kebutuhan, jadi sedih kalau ingat saat-saat terakhir berpisah dengan notebook saya. Rasanya mau nangis, karena kami sudah begitu dekat, tapi saya lega karena sekarang sudah berada di tangan pemilik yang tepat.

Kini saya telah kembali ke pangkuan ibu pertiwi, dan saatnya berkontribusi dengan melakukan aksi nyata, apalagi kalau bukan mencerdaskan anak bangsa. Terlebih kini, ada Acer Aspire E1-432 yang secara umum mirip dengan Acer Aspire saya dulu. Hanya bedanya ada pada dimensi dan berat, kalau Acer Aspire milik saya beratnya 2,6 Kg, untuk  Acer Aspire E1-432 hanya 2,1 Kg saja. Lengkapnya, mari kita perhatikan tabel berikut.



Berat
2,6 Kg
2,1 Kg
Screen resolution
1280 x 800 px
1366×768 px
Display size
14.1"
14”
Processor
Intel Celeron M
Intel 4th Gen terbaru
Baterai
6-cell (44.4W, 4000mAh)
daya tahan 2 jam
4-cell (15 W, 2500mAh)
daya tahan 6 jam
Memori
2 GB
2 GB yang dapat diupgrade 8 GB
Hard disk
160 GB
500 GB


Komparasi keduanya menunjukan bahwa Acer Aspire E1-432 lebih unggul, terutama dari sisi berat, dimensi(ketebalan), daya tahan baterai, ah pokoknya semuanya. Harganya pun masih terjangkau, kalau dulu saya beli Acer Aspire 4310 sekitar lima jutaan, kini Acer Aspire E1-432 dibandrol Rp.4.749.000,- saja, ditambah garansi FULL 3 tahun (termasuk service dan spareparts) untuk pembelian hingga hari ini. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa memilikinya, agar segala aktivitas mobile saya terutama yang ada hubungannya dengan dunia remaja, jadi semakin mudah. Doakan yah...


“Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.”



Berharap Punya Notebook Tipis dan Tidak Mahal? In Your Dream!

30 Comments
Saya jadi malu kalau ingat kejadian dua minggu lalu, diteriaki penumpang angkot gara-gara mukanya tersenggol tas ransel saya, kebetulan waktu itu isi ransel penuh dengan perlengkapan bayi dan notebook lengkap dengan mouse dan chargernya. Mungkin senggolannya cukup keras makanya ia teriak, saya pun langsung minta maaf dan langsung ambil langkah seribu demi menghilangkan rasa malu.

Saya tipikal orang yang gak mau repot, jadi senang dengan yang simple. Makanya kalau pergi kemana-mana, semua keperluan masuk jadi satu dalam tas ransel, kecuali uang dan telepon genggam yang disimpan dalam tas sangkil, tujuannya tak lain untuk mempermudah saat bertransaksi dan berkomunikasi. Dasar emak-emak yang gak mau repot, tiap kali naik angkot, tas ransel pun tak pernah lepas meski duduk jadi kurang nyaman karena posisinya terlalu menjorok ke depan, tapi ya mau gimana lagi, daripada saat turun harus nenteng-nenteng tas ditambah si bungsu dalam gendongan, dan payung dalam genggaman, akhirnya cara praktis saya jalankan.

Bekerja mengurusi page yang harus diupdate setiap hari plus punya blog yang berafiliasi dengan google, mau tak mau harus bawa notebook kalau pergi seharian, terutama saat menjalani aktivitas rutin dua mingguan yang mengharuskan saya pergi ke Jakarta, entah itu rapat di kantor membahas perkembangan media yang saya kelola, ataupun meliput acara-acara yang biasanya bertemakan perempuan. Nah, berhubung gak punya kendaraan pribadi dan taksi juga tarifnya tak terjangkau biasanya saya pilih kereta api sebagai sarana transportasi, selain murah juga cepat sampai tujuan.
Sayangnya saat ini notebook yang saya punya kurang bersahabat dari sisi berat dan ukuran, harganya memang sangat terjangkau tapi yang saya alami, membuat saya sering berkhayal untuk punya notebook baru yang bersahabat dengan dunia saya. padahal saya juga harus bawa si kecil yang baru berusia empat bulan yang ikut kemana saya pergi. Walhasil, setiap kali pulang dari aktivitas, pundak terasa pegal dan badan serasa diinjak seribu gajah(lebay dech...)

page yang tengah saya kelola
Sebenarnya saya pernah punya notebook ringan, bukan saya sich yang punya tapi punya suami. Karena suami sudah punya notebook Acer jadi notebook ringannya dikasih ke saya. Tapi ternyata gak bertahan lama, gara-gara si sulung gemar bermain game dan rajin download game akhirnya notebook saya eror. Di layar monitor hanya muncul gambar dan tulisan transparan, gimana mau nulis kalau sudah begini. Sedih dan terpuruk rasanya apalagi waktu itu saya masih diperantauan, praktis semua kegiatan di dunia maya terhenti terutama yang ada hubungannya dengan dunia tulis menulis.Tapi kesedihan itu berbuah manis, dua bulan pasca 'kehilangan' notebook impian, suami membelikan notebook baru dan masih saya pakai hingga sekarang. Sayangnya ya itu tadi, berat, ukurannya besar dan tebal yang bikin cepat pegal meski dibawa pakai tas ransel. Selain itu, notebook saya cepat panas meski hanya digunakan sebentar, dan yang paling bikin gemes adalah bentuk colokan chargernya yang tidak pas dengan stop kontak yang ada di Indonesia. 

ternak blog saya saat ini


Saking hopelessnya saya pernah menghayal, ada nggak yah notebook yang bisa bersahabat dengan dunia saya? Nggak perlu neko-neko, yang penting ringan dan tipis sehingga bisa dibawa kemana-mana, tapi harganya pas di kantong. In your dream! kata suami..hehe. Sebagai pemerhati dunia per-gadget-an, katanya hampir mustahil punya notebook ringan yang berkualitas canggih tapi harganya di bawah lima jutaan.

Tak Lagi Hanya Sebatas Mimpi

Punya notebook tipis, ringan dan tidak mahal selama ini hanya sebatas mimpi, tapi tunggu dulu! Ada Acer Aspire E1-432 yang kabarnya punya banyak kelebihan. Apa saja kelebihannya, yuk kita lihat satu persatu biar gak penasaran. Siapa tahu ini adalah notebook idaman yang kita impikan sejak dulu.

Kelebihan pertama adalah jika dibandingkan dengan notebook lainnya, Acer AspireE1-432 ini dimensinya 30% lebih tipis, tebalnya sekitar 25,3 mm saja. Padahal notebook ini dilengkapi optical drive/DVD-RW yang umumnya dimiliki oleh notebook berdimensi tebal. Jadi tak ada yang dikorbankan dalam hal ini, Acer Aspire E1-432 tetap mengutamakan kualitas meski performa sesuai dengan kebutuhan pasar. Kereen...

Acer Aspire E1-432

AcerAspire E1-432 menggunakan monitor LED berukuran 14” dengan resolusi 1366×768 px, sangat memadai jika kita ingin browsing-browsing berita dari internet, refreshing dengan melihat tayangan multimedia, game untuk anak, dan tentu saja yang paling utama, kebutuhan office basic yang menjadi modal utama dunia kepenulisan. Untuk warna, ada dua pilihan; Piano Black dan Silky Silver. Eh, ada desain berbentuk bintang-bintang loch pada keyboard dan casingnya, jadi makin elegan tampilannya.

Selain performa, biasanya saya sangat concern dengan 'isi' jika membeli sebuah notebook. Adalah prosesor, webcam, daya tahan baterai serta kualitas gambar saat terkoneksi dengan LCD/LED. Prosesor yang saya idamkan adalah intel, selain sudah punya nama intel terkenal dengan kekuatannya terhadap panas dan tidak mudah rusak meski digunakan selama 24 jam. AspireE1-432 menggunakan prosesor Intel 4th Gen terbaru, atau lebih dikenal dengan kode nama Haswell. Acer mempersenjatai notebook ini dengan prosesor Intel® Dual Core Celeron® Processor 2955U yang memiliki dua buah inti (dual core) dan berjalan pada kecepatan 1.40 GHz. Apa dampak positifnya buat kita? Banyak, diantaranya penggunaan prosesor ini membuat daya tahan baterai lebih kuat, kapasitas untuk menyimpan file pun cukup besar sehingga tak perlu khawatir jika kita ingin menyimpan berbagai file, mutimedia bahkan game hasil download sekalipun.

warna-warna yang begitu menggoda


Webcam saat ini menjadi kebutuhan yang utama, selain saya perlukan untuk kuliah online, terpisah ribuan kilometer dengan suami, meski hanya sementara membuat saya dan anak-anak sangat membutuhkan sarana komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan. Salah satunya adalah fasilitas webcam yang biasanya ada pada sebuah notebook. Di Aspire E1-432 ternyata ada Webcam HD untuk keperluan penggunaan kamera, entah untuk melakukan streaming, video chatting semacam skype atau yahoochat.

Saya juga concern dengan bisa tidaknya notebook terkoneksi dengan LCD/LED dan bagaimana kualitas gambar yang dihasilkan, ternyata lagi-lagi Aspire E1-432 mampu menjawabnya, dengan satu buah VGA port dan sebuah HDMI port membantu menampilkan gambar pada LCD/LED eksternal dengan ukuran dan resolusi yang lebih besar sehingga tampilannya lebih maksimal. Kalau sudah begini, kita pun akan percaya diri saat presentasi.

Satu pertanyaan, bisakah impian saya memiliki notebook ringan berkualitas tinggi namun harga tetap terjangkau? Bisa Insya Allah...(sambil melirik Aspire E1-432 ).


 
“Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.”








Akhirnya Ngerti Juga Soal E-Ticketing

3 Comments
Dulu sebenarnya saya sudah bahas soal untung rugi e-ticketing, semuanya berdasarkan pengalaman pribadi saat bepergian menggunakan commuter line, namun waktu itu yang belikan tiket saya adalah orang lain alias teman, saya hanya duduk manis sambil menggendong si kecil. Gak tega desak-desakan sayanya.

Beda dengan tiket yang saya dapat kali ini, benar-benar hasil perjuangan sendiri. Mulai dari ngantri membeli tiket, hingga mengambil refund atau kembalian di loket khusus yang telah disediakan. Saya jadi mengerti soal e-ticketing atau tiket elektronik ini, meski tentu saja sebelum masuk ke gerbang pemeriksaan tiket, saya banyak tanya-tanya bak turis asing ke petugasnya, untungnya juga petugasnya cukup sabar menjawab pertanyaan saya.

Beginilah gambaran e-ticketing secara sederhana, ketika kita akan bepergian menggunakan commuter line:
1. Saat berada di stasiun, langsung ambil barisan untuk mengantri. Di sana akan ada petugas penjual tiket, sebutkan saja jumlah tiket yang dibutuhkan, nanti kita akan diminta pembayaran sesuai tempat tujuan. PT KAI sudah menentukan berapa besar harga tiket tiap stasiun tujuan, karena saat itu tujuan saya ke Bogor, maka masing-masing tiket dihargai tujuh ribu rupiah. Gitu sepengetahuan saya sich.

2. Setelah dapat tiketnya, kita akan masuk ke area pemeriksaan. Sebenarnya gak tepat juga disebut area pemeriksaan, mungkin bisa disebut pintu masuk area penumpang. Di sini kita diminta menunjukan tiket elektronik yang sudah dibeli sebelumnya, lalu secara mandiri atau dibantu petugasnya, tiket tadi di letakkan pada area yang bertuliskan 'tap di sini', kalau kartunya terbaca, maka pintu palangnya akan terbuka secara otomatis. Tanda cocoknya kartu adalah, berubahnya warna lampu yang awalnya merah, menjadi hijau. Palang pintu akan terdorong, daan...welcome to the passenger area.

3. Ya sudah, tinggal tunggu kereta datang. Saya memilih gerbong khusus wanita, meski kadang ada saja penumpang pria yang bandel ikutan di gerbong ini, tapi biasanya akan ketahuan dan ditegur petugas yang berjaga.

4. Sampailah saya di Bogor, menghabiskan waktu hampir seharian setelah mengunjungi beberapa tempat tujuan, dan saya pun kemali mengantri tiket. Kali ini, untuk satu tiket saya harus membayar dua ribu rupiah saja.

5. Setibanya di stasiun tempat awal saya membeli tiket, saya tidak lantas pulang. Teringat penjelasan petugas, bahwa saya harus kembali mengantri untuk mengambil uang kembalian. Tiba giliran saya di depan loket khusus kembalian, langsung saya sodorkan dua tiket elektronik dan petugas memberikan saya uang sepuluh ribu rupiah. Berarti sebenarnya, harga tiket yang tadi saya beli hanya dua ribu rupiah saja, alamaaaak....

Benar-benar jadi pengalaman berharga perjalanan saya kemarin itu, terutama soal e-ticketing, setidaknya saya jadi benar-benar mengerti penggunaannya meski terbilang sedikit terlambat. Kapan-kapan naik commuter line lagi aah...

Kopi Instan & Cappuccino Good Day, Kopi Gaul Paling Enak

10 Comments
Saya mengenal Good Day sejak jaman kuliah sekitar sepuluh tahun yang lalu. Mulanya teman satu kost saat kami begadang bersama, ia mengenalkan kopi Good Day rasa moccacino. Awalnya saya ragu dan memilih mengonsumsi kopi hitam untuk teman begadang saya, tapi karena aromanya begitu menggoda, akhirnya saya coba juga. Ternyata rasanya pas di lidah, harganya pun pas di kantong terutama buat mahasiswa yang masih mengandalkan kiriman dari orang tua seperti saya.

Selepas lulus kuliah, saya terus mengonsumsi kopi Good Day yang memiliki variasi rasa. Saya cukup kaget ketika menjumpai Good Day coffee freeze Mocafrio, dalam hati membatin,'ah, masa iya kopi disajikan dalam bentuk dingin, bukankah akan menggumpal dan tidak larut?' pikir saya waktu itu, tapi saya penasaran dan akhirnya mencoba Good Day coffee freeze Mocafrio ini, dan...wow, rasanya benar-benar enak, saya menikmati di setiap teguknya hingga tetes terakhir, apalagi minumnya saat matahari terik, benar-benar mantap, tidak bisa dipungkiri kalau Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak .

Mocacinno adalah Good Day pertama saya. Minum kopi ini bikin saya kuat begadang dan tidak berefek pada lambung. Minum kopi ini bikin saya bebas berimajinasi dan berkreasi saat jadi mahasiswa dulu. Akivitas kuliah yang begitu padat, ditambah kegiatan di luar kampus seperti mengajar membuat saya harus begadang hampir tiap malam, dan dituntut untuk bangun pagi. Minum kopi ini tetap bisa tidur setelah begadang, dan tidak bikin ngantuk di pagi hari.


Good Day Freeze Mocafrio biasanya saya konsumsi di siang hari. Dengan tambahan es di dalamnya menjadi pelepas dahaga yang sayang untuk dilewati, apalagi minumnya di saat panas terik, dunia serasa milik sendiri saking menikmati rasanya yang luar biasa nikmat, tak diragukan lagi Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak.

Kini saya adalah ibu dari dua orang putra, satu berusia enam tahun dan satu lagi masih usia dua bulan. Ya, saya masih memberikan ASI ekslusif. Lantas apakah hobi ngopi saya terhenti? tidak, hanya saya batasi seminggu maksimal tiga kali. Saya tetap setia pada Good Day, Good Day pilihan saya adalah The Original yang dilengkapi dengan gula dan creamer, keduanya membuat saya tetap semangat beraktivitas terutama ketika mengurus bayi plus mengerjakan pekerjaan rumah tangga mulai dari mencuci, masak dan membersihkan lantai.

Kopi Instan 3in1 Good Day The Original dilengkapi dengan Gula dan Creamer supaya kamu jadi lebih semangat hadapin harimu.
Selain sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, aktivitas saya adalah menulis. Ketika mendapatkan ide untuk sebuah tulisan, biasanya langsung saya tuangkan dan diketik lalu disimpan dalam sebuah file. Sayangnya, ide datang tak kenal waktu dan seringnya malam hari saat anak-anak terlelap, maka begadang menjadi pilihan satu-satunya dan secangkir kopi Good Day menjadi teman setia saya hingga kegiatan menulis selesai malam itu juga. Kini Good Day memiliki banyak variasi pilihan, saya pun tak bosan mencobanya satu persatu dan lagi-lagi harus saya katakan kalau Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak.


Ada Chococinno yang merupakan perpaduan antara kopi dan coklat, bikin ketagihan karena rasanya yang nikmat. Ada juga Coolin' Coffee dengan Sensasi Dingin mint yang menyegarkan, CoffeeMix yang merupakan perpaduan kopi, gula dan creamer dengan perfect menemani aktivitas kita sepanjang hari. Vanilla Latte juga tak kalah nikmat, rasa vanilanya bikin lebih rileks setelah seharian penuh beraktivitas. Bagaimana jika kopi dicampur kacang sejenis hazelnut? uenaak tenaan,  uniknya rasa Kopi Instan 3in1 Good Day Carrebian Nut bisa bikin hari-hari kamu lebih banyak rasa dan tidak membosankan.

Sebagai ibu rumah tangga yang memiliki segudang aktivitas, pasti kesulitan untuk menyengajakan diri meski hanya untuk menikmati secangkir kopi di sebuah cafe, maka Kopi Instan 3in1 Good Day Cappuccino yang dilengkapi Foam Tebal dan Choco Granule yang nikmat, menjadi pilihan saya untuk menikmati kopi setaraf kopi yang disajikan di cafe-cafe, rasanya juga tak kalah nikmat, benar memang ungkapan bahwa Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak.


Dari Matematika Kenangan Indah itu Tercipta

2 Comments
Dari Matematika Kenangan Indah itu Tercipta
Saya termasuk lemah untuk bidang studi matematika, terutama ketika duduk di bangku SMA. Nilai-nilainya tak jauh-jauh dari angka tujuh. Matematika serasa membingungkan buat saya, ditambah rasa malas untuk berlatih dan mengulang pelajaran yang diberikan guru di sekolah. Pernah sewaktu SMP nyaris lari keliling lapangan plus disentil telinga oleh guru karena tidak mengerjakan PR, yang lucu, ada teman sekelas yang berupaya mengganjal telinganya demi mengurangi rasa sakit saat disentil nanti, ada-ada saja pikir saya.

Menginjak SMA, rasa malas kian menjadi. Kalau tidak ada PR, ya tidak belajar. Begitupula saat ulangan tiba, SKS atau sistem kebut semalam menjadi satu-satunya pilihan cara belajar saya saat itu. Hasilnya, di semester pertama nilai-nilai saya lmayan bagus, bahkan masuk sepuluh besar, namun di semester kedua nilai saya anjlok karena materi yang harus dipelajari tidak terkejar, yah maklumlah namanya juga sistem kebut semalam.

Suatu hari, paman saya yang kebetulan baru lulus dari universitas ternama di Bandung bertanya soal prestasi saya di sekolah, dengan cuek saya saya bilang, 'biasa saja, Om'. 'Matematikanya gimana?bisa nggak?' tanyanya. Saya spontan menjawab kalo nilai-nilainya pas-pasan bahkan di bawah rata-rata kelas. Sejak itu paman mulai rajin mengajari saya pelajaran Matematika dan Kimia, untuk matematika, saya coba berlatih mengerjakan soal-soal hingga waktu ulangan pun tiba.

Saya ingat betul, materi yang diujiankan saat itu adalah bangun ruang. Saya sangaat suka dan senang mengajarkannya kepada yang lain. Guru pun sepertinya menangkap sinyal itu, selain disetiap latihan soal saya termasuk paling aktif merespon, cepat menyelesaikan soal dan jawabannya selalu benar, akhirnya saat ulangan, beliau meminta saya duduk di bangkunya. Saya sendiri tak mengerti apa maksudnya, yang jelas ini menjadi momen terindah dalam hidup karena untuk pertama kalinya secara formal, saya duduk di bangku guru sementara yang lain mengerjakan di bangku masing-masing.

Lantas, bagaimana hasil ulangannya? dapat seratus! saya sangat gembira dan bahagia, karena perjuangan saya selama ini tidak sia-sia, paman pun tak putus memberikan motivasi untuk terus berlatih dan berlatih. Sayangnya, pada materi berikutnya, kalau tidak salah tentang exponen, saya tidak terlalu semangat dan kembali malas belajar, hasilnya bisa ditebak, saya hanya dapat nilai tiga! guru pun jelas kecewa, dan tentu saja bangku kehormatan itu tak lagi diberikan, saya sangat menyesal dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Kini, saya harus mengajarkan si kecil yang sudah SD akan mata pelajaran ini, semoga masih menguasai materinya, kalau tidak, saya serahkan saja pada suami.

Hidup memang penuh kejutan dan kenangan manis, dan buat saya menjadi seorang yang tiba-tiba pandai matematika dan mendapatkan bangku kehormatan adalah kenangan manis yang tak akan terlupakan, dan bisa menjadi kisah yang bisa memotivasi anak-anak kelak. Semoga saja.


Cara Saya Memaknai Musik

Add Comment
Saya termasuk yang selalu ketinggalan soal musik, terutama yang lagi in. Beruntung saya buka link Langit Musik, setidaknya jadi tahu perkembangan dunia musik saat ini. Dari Langit Musik saya pun menemukan lagu-lagu yang berkesan dalam hidup. Musik bagi saya selalu berhubungan dengan masalah hati, kalau liriknya pas dengan kehidupan yang sedang saya jalani, maka lagu itu jadi pilhan dan selalu akan saya putar dalam menemani aktivitas sehari-hari. 

Dulu pilihan saya jatuh pada musikus asal negeri jiran, Malaysia. Bukan karena Indonesia tidak punya lagu bagus untuk didengarkan, tapi musik slow rock dan mendayu membuat saya merasa enjoy, ditambah liriknya yang pas dihati dan kerapkali persis dengan kehidupan yang tengah saya jalani.

Dulu saya gandrung dengan penyanyi cantik Siti Nurhaliza. Bukan apa-apa, tapi lagu-lagunya selain enak didengar, selalu pas dengan kehidupan saya. Terutama saat sedang kasmaran di masa SMA dulu. Meski untuk urusan yang satu ini tidak pernah terealisasikan dalam kehidupan means jatuh cintanya saya cukup disimpan dalam hati, namun lagu-lagunya cukup membuat saya terhibur dan tidak pernah merasa jadi jomblowati sejati. Jadi ingat saat saya menyimpan rasa pada kakak kelas, namun bertepuk sebelah tangan, tak bosan saya putar lagunya cik Siti ini, kalau tidak salah judul lagunya Gelora Asmara. Sebenarnya liriknya kurang nyambung dengan apa yang sedang saya alami, tapi alunan nadanya sangat pas dihati dan membuat saya bermellow ria saat itu, maklumlah ABG galau.

Semakin kesini, orientasi saya akan musik kian berubah. Dulu hanya sekadar cinta-cintaan, semenjak kuliah jadi picky dalam menentukan selera musik. Kuliah membuat saya cinta dengan musik bernuansa religi, meski musik slow rock tidak sepenuhnya saya tinggalkan. Dan lagi-lagi, saya beruntung dipertemukan dengan link Langit Musik, dengan mudah saya menemukan lagu-lagu pilihan, kita tinggal klik 'library' maka akan muncul sederet penyanyi plus albumnya. Asyik khaan?....

Saat kuliah, lagi-lagi pilihan saya jatuh pada penyanyi asal malaysia. Kali ini band bernama Exist. Bukan apa-apa, saya ngefans dengan vokalisnya. Sempat punya ide 'gila' dan benar-benar saya jalankan; nulis surat via alamat yang ada di albumnya, dan saya kirim ke Malaysia via pos. Tapi ujung-ujungnya saya hanya gigit jari, karena alamat yang tertera sudah tidak ditempati, dengan kata lain, band Exist sudah pindah. Kalau ingat itu, jadi senyum-senyum sendiri.  Madah di Pusara yang didengungkan oleh grup band ini sangat berkesan dalam hidup, betapa tidak, saat lagu ini dirilis bertepatan dengan kepergian sahabat saya saat kuliah dulu. Tak bosan-bosan saya putar dan saya pun menangis tanpa bisa saya bendung, beryukur teman satu kos mengingatkan dan meminta saya untuk bersabar sambil mendoakan kepergiannya.

Semenjak mendeklarasikan diri menjadi seorang blogger, dan bergabung di KEB(Kumpulan Emak Blogger) dan grup kepenulisan lainnya, saya jadi rajin di depan laptop. Setidaknya dalam seminggu, saya punya ide untuk dituangkan dalam sebuah tulisan. Nah, biasanya kalau lagi santai biasanya ditemani dengan alunan musik. Pilihan lagi-lagi jatuh pada musik slow dan pas di hati. Belakangan, saya sedang gandrung lagunya Maher Zain, selain liriknya banyak mengandung hikmah dan pesan moral, alunan musiknya juga enak didengar. Kebetulan saat ini saya tengah menjalani LDR(Long Distance Relationship) dengan suami, dan lagunya berjudul For The Rest of My Life jadi lagu pilihan yang menemani saya saat internetan. Buat saya, lagu tersebut benar-benar menyentuh kalbu, dan menjadi pengingat akan hakikat saya sebagai istri dan belahan jiwa bagi pasangan hingga muncul sikap saling percaya, menjaga dan setia. Lantas apakah albumnya Maher Zain ada di Langit Musik? Ada! Semua yang tersedia di Langit Musik bisa didownload dan jadi ringtone di HP. Mengasyikan ternyata. 

Itulah musik yang asyik buat saya, yang enak di dengar, ada hubungannya dengan kehidupan pribadi, dan belakangan musti punya pesan moral yang bisa memotivasi pendengarnya untuk melakukan hal-hal positif dan tidak bertentangan dengan norma masyarakat. Ya, begitulah saya memaknai musik.





**Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “musik yang Asyik”, yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) bekerja sama dengan Langit musik.
   

Srikandi Blogger 2013, dari Aspirasi Hingga Apresiasi

12 Comments
Dulu, niat awal saya membuat blog adalah untuk menyalurkan aspirasi. Maklumlah, sebagai ibu muda berlatar belakang aktivis mahasiswa saya kerap bersinggungan dengan kegiatan politik. Politik di sini tentunya bukan semata soal kepartaian, tapi lebih kepada segala peristiwa yang terjadi di masyarakat, kemudian saya analisis dan dituangkan dalam sebuah tulisan.

Dulu, untuk menulis saya terhambat keterbatasan. Mulai dari kesulitan akses internet, rebutan komputer dengan suami, bahkan saya gagap teknologi. Hingga akhirnya dengan tekad kuat beberapa platform blog pun, berhasil saya kuasai. Saya ingat betul, pertama kali serius menulis ketika memiliki laptop Acer pemberian suami tercinta, itu sekitar tahun 2007, dan dua tahun kemudian website atas nama saya dengan akhiran dot net pun hadir meramaikan dunia perblogan pada saat itu. Sayangnya pada akhir tahun 2009, website yang beralamat catatanqq.net hilang dari peredaran, itu terjadi karena spirit menulis saya tiba-tiba hilang, websitenya tak terurus, tidak dibayar, dan akhirnya 'mati'.
logo yang memacu semangat menulis di blog saya

Lantas apakah saya diam dan mengikuti kemalasan? tentu tidak, karena ada banyak peristiwa yang layak dikomentari. Ini pula tampaknya yang menjadi alasan kenapa saya tak bisa berhenti menulis. Seiring dengan kemajuan teknologi, era digital semakin kencang lajunya, setelah blog, muncul facebook yang fenomenal. Saya pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan,, mulailah note Facebook dijadikan agenda bulanan membuat sebuah tulisan. Meski demikian, blog pun tidak saya tinggalkan.

Saat ini ada dua blog ber platform wordpress dan blogspot yang miliki. Meski tidak setiap minggu, saya punya target minimal blog-blog tersebut terisi sebulan sekali. Tujuan saya hanya satu, agar pembaca yang mampir mendapatkan informasi yang bermanfaat dalam kehidupan, atau setidaknya tulisan saya menginspirasi. 

Suatu hari di bulan Maret 2013, saya membaca sebuah pengumuman berisi ajang pemilihan Srikandi Blogger 2013 yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger.  Awalnya hanya coba-coba, tak disangka, saya masuk dalam lima puluh nominasi Srikandi Blogger 2013. Sebagai orang awam yang sedang belajar menulis atau bisa dibilang penulis pemula, tentu ada kebahagiaan tersendiri yang tak bisa saya deskripsikan. Saya pun tak berharap menjadi pemenang, mengingat nominator lain adalah para blogger hebat, yang sudah banyak menelorkan prestasi di dunia penulisan. Meski demikian, saya tidak ingin berkecil hati, ibaratnya, jika sudah tercebur pada suatu ajang, tak boleh mundur namun tetap maju meski banyak ujian menghadang.  

Satu hal yang istimewa dari ajang ini pesertanya adalah wanita. Kebanyakan adalah ibu rumah tangga yang produktif menulis dan memiliki blog berusia minimal dua tahun. Terbayang di benak, ibu dengan tiga anak, masih punya waktu mencurahkan pikirannya untuk menulis, dan itu kemudian diapresiasikan oleh Kumpulan Emak Blogger melalui ajang pemilihan Srikandi Blogger 2013. Ini merupakan gebrakan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Terpilihnya lima puluh nominasi, lalu mengerucut menjadi sepuluh finalis, dan akhirnya menjadi satu pemenang, membuktikan keseriusan KEB menyelenggarakan event ini. 

Puncaknya adalah acara penganugerahan Srikandi Blogger 2013 yang diselenggarakan pada hari hari Minggu, tanggal 28 April 2103 di Gedung F Kemendiknas Jl Sudirman, Jakarta. Tak tanggung-tanggung, acara ini disponsori oleh banyaknya brand ternama, seperti Acer, Rinso, dan brand lainnya. Meski saya tak bisa hadir, kemeriahan acara tampak dari foto-foto yang menghiasi seluruh beranda Facebook saya, blog para finalis, maupun di grup KEB. Ada pentas seni, fashion show yang modelnya adalah emak-emak anggota grup Kumpulan Emak Blogger. Saya tidak bisa bayangkan, betapa panitia begitu cekatan menyiapkan perhelatan besar ini, dan semuanya dikerjakan hanya dalam hitungan minggu, dua jempol dari saya untuk panitia penyelenggara. 

Di ajang pemilihan Srikandi Blogger ini, ada beberapa kategori yang dipilih juri. berikut ini adalah kategorinya, plus nama-nama pemenang dari kategori tersebut. Pemenang Srikandi Blogger 2013 adalah Mak (kami menyebut anggota KEB dengan panggilan Mak) Alaika Abdullah. Srikandi Favorit 2013 adalah Mak Anazkia, dan Mak Myra Anastasia sebagai Srikandi Persahabatan 2013. Selain itu, ada, ada kejutan yang sebelumnya tidak disampaikan panitia diawal penyelenggaraan ajang ini, adalah Mak Haya Aliya Zaki yang terpilih sebagai Blogger Inspiratif, dan Mak Yati Rachmat, sebagai Blogger dengan Lifetime Achievement. Semua yang terpilih, menurut saya memang layak untuk dipilih. Artinya, mereka berhak untuk dianugerahi demikian sebagai apresiasi atas prestasi yang selama ini telah  diraih. 

Bagi saya pribadi, ajang bergengsi ini bukanlah satu-satunya jalan untuk aktualisasi, apalagi eksistensi. Karena sejatinya, menulis berasal dari hati. Adapun apresiasi dari tulisan yang kita buat, adalah sisi lain yang saya sebut sebagai rejeki. Meski demikian, dari hati terdalam, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesarnya pada grup Kumpulan Emak Bloggeratas ide brilian ini. Ya, ajang pemilihan Srikandi Blogger 2013 adalah momentum besar dalam hidup saya, yang telah mengubah paradigma berpikir, dari seorang yang tengah belajar menulis, menjadi blogger yang tak boleh berhenti menulis. Semoga tetap konsisten, itu doa terdalam saya.





Aku dan Kopi di Perantauan

8 Comments
Sudah hampir empat bulan aku pulang ke kampung halaman. Dulu, tepatnya dua setengah tahun lalu, aku dan keluarga merantau ke negeri Paman Sam, kebetulan suami mendapat kesempatan sekolah di sana. Di perantauan kami tinggal di sebuah komplek perumahan, penghuninya mayoritas pelajar internasional yang datang dari berbagai negara. Adapun penduduk aslinya adalah masyarakat mormon yang punya tradisi unik, salah satunya adalah mengharamkan kopi.
Adanya tradisi ini memberikan keuntungan tersendiri bagiku, setidaknya kedai-kedai kopi yang tersedia jadi jarang diminati penduduk asli. Walhasil, aku bisa berjam-jam minum kopi sambil menikmati layanan wifi gratis, plus membaca buku gratis pula. Di tempat tinggalku saat itu, hanya ada tiga kedai kopi. Salah satu kedai kopi yang ada, akhir tahun lalu ditutup karena bangkrut. Kini yang ada hanya dua kedai kopi, namun semenjak punya kegemaran menulis yang termotivasi dari grup ibu-ibu dan emak-emak yang hobi menulis, aku lebih sering menghabiskan waktu di rumah ketimbang pergi ngopi ke luar.
Ternyata kebiasaan baruku ini memunculkan masalah lain, apalagi kalau bukan ketersediaan kopi yang cocok di lidah. Sebenarnya aku bisa meraciknya sendiri, namun rasanya tetap beda dengan kopi-kopi di cafe itu. Hingga suatu hari, datang kerabat asal Indonesia yang baru kembali dari mudik tahunan. Ia membawakan satu kantong plastik kopi dengan brand yang berbeda, ada kopi liong, coffee mix, ah...pokoknya membuat hidupku berwarna saat itu. Namun ternyata aku hanya butuh waktu satu minggu untuk menghabiskan berbungkus-bungkus kopi kiriman temanku ini, selebihnya kembali 'manyun' dan mood untuk ngetik di depan laptop pun hilang seketika.


Kopi kiriman dari teman

Alhamdulillah, ada yang menangkap kegundahanku. Dia seorang coffee lover sejati yang berasal dari Turki. Dia bawakan sebungkus besar kopi turki dan setelah kucicipi, ternyata nikmatnya tiada tara, ada sensasi rasa pahit, manis dan creamy dari susu yang terpadu menjadi satu, membuat siapa saja yang menikmatinya pasti langsung jatuh cinta. Cara penyajiannya juga unik, ada tiga langkah dalam pembuatannya. Pertama, kita ambil satu sendok kopi(jangan terlalu banyak, karena rasanya sangat pahit),masukkan ke dalam wadah khusus untuk merebus air. Kedua, tambahkan satu gelas susu cair tawar, lalu tambahkan gula putih secukupnya. Ketiga, nyalakan kompor, amati prosesnya sebelum mendidih dan berbuih karena kita harus mengambil buih-buih kopi ke dalam gelas, dan menuangkain sisa cairannya ke dalam gelas yang sama, sajikan selagi panas.

Kopi Turki

Cara penyajian
Hampir tiap malam ritual ini kulakukan, efeknya, aku serasa punya tenaga dua kali lipat untuk begadang menyelesaikan tulisan-tulisan dalam rangka belajar nulis, dan ikut berbagai kuis. Lantas apakah kebiasaan nyeruput kopi saat belajar nulis terhenti ketika aku hamil? Tidak!, hanya frekwensinya saja dikurangi. Tidak afdol rasanya kalau tidak minum kopi, meski hanya icip-icip dari cangkir suami setiap pagi. Boleh kok kata bu dokter. :)

*tulisan ini diikutsertakan dalam Give Away tentang Kopi yang diselenggarakan oleh mbak Lisa Gopar di http://lisagopar.blogspot.com/p/ga.html

Kisah Misteri *yang gak kuat jangan baca yaa

2 Comments
Kisah Misteri *yang gak kuat jangan baca yaa
Alhamdulillah, tanpa bermaksud show off alias pengumuman, saya terpilih sebagai pemenang cerita misteri di group Ibu-Ibu Doyan Nulis. Kuis yang dipandu bu Lygia Pecanduhujan ini banyak sekali peminatnya. Ceritanya juga seram-seram tapi lucu. Berikut ini saya share dua tulisan tersebut, yang merupakan kisah nyata beberapa tahun lalu. Ehm,..tepatnya waktu saya SMA*jadul nian

Notes ini saya buat untuk terus memotivasi semata, bahwa kita semua bisa menulis. Meski sudah dua bulan laptop saya rusak, namun selama bisa digunakan, tak ada alasan untuk berhenti berkarya (maap lebay). Satu yang terpenting, jangan bosan dan terus menulis. Selamat berkarya!


Cerita I

Magrib hampir tiba. Ibuku menyelesaikan beberapa potong pakaian untuk dijemur. Bukan jemuran keren ini mah, tapi jemuran yang talinya menghubungkan pohon melinjo dengan pohon jambu. Bapak membuatnya sudah lama. Posisi jemuran ada di samping rumah, dibatasi pagar tembok dengan kebun kosong milik tetangga. Saat menjemur, posisi ibu membelakangi kebun kosong. Lalu pindah ke tali jemuran berikutnya, dan posisinya diubah menghadap ke kebun kosong. Tiba-tiba saat mengangkat kepala sambil menyangkutkan baju, mata ibu terbelalak begitu melihat ke arah kebun kosong. Ada kepala yang menyembul dari pagar. Tapi wajahnya hitam semua. Meski menjelang magrib, biasanya wajah orang masih kelihatan loch. Tapi ibu bilang, ini kepala gak ada wajahnya. Bahkan hidung, mata, mulut, juga gak ada! Lah terus, yang dilihat ibu itu apa?

Hikmah: Jangan beraktivitas keluar rumah kala magrib tiba, kecuali berangkat ke Masjid yaa...at least, tunggu hingga azan magrib selesai.


Cerita 2

Mencicipi Masakan ala Turki

Add Comment

 Siang ini, saya dan sikecil berkesempatan untuk main kerumah salah satu sahabat saya, sesama penghuni apartemen. Sebelumnya melalui pesan di facebook, sahabat saya ini mengabarkan akan membuat makanan khas negaranya, dan belajar menjahit bersama. Sayangnya kehadiran saya terlambat satu jam, karena pagi harinya kulkas dirumah tiba-tiba mati, jadilah saya harus menunggu hingga selesai diperbaiki.
Sahabat saya ini berasal dari Turki, dan saat saya tiba dirumahnya sudah ada beberapa teman-teman Turki lainnya, Palestine dan satu dari Uighur. Begitu saya datang, sudah disambut dengan hidangan pembuka berupa sup yang dicampur dengan pasta, cara makannya dicocol dengan roti, dan karena lapar, piring saya bersih dalam sekejap. Hidangan selanjutnya berupa makanan utama, terdiri dari nasi putih, daging sapi yang digodog selama 3 jam, tumisan ala turki dan salad, inipun habis dalam waktu sepuluh menit saja.

Selanjutnya ditutup dengan hidangan penutup, berupa kue khas ala Turki. Sikecil yang sedari awal cuek dengan makanan yang dihidangkan, langsung menuju meja saya dan meminta beberapa potong kue. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari makanan-makanan tadi, terutama bagi saya yang berlidah Asia, yang tidak bisa makan jika tidak terasa pedas. Namun dari pertemuan tadi siang, meninggalkan kesan yang mendalam.

Pengalaman Mengurus Visa Ke Amerika

Add Comment


Sudah lama saya ingin berbagi soal ini. Meski Amerika bukanlah negara impian, namun bagi sebagian orang yang mendapatkan kesempatan sekolah di sana, mengurus visa merupakan hal penting yang tak bisa dianggap remeh. Langsung saja saya share pengalaman suka duka mengurus visa ini ya.

Kita semua sudah tahu, bahwa mengurus visa di kedutaan besar Amerika adalah hal yang sulit. Pertama kali yang saya lakukan adalah membuka website US Embassy, dilanjut dengan mengisi beberapa form, mensubmit-nya dan tak lupa pergi ke studio foto.
Saya datang ke kedutaan sekitar pukul 5 pagi. Tanpa membuat janji dulu, saya datang hari Senin yang memang diperuntukan bagi pelajar dan keluarga, yang akan membuat visa. Kebetulan visa saya F2. Selain membuat visa untuk saya, visa si kecil pun saya yang urus, tanpa harus mengajaknya bercapek-capek ke kedubes AS.

Setibanya saya di sana, sudah berdiri puluhan orang yang berbaris rapi. Posisi barisan tepat di bawah rel kereta api yang menuju arah Gondangdia. Tepat pukul 8, gerbang pertama dibuka. Gerbang kedua berposisi persis di depan gedung kedubes, dan gerbang ketiga berada di halaman kedubes.
Semua proses saya lalui, hingga berakhir pada wawancara. Pewawancaranya kebetulan bisa berbahasa Indonesia (padahal semalaman saya belajar bahasa Inggris.. T_T..). Pertanyaannya pun formal saja menurut saya, seputar alasa kenapa ke Amerika, suami ambil studi apa, dan berapa lama rencana di sana. Selepas wawancara, saya diberi kartu warna putih, dan diminta datang dua hari lagi.
Saya masih belum mengerti, namun kata bapak penjaga gerbang, saya lolos wawancara dan dapat visanya. Alhamdulillah, impian saya berkumpul bersama suami akhirnya terwujud.
Dari sini saya menyimpulkan, bahwa manusia hanya bisa berencana dan berusaha dengan optimal. Selebihnya diserahkan kepada Allah Yang Maha Menentukan. Apapapun yang ketentuanNya, pasti yang terbaik buat manusia. Yo po ora?...^_^

Oh iya, untuk langkah-langkah detilnya, saya pake blog ini sebagai referensi saat itu: http://arga.wordpress.com/2010/06/09/langkah-langkah-mengurus-visa-pelajar-f-1-amerika-serikat-di-kedutaan-amerika-di-jakarta/

Kerudung Konservatif

Add Comment
Kerudung Konservatif
Sudah sejak sebulan lalu, saya dan si kecil mempersiapkan kado untuk anak perempuan tetangga kami, yang kebetulan berulang tahun di penghujung bulan April. Bukan apa-apa, tapi sengaja saya beli diawal agar tidak lupa, dan anggrannya tidak terpakai kemana-mana. Sebenarnya acaranya tidak menggambarkan ulang tahun sama sekali, tidak ada tiup lilin, kue, bahkan tak ada nyanyian. Acara cuma makan-makan, tamunya hanya empat orang ibu-ibu cantik, yang didominasi American native, saya dan satu ibu yang berasal dari Nepal.
Lokasi acara berada di taman belakang, dan ternyata tidak hanya grup kami yang ada disana, sekelompok bapak-bapak dari timur tengah tampaknya juga tengah asyik berbicara, sambil sesekali melihat anak-anak mereka yang membaur dengan anak-anak kami. Sore itu sungguh seru dan ramai, membuat saya tak sadar ternyata waktu menunjukkan pukul 7, yang berarti magrib akan segera tiba.
Sebenarnya isi pembicaraan saya dan ibu-ibu ini biasa saja, mulai dari perihal anak, masakan, budaya, hingga kesamaan kami menyukai kota kecil tempat saya tinggal saat ini, Logan, Utah. Dua dari ibu-ibu yang notabene American native menyatakan, bahwa kota ini terkategori kota yang nyaman dan aman bagi anak-anak, kriminalitas sangat jarang terjadi, minuman keras cukup sulit dijumpai, pasangan muda-mudi juga masih terlihat santun, kalaupun ada yang 'bertingkah aneh', hanya bisa dijumpai disekitar transit bus. Selebihnya, jarang terjadi ditempat-tempat umum(meski belakangan saya protes, karena di kampus pernah menjumpai sepasang muda mudi yang tengah bercumbu, dan harus mengalihkan perhatian si kecil sambil menjelaskannya sepanjang perjalanan pulang).