Arisan, Judi Bukan Ya?

Add Comment

Masih dalam rangka Collaborative Bloging dan kali ini temanya seputar arisan. Tulisan Mak Irawati Hamid ini cukup menarik untuk kita kupas, sampai pada pertanyaan penting nggak sich ikut arisan? Kalau dibilang penting, buat saya penting bangeeet. Arisan jadi salah satu sarana untuk silaturami keluarga, juga jalan untuk menjalin komunikasi dengan sahabat, dan yang tak kalah penting bisa menambah uang belanja kalau nama kita keluar saat dikocok!

Saat ini, arisan seolah menjadi tradisi di masyarakat, dan sudah lama dilakukan, mungkin sebelum saya lahir sudah ada kali ya? yang jelas, sekarang arisan mengalami perkembangan, mulai dari arisan uang, barang, panci, buku, ah lieur kata orang sunda mah. Biasanya, arisan uang yang paling diminati karena simple alias gak ribet. Kita tinggal dateng, kumpul-kumpul sambil cemal cemil diiringi tausiyah, kocok lalu bubar. Itu yang standarnya, di luar kebiasaan ada yang arisannya minta duluan, atau nominalnya lebih besar dari peserta arisan lainnya, wis pokokne arisan sekarang makin variatif seolah mengikuti perkembangan zaman.

Bolehkah Ikut Arisan?

Lantas, bagaimanakah hukumnya ikut arisan? boleh ndak ya? atau sama dengan berjudi karena ada kocokannya? mari kita kupas bersama. Menurut pendapat Syeikh Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin yang nota bene seorang ulama besar dan direfer banyak kalangan, arisan dihukumi sebagai hukum Qardh atau pinjaman. Beliau menyatakan bahwa hakikat arisan adalah masing-masing anggota memberikan pinjaman dan juga mendapat pinjaman. Adapun menurut Imam Hanafi, Qardh suatu perjanjian yang khusus untuk menyerahkan harta (mal mitsil) kepada orang lain untuk kemudian dikembalikan persis seperti yang diterimanya. Landasan hukumnya, atau biasa disebut dalilnya adalah seperti yang dinyatakan dalam hadits dari Ibnu Mas'ud  bahwa Nabi SAW, bersabda, “tidak ada seorang muslim yang menukarkan kepada seorang muslim qarad dua kali, maka seperti sedekah sekali.” (HR. Ibn Majah dan Ibn Hibban). 

Tips Ikut Arisan

Pertama, lihat dulu berapa nominal uang arisannya sesuai nggak dengan kocek kita. Kalau sebulan sampai puluhan juta rupiah, saya mah nyerah.

Kedua, pastikan bahwa peserta dan pengelola arisan adalah orang yang benar-benar sudah kita kenal. Jangan yang masih asing alias baru saja kita kenal, alih-alih dapat arisan yang ada uang kita malah melayang kalau ternyata pengelolanya berniat buruk.

Ketiga, arisan bisa dijadikan cara untuk mempererat tali silaturami antar keluarga. Jadi, musti semangat kalau diajak ikut arisan oleh keluarga dekat kita. Selain berpahala, jadi jalan tambahan rejeki juga bukan?

Keempat, arisan berbentuk uang karena arisan disamakan dengan akad pinjaman, maka seperti orang yang meminja uang ya harus dikembalikan dengan uang pula. Jika sudah terlanjur ikut arisan barang semisal buku, ambil uangnya dulu lalu beli barangnya, InsyaAllah aman.

Kelima, niatkan arisan ini untuk ibadah. Kalau diadakan oleh keluarga maka akan menambah pahala silaturahmi, dan jika dilakukan oleh teman-teman semisal ibu-ibu walimurid sekolah anak kita, atau girls gank di sekolah kita dulu, akan mempererat persaudaraan diantara kita bukan?...yuuk ah, ikut arisan.




Pemilu dan Silaturahmi

Add Comment

Merespon tulisannya mak Adriana dan masih dalam rangka collaborative blogging,  tentang hal-hal apa saja yang harus dihindari dalam pemilihan umum, maka versi saya adalah a big NO alias satu hal yang tidak boleh terjadi dalam sebuah pemilihan umum, apakah itu? retaknya persaudaraan! terutama putusnya tali silaturahmi keluarga. 

Seperti yang sudah kita rasakan beberapa bulan belakangan, dunia maya khususnya menjadi begitu panas dan tak mengasyikan. Saling nyinyir, sikut bahkan adu status kerap menghiasi beranda facebook kita. Saya juga termasuk siy yang suka share tulisan-tulisan terkait pemilu, terutama pilkada Jakarta. Tapi masih dalam tataran informasi yang bisa dipertanggungjawabkan, dan tetap fair jika ada teman facebook yang berbeda pemahaman dengan yang saya adopsi. Paling banter, unfollow.


Bijak Menyikapi

Berbedanya setiap isi kepala sebenarnya hal biasa, namun  jika kita kembalikan lagi pada landasan agama, niscaya akan menuju pada muara yang sama. Untuk saat ini, sikap yang paling bijak adalah saling menghargai, mengedepankan diskusi untuk mencari kebenaran, bukan pembenaran apalagi debat kusir. Bagus jika saling menghargai tiap keputusan, dan celaka jika saling bermusuhan. Apalagi sampai terjadi pemutusan hubungan pertemanan, parahnya lagi tali silaturahmi. Maka di sinilah kita harus bijak menyikapi terhadap perbedaan yang ada. Namun bukan berarti apatis alias elu elu gue gue, tetap upayakan diskusi yang sehat dalam rangka mengingatkan pada kebaikan dan takwa, jika tak jua sama pasrahkan pada Sang Pembolak Balik Hati untuk hasil akhirnya, yang penting tetap mengedepankan silaturahmi terutama jika urusan pemilu sudah masuk dalam ranah keluarga.

Miris rasanya jika dalam satu keluarga tak saling tegur sapa, karena punya pilihan yang berbeda, atau blok-blokan saat arisan karena beda jagoan. Ayolah, bentar lagi puasa dan kita masih sibuk mengotori hati untuk perkara yang belum pasti. Keputusan apapun yang dipilih, semuanya akan dipertanggungjawabkan, makanya dalam bersikap hindari hanya sekadar ikut-ikutan, pun ketika memilih untuk tidak memilih.

Jangan Korbankan Silaturahmi

Pemilu sering dihubung-hubungkan dengan silaturahmi, dalam satu keluarga kadang saling diam dan berujung pada putusnya tali silaturahmi. Padahal, silaturahmi yang merupakan hubungan yang terjadi antar orang yang memiliki ikatan kekerabatan, diwajibkan oleh agama untuk dijaga ikatannya. Bahkan, ada ancaman keras bagi siapa saja yang memutus tali silaturahmi ini . Sebagaimana dinyatakan dalam hadits Nabi SAW: "Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi" (HR al-Bukhari dan Muslim)Hadis ini bermakna larangan. Qarinah tidak masuk surga menunjukkan larangan itu bersifat tegas. Dengan demikian memutus silaturahmi hukumnya haram. Maka, cobalah untuk mendudukan perkara pada tempatnya, perbedaan sikap dalam pemilu ini sejatinya membuat kita semakin bijak, mengajak dalam rangka taat dan tak menyerah dalam mengajak debat yang sehat.



Masih Tentang Rohingya

Add Comment

“Anak-anak dibakar di depan ibunya” demikian judul berita di sebuah mediaonline yang saya baca pagi ini. Baiklah, mungkin datanya kurang valid, tapi bagaimana jika berita itu ditulis oleh beberapa media masa yang terverifikasi semisal Republika, atau media lokal di sana yang melihat faktanya secara langsung mengenai apa yang sesungguhnya terjadi? Bahwa saat ini muslim Rohingya tengah ditindas, bahwa ini dilakukan oleh teroris karena melakukan teror terutama kepada wanita dan anak-anak. Ups, saya lupa bahwa teroris hanya lekat dengan Islam, meski seringkali tak terbukti bahwa umat Islam pelakunya, pokoknya yowis Islam teroris yang lain bukan!
Rohingya…adalah kelompok muslim minoritas yang kurang seksi untuk dipublikasikan media internasional, saat ini mereka kembali mengalami intimidasi dan banyak yang meregang nyawa. Setidaknya 60 warga yang kebanyakan perempuan dan anak-anak tewas dengan kondisi yang menenaskan, mereka terbakar (baca:dibakar) oleh militer Myanmar dengan dalih memerangi muslim radikal yang nyatanya tak terbukti hingga saat ini. Bagaimana bisa disebut radikal, kalau untuk melindungi diri saja mereka sudah tidak sanggup. Benar-benar tuduhan yang mengada-ada. Saya jadi teringat empat tahun lalu, dimana Allah mempertemukan langsung dengan muslim Rohingya yang berhasil mendapatkan suaka ke Amerika. Tidak mudah, karena perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan. Begini kurang lebih ceritanya.
Berawal dari rekan saya yang kebetulan tinggal satu komplek, dan suaminya pengurus Masjid di Logan, ia mendapat kabar bahwa ada sekitar tiga puluh keluarga asal Myanmar (kami menyebutnya sister dan brother dari Birma) yang ternyata sudah dua tahun mendiami perumahan di kota Logan. Logan merupakan kota kecil yang masuk dalam wilayah negara bagian Utah, dengan Salt Lake City sebagai ibu kotanya.
Siang itu sebelum berangkat ke perumahan, beberapa pengurus Masjid berkumpul untuk mensortir makanan dan perlengkapan rumah yang layak pakai. Semua barang yang terkumpul merupakan sumbangan dari brother dan sister yang tinggal di Logan. Saya bersyukur, kepedulian sesama muslim cukup tinggi di kota ini, yang terpenting jangan bosan untuk saling menyapa, mengingatkan dan berbagi pengumuman jika salah satu keluarga ada yang membutuhkan bantuan.
Tibalah kami di perumahan yang dituju, Masya Allah!, saya seperti sedang berada di Asia Tenggara. Wajah-wajah Asia yang tidak asing bagi saya, dengan ramah namun menyiratkan tanda tanya, menyambut kami saat berada di depan komplek. Sayangnya, kebanyakan dari orang tua dan dewasanya tidak bisa berbahasa Inggris, namun Alhamdulillah ada anak-anak asal Birma ini yang sudah mahir berbahasa Inggris. Mereka pun menjadi guide kami selama kunjungan, dari satu rumah ke rumah yang lain.
Rumah yang saya kunjungi pertama kali memiliki tiga atau empat orang anak, dari semua anggota keluarga, hanya satu yang bisa bahasa Inggris. Seorang gadis manis, berperawakan kurus dengan lancar menjadi mediator antara kami dengan keluarganya. “Sudah lama di sini?, tanya salah satu pengurus Masjid, “Dua tahun”. Lalu dengan lancar, gadis manis ini bercerita bagaimana pengalamannya sampai ke sini. Konflik antar etnis yang berakibat pada pengusiran ribuan muslim Rohingya, telah terjadi berpuluh-puluh tahun lalu. Rumah yang di bakar, banyaknya keluarga yang mengungsi merupakan hal ‘biasa’ yang di alami keluarga gadis ini, dan akhirnya mereka pergi mengusngsi ke Thailand dan dari Thailand-lah mereka sampai ke Amerika.
Sungguh, mendapati kisah demikian dibarengi dengan kenyataan, bahwa hingga saat ini muslim Rohingya mengalami penderitaan yang tak ada habisnya, membuat hati saya bergetar, dan ingin rasanya memberikan dekapan erat pada gadis manis itu. Ditambah, hadirnya beberapa perempuan yang berusia lanjut, membawa saya pada konflik yang terjadi di Myanmar(Birma), yang masih terjadi hingga hari ini.
Siapa Muslim Rohingya sebenarnya?
Presentase muslim Rohingya sebesar dua pulu persen dari lima puluh lima juta penduduk Birma. Mereka merupakan penduduk asli di provinsi Arakan dan menjadi warga mayoritas di sana. Provinsi Arakan merupakan bagian dari negeri Islam pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid, pada abad ke-7 Masehi, dari provinsi Arakan inilah, Islam menyebar ke seluruh penjuru Birma.Raja Birma yang beragama Budha lalu menduduki Arakan, dan dari sinilah petaka terjadi. Muslim Rohingya banyak yang di kirim ke penjara, dibunuh, harta bendanya dihancurkan, yang berakibat pada banyaknya korban jiwa yang berjatuhan dan tidak sedikit dari mereka yang mengungsi.
Pada tahun 1937 Inggris menduduki provinsi Arakan dengan kekerasan dan menggabungkannya ke Birma, Inggris mempersenjatai Raja dan umat Budha, dan terjadilah pertikaian hingga kini. Penguasa militer semakin memperparah keadaan, harusnya menjadi penengah, malah mendiamkan ketika terjadi pertikaian antara muslim Rohingya dengan penduduk yang beragama Budha. Bahkan belakangan,pernyataan terbaru Presiden Myanmar Thein Sein bahwa Rohingya harus tinggal di negara ketiga semakin mebuat posisi muslim Rohingya terpojokkan dan semakin menambah kesedihan. Berharap pada Bagladesh juga mustahil mengingat pemerintah Bangladesh berencana memulangkan para pengungsi, apalagi berharap pada tokoh demokrasi, Suu Kyi. Bukannya membela dan mengambil sikap, malah terkesan dingin dan berlepas tangan.
Saya jadi ingat firman Allah dalam Qur’an Surat Al-Anfal yang mengatakan:” (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan“, dari sini saya mengajak kepada pembaca sekalian, mari kita bantu saudara-saudara kita, muslim Rohingya yang saat ini tengah menderita ketakutan, kekurangan dan kelaparan. Perhatian, materi, atau apapun yang bisa meringankan beban derita mereka, InsyaAllah akan menjadi penyejuk dipadang yang tandus. Namun saya tak lupa menyampaikan, bahwa bantuan dan perhatian tadi sejatinya bersifat sementara. Hanya pemimpin seperti Khalifah Harun Al-Rasyid lah yang mampu menyelamatkan muslim rohingya, dan muslim di negeri-negeri Islam yang saat ini tengah dilanda peperangan, penderitaan dan kelaparan. Doa, perhatian, berapapun rupiah yang kita punya, dan tetap berjuang mengembalikan kejayaan Islam, adalah langkah real yang bisa dilakukan, mari kita mulai sekarang!

Agar Anak Semangat Menyambut UAS

2 Comments


Pekan Ujian Akhir Semester atau yang lebih dikenal sebagai UAS saat ini masih berlangsung dan serempak di seluruh Indonesia. Biasanya jelang ujian, bukan hanya siswa yang sibuk menyiapkan segala sesuatunya, tapi para orang tua terutama yang anaknya masih duduk di sekolah dasar tak kalah heboh. Tak hanya di dunia nyata, jagat maya pun sesak dengan bahasan seputar UAS.

Ya, UAS kadang jadi momok yang mengerikan terutama orang tua yang anaknya masih susah untuk belajar. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang seolah tak terbendung, tak dipungkiri memberikan dampak terhadap motivasi belajar siswa. Ini yang terkadang membuat orang tua, khususnya ibu harus berjuang ekstra agar ananda mau belajar, at least mereview pelajaran yang sudah diberikan guru di sekolah.

Memang tak mudah ya bun, tapi jika kita ingat bahwa pendidikan anak tak hanya menjadi tanggungjawab sekolah, namun orang tua juga dituntut untuk berpartisipasi aktif, maka tak salah jika banyak cara yang dilakukan agar anak mau belajar. Agar anak semangat menyambut UAS, kita bias melakukan beberapa hal berikut.

1. Menanamkan Motivasi Sejak Dini

Motivasi yang dimaksud adalah menanamkan pemahaman kepada anak bahwa belajar merupakan bentuk tanggungjawabnya kepada Tuhan, dan belajar merupakan aktivitas yang menjadi satu diantara banyak bekal untuk hidupnya di akhirat kelak. Kapan penanaman ini diberikan? Saat anak masuk usia tamyiz (usia 6 tahun ke atas) atau indikasinya jika anak sudah bisa membedakan mana yang benar, dan mana yang salah menurut pandangan agama.

2. Membuat Kesepakatan Bersama 
Sepekan sebelum UAS, kita bisa libatkan anak untuk membuat aturan yang disepakati bersama. Misalnya selama UAS tidak boleh main game, atau boleh main ke luar asal tak berlama-lama. Inti dari adanya aturan adalah adanya kesepakatan dari semua pihak, jika melanggar ada konseksensi yang harus dijalani.

3. Berikan Reward 
Tabiat anak biasanya sangat suka jika dihargai, maka berikanlah reward jika anak sudah belajar. Tak harus dengan hadiah yang mahal, dengan mengajaknya makan cilok kesukaan, anak sudah senang, yang penting adalah anak tahu bahwa perjuangannya sudah dihargai.

4. Jangan Menuntut Anak Menjadi Juara
Dalam teori pendidikan, mendidik adalah memanusiakan manusia. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka target kita sebagai orang tua adalah mengawal anak agar potensi mereka terus berkembang dan menjadi anak yang bertakwa. Bukan menjadi anak yang selalu menjadi juara, nilainya di atas rata-rata dan pulang dengan membawa piala.

5. Doa Ya, doa adalah hal terakhir yang tak boleh dilupa. Sebesar apapun upaya kita sebagai orang tua, hasilnya tetap di tangan Yang Kuasa.

Menghapus Jejak Digital, Perlukah?

Add Comment

Tulisan kali ini, masih dalam rangkaian Collaborative Blogging yang mengangkat topik seputar dunia digital, dan dishare di web Emak2 Blogger dengan judul Menghapus Jejak Digital, Seberapa Pentingkah?. Kebetulan tema ini sangat pas dengan apa yang baru-baru ini saya alami. Ceritanya begini...

Sabtu adalah jadwal anak-anak, khususnya si sulung Olil bermain laptop, well, tepatnya main game online. Game yang biasa dia mainkan selalu update di YouTube, jadilah tiap mo main game dia selalu nonton YouTube dulu. Buka YouTube berarti buka home dulu dong ya, fatalnya saya lupa delete hasil searchingan semalam, gak neko-neko siy, cuma tayangan ulang perdebatan tentang bahaya pornografi, namun saya lupa menyeting restricted mode untuk dinyalakan.

Yasudah, akhirnya munculah gambar-gambar yang linked dengan tema seputar pornografi. Tidak ada yang seram siy, cuma tetap saja meski judulnya berita namun thumbnailnya ya ada unsur pornonya juga. 

Sejak itu, tiap kali selesai browsing berita kekinian, bahkan update Facebook sekalipun, selalu saya delete history di laptop maupun di HP. Segitunya ya? Biarin dech, yang penting anak tidak terpapar konten negatif yang belum waktunya dia tahu, atau kepo dengan beranda Facebook kita yang isinya kadang perlu penjelasan ketika yang lihat adalah anak yang masuk usia tamyiz, alias usia kritis saat anak sudah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

jadi, kalau ditanya perlukah kita menghapus jejak digital? Perluuu...kalau kita bicara soal konten dan dampaknya ke anak-anak. Lantas, untuk history di akun-akun medsos semisal Facebook dan instagram, gimana? Kalo saya, ndak perlu, dengan syarat anak-anak tidak ada izin untuk mengakses akun-akun medsos kita. 

Plus, rajin-rajin logout setelah login di PC maupun via HP kalau saya, kenapa? Ngeri aja kalau-kalau tiba2 laptop dan HP saya dicuri, tapi semoga nggak, Naudzubillah Min dzalika kalo sampai beneran kecurian. He he..Parno banget ya kesannya. Yawdah, biar tidak parno beberapa tips berikut bisa dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

1. Sebelum mengizinkan anak mengakses gadget, cek dulu histornya. Kalau sudah aman baru kita persilakan.

2. Tetap dampingi anak, minimal cek sambil lalu namun tetap diawasi. Tapi jangan terus-terusan juga ngawasinya, nanti anak jadi merasa tidak dihargai, terutama dari sisi kepercayaan kita terhadapnya.

3. Rajin ganti password,meski jangan keseringan juga nanti malah lupa pasword sendiri.

4. Luruskan niat, bahwa jejak digital yang kita hapus memang untuk kebaikan, bukan cheating dari suami, sehabis stalking akun orang, terutama lawan jenis yang kita tak punya kepentingan. Jaman sekarang, dunia digital seperti pisau bermata dua, semoga kita semakin bijak menggunakannya.



Selektif Memilih Grup WhatsApp

8 Comments

Grup Whatsap kok musti diseleksi sich? Buat saya, itu hal wajib sebelum memutuskan minta gabung atau mengiyakan ketika diajak gabung. Merespon tulisannya Mak Adelina yang membahas lengkap soal grup Whatsap ini, jadi makin menguatkan saya untuk selektif bergabung di sebuah grup. Alasannya selain menjaga stabilitas handphone saya yang gampang nge-hang, kebanyakan grup membuat saya larut hingga lupa dunia nyata. 

Lantas, grup seperti apa yang membuat saya bertahan untuk tetap berada di dalamnya? Pertama, grup wali murid sekolah anak, ini penting karena banyak sekali informasi yang bisa kita dapat. Ditambah, kita bisa saling kenal antar sesama orang tua murid, tahu kabar satu sama lain dan bisa sharing mengenai perkembangan anak di kelas. Grup kedua adalah grup keluarga, entah itu keluarga besar dari bapak, maupun keluarga besar ibu. Tak lupa, keluarga besar saya yang di dalamnya ada bapak, ibu dan saudara-saudara kandung, padahal rumah kami berdekatan tapi terasa sangat besar manfaatnya ketika kami suatu saat saling berjauhan, atau satu dari kami sedang melakukan perjalanan. Ketiga adalah grup komunitas, misalnya komunitas menulis yang sifatnya sementara atau seperti yang digagas Emak-emak Blogger dengan Collaborative Bloggingnya, atau grup Khataman Al-Qur'an, keywordnya adalah ada ilmu yang bisa saya peroleh dari grup komunitas ini. Keempat adalah grup yang bersifat sementara semisal grup kepanitian seminar parenting, kepanitiaan kenaikan kelas sekolah, pokoknya yang sifatnya temporal dan akan dihapus jika acaranya sudah selesai. 

Sedangkan grup yang membuat saya tidak betah, ternyata banyak juga. Diantaranya adalah grup yang bikin handphone saya sering hang dan cepat panas, penyebabnya karena banyaknya notif hingga ribuan dalam hitungan menit. Kalau sudah begini, saya pamit dan mundur teratur. Grup lainnya adalah grup alumni yang isi bahasannya gak penting, bahkan cenderung membangkitkan masa lalu semisal CLBK. Bukan apa-apa, bagi mereka yang sudah menikah ini akan menjadi sumber petaka jika kita tak pandai untuk menempatkan diri, coba saja kita tanyakan pada diri sendiri jika tetiba sang 'mantan' atau jaman SMA orang yang kita kagumi tiba-tiba menyapa di personal roomchat, kalopun gak sampe deg-degan, minimal keringetan kan? 

Grup lain yang sudah pasti saya tinggalkan adalah grup jualan, maaf-maaf niy yaa. Bukan apa-apa, saya termasuk yang gampang tergoda dengan barang- barang semisal kerudung, gamis, panci dan lainnya. Daripada tak kuat menanggung beban syahwat, lebih baik tutup mata lalu pamit sambil mengusap air mata tanda tak rela. 

Nah, itu sekelumit kisah mengenai dunia per-WhatsApp an yang saya alami beberapa tahun terakhir ini. Yup, teknologi yang semakin canggih bagai pisau bermata dua, kalau kita tak pandai-pandai menjaga, tentu akan binasa. Semoga kita semakin bijaksana, karena kita sudah emak-emak yang tak lagi muda.






Bekal Sekolah yang Halal dan Thayib

Add Comment

Menjadi istri, ibu dan anak dari ayah kita adalah sebuah anugrah dan memberikan yang terbaik untuk keluarga adalah sebuah pilihan yang pastinya nanti kan dipertanggungjawabkan. Termasuk dalam hal ini adalah soal makanan. Tahun ajaran baru ini bisa jadi adalah tahun tersibuk saya sebagai ibu terutama dipagi hari, ini karena abang O tak mau lagi ikutan katering di sekolah. Awalnya agak panik juga karena berarti setiap jam 5 pagi saya harus ke warung, lalu masak dan jam 6.15 semuanya harus sudah matang dan siap dibawa abang O ke sekolah.

Dua hal yang saya lakukan ketika memutuskan untuk membuat bekal makanan, pertama senantiasa memperhatikan standar makanan untuk keluarga yaitu musti halal dan thayib. Kedua, mencari resep-resep pilihan agar tidak bosan tentunya. Untuk resep, sudah banyak di internet dan toko-toko buku, kita tinggal memilih mana yang cocok dengan selera keluarga. Nah, untuk urusan makanan halal dan thayib ini yang gampang-gampang susah.

Dulu waktu di Logan, karena muslimnya minoritas maka saya harus nyetok daging dan ayam yang disembelih secara Islam. Setiap bulan ada sister yang datang dari ibu kota Utah, membawakan 6 ekor ayam beku plus groundbeef untuk persiapan masak sebulan. Dari sisi hahal sudah aman, tapi dari sisi thayib sebenarnya saya agak kurang sreg saat itu. Kenapa, ya karena pastinya beda kualitas daging beku dengan daging fresh. Kenapa thayib ini perlu jadi perhatian khusus, karena dalam Al-Qur'an juga disebutkan," maka makanlah makanan yang halal lagi thoyyib(baik) dari rizki yang telah Allah berikan kepadamu dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya menyembah kepadaNya””. (TQS An Nahl;114). Thayib di sini bermakna baik, tidak berbahaya bagi tubuh, akal pikiran dan urat syaraf manusia.

Semenjak pulang ke Indonesia, saya sedikit lega karena makanan halal dan thayib cukup mudah di dapat. Ikan, ayam dan daging pun beraneka rupa dan harganya juga cukup terjangkau, meski belakangan para ibu ketar ketir dengan isu sapi gelondongan, ayam tiren, makanan dengan pewarna tekstil, bakso celeng yang bikin geleng-geleng, hiks..sungguh menyesakkan.

Kalau sudah begini, kita sebagai orang tua dituntut untuk selalu waspada dan semakin mengencangkan ikat kepala, plus koyok cabe kali ya? untuk makanan halal dna thayib ini memang bukan hal sepele, pemilihan makanan berkualitas baik, komposisi gizi yang seimbang, tidak mengancam kesehatan dan tentu saja berstatus halal sejatinya menjadi concern kita semua duhai para ibu. Kalau semuanya sudah kita optimalkan, tinggal banyak-banyak berdoa agar apa yang kita sudah lakukan dicatat sebagai amalan yang tidak sia-sia.

Faktor lainnya sebenarnya adalah peran negara. Jaminan makanan halal dan thayib menjadi tugas negara untuk selalu menjaga ketersediaannya, selain itu paradigma agama terkait produk makanan haram telah menetapkan bahwa bahan pangan maupun makanan yang tidak halal bukan merupakan barang ekonomi, sehingga tidak layak untuk beredar di pasar-pasar. Maka negara yang bertanggungjawab terhadap rakyat harusnya tidak abai dan ketat dalam mengawasi peredaran makanan di pasar-pasar, begitu kurang lebih pandangan Islam terkait makanan halal dan thayib yang bersifat solutif secara sistem.  Sambil meracik menu ayam bumbu ungkep bawang putih, kangkung bumbu saus tiram, dan sosis sambal ramah lidah, saya senantiasa bergumam semoga negara semakin sadar dan bertanggungjawab terhadap ketersediaan jaminan makanan halal, dan semoga abang O suka dengan bekalnya hari ini.